
Mentari menatap kagum rumah mewah tersebut. Rumah ini tak kalah megah dari rumah Divta memiliki fasilitas lengkap.
"Jeng Melly," sapa seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan Melly dan keluarganya.
"Eh Jeng Dona," balas Melly.
Kedua wanita sosialita itu saling berpelukan hangat satu sama lain. Ibu-ibu arisan yang sering menghabiskan waktu hanya untuk membahas berlian atau barang-barang mahal.
"Perkenalkan ini anak saya, Jeng. Divta Tarumanegara," ucap Melly memperkenalkan Divta.
"Selamat malam Tante, saya Divta," sambut Divta sambil menyalami punggung tangan Dona.
"Salam kenal ya, Nak. Selamat datang di rumah kami," balas Dona yang kagum pada wajah tampan Divta.
"Ini kedua cucu saya, Jeng. Al dan El," ucap Melly juga memperkenalkan kedua cucu kembarnya.
"Wah mereka lucu sekali, Jeng," sahut Dona dengan gemes mencubit pipi Al dan El secara bergantian.
"Jangan pegang-pegang wajah, Al!" hardik Al tidak suka.
"Al, tidak boleh begitu," tegur Melly yang tidak suka mendengar cucunya berbicara seperti itu.
"Tidak apa-apa, Jeng," timpal Dona. Lalu tatapan wanita itu tertuju pada Mentari yang menggandeng tangan kedua anak kembar tersebut.
"Ini siapa?" tanyanya tersenyum lembut pada Mentari.
"Say_"
"Ini Tari, Jeng. Anak pembantu di rumah saya," potong Melly dengan cepat.
Mentari mengangguk dan tersenyum kikuk. Jarinya mengenggam kuat tangan Al dan El, ada perasaan tak nyaman yang di rasakan oleh gadis cantik tersebut.
"Oh begitu, salah kenal, Tari. Selamat datang di rumah kami," sambut Dona menyalami Mentari.
"Terima kasih, Nyonya," balas Mentari menyambut uluran tangan wanita paruh baya tersebut.
"Ayo duduk," ajak Dona.
Mereka duduk di sofa ruang tamu. Tampak menu sudah tersedia di sana.
"Oh ya di mana Audrey, Jeng?" tanya Melly yang tidak melihat wajah wanita yang akan di kenalkan pada Divta itu.
__ADS_1
"Masih siap-siap, Jeng. Maklum anak perempuan," sahut Dona.
Mentari diam saja sambil memperhatikan rumah mewah tersebut. Dia berandai-andai memiliki rumah sebesar dan sebagus ini. Apalagi tinggal bersama orang tua lengkap pasti akan sangat bahagia. Tetapi apalah daya, dia bahkan tidak terlalu mengenal wajah ayahnya.
"Apa kau merasa tidak nyaman?" bisik Divta sehingga membuat gadis itu berjingkrak kaget.
"Tidak, Pak," kilah Divta.
Melly menatap tak suka pada anaknya yang sepertinya begitu peduli pada Mentari. Sejak awal dia memiliki rasa curiga melihat kedekatan dua manusia berbeda jenis kelamin dan generasi tersebut. Bagaimanapun, Divta adalah pria normal yang sudah lama hidup menduda. Sedangkan Mentari gadis yang beranjak dewasa, jika terlalu sering bersama mustahil perasaan itu tidak tumbuh. Melly hanya tidak mau terjadi sesuatu yang tidak di inginkan nantinya.
Tidak lama kemudian datang seorang wanita cantik dengan gaun selutut berwarna merah menyala. Rambutnya panjang dan bergelombang. Kulit putih dan tubuh yang tinggi. Dia adalah Dokter Audrey.
"Selamat malam semua," sapanya dengan suara lembut yang seolah tak bisa marah.
"Malam," balas Melly dan Dona.
"Wah apakah ini yang namanya Audrey?" tanya Melly terkagum-kagum melihat kecantikan wanita tersebut. Bodoh jika Divta menolak pesona Audrey yang mirip model papan atas tersebut.
"Iya Tante, Audrey," ucapnya memperkenalkan diri sambil menyalami tangan Melly.
"Kau cantik sekali, Nak," puji Melly memberikan pelukan hangat pada Audrey.
"Tante bisa saja." Audrey tersenyum malu.
Audrey melihat Divta, wanita itu terpesona dengan wajah tampan Divta. Tak masalah jika lelaki ini berstatus duda yang penting menarik perhatian dan pas di hatinya. Sedangkan Divta menampilkan wajah datarnya. Sama sekali dia tidak tertarik dengan wajah cantik Audrey.
"Audrey."
"Divta."
Berbeda dengan Mentari yang tak berkedip menatap kecantikan Audrey. Di bandingkan dari sisi manapun, dia sama sekali tdiak sebanding dengan wanita yang ada di depannya ini. Tetapi kenapa hatinya sakit ketika melihat Divta bersalaman dengan Audrey. Gadis itu berusaha menepis semua perasaannya dan dia tidak aku terjebak dalam perasaan yang menyakitkan.
"Selamat malam semua," sapa seorang pria berjalan menghampiri mereka.
"Malam."
"Eh, Tari," sapa Rein.
"Kak Rein," balas Tari.
"Lho, kalian saling kenal?" tanya Dona melihat kedua orang itu secara bergantian.
__ADS_1
"Iya, Ma. Tari ini senior di kampusku," jelas Rein sambil tersenyum hangat.
Wajah Divta langsung berubah masam. Dia menatap tak suka ketika Mentari berdiri menyambut kedatangan Rein.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita makan malam dulu?" ajak Dona
Mereka menuju meja makan. Rein terus menatap Mentari dengan kagum, malam ini gadis pujaannya terlihat cantik dengan pakaian sederhana yang dia pakai.
"Mama, Al mau di suapin," pinta Al.
"El juga, Ma," sambung El.
Mereka semua menatap kearah Mentari dan heran karena kedua bocah kembar itu memanggil Mentari dengan panggilan mama.
"Hem, jangan salah paham. Al dan Al sangat dekat dengan Tari dan menganggap Tari seperti Mama-nya sendiri," jelas Melly yang takut salah paham apalagi melihat tatapan bingung dari wajah-wajah yang ada di meja makan.
"Oh begitu," sahut Dona. "Saya pikir Divta dan Tari ada hubungan," sambung Dona.
"Tidak mungkin, Jeng. Tari ini hanya anak pembantu. Mana mungkin cocok bersanding dengan Divta. Divta pantasnya dengan Audrey," jelas Melly tersenyum simpul seolah ucapannya tidak melukai perasaan orang lain.
Mentari meremes sendoknya dengan kuat. Pipinya seketika panas menahan lelehan bening yang seolah ingin lolos dari pelupuk matanya.
Tatapan Divta dan Rein tak beralih dari Mentari yang menunduk saja. Keduanya seperti bisa membaca pikiran gadis tersebut yang merasa tersinggung dengan ucapan Melly.
"Ayo, lanjutkan makan," ajak Rein ketika suasana tiba-tiba canggung.
Divta benar-benar merasa tak enak dengan ucapan ibunya. Andai saja mereka berada di rumah, sudah pasti dia akan berdebat dengan ibu-nya itu.
"Tari, silakan di makan ya, Nak. Jangan malu-malu. Anggap saja rumah sendiri," ucap Dona. Dia kasihan melihat gadis itu. Mentari adalah anak baik yang tak seharusnya di perlakuan kasar.
"Terima kasih, Nyonya," balas Mentari dengan memaksakan senyum.
Mereka kembali melanjutkan makan. Dona dan suaminya berpisah karena lelaki itu menikah lagi. Tetapi untuk harta warisan, semuanya tercukupi walau tak bisa hidup bersama. Termasuk sekolah anak-anaknya yang di tanggung oleh mantan suaminya.
"Tari, tambah lagi." Rein menambahkan beberapa potong ayam bakar madu di piring gadis itu.
"Terima kasih, Kak," ucap Mentari.
"Tidak perlu berterima kasih," sahut Rein.
Divta merenggut kesal. Entahlah, dia tidak suka melihat Rein yang perhatian pada Mentari.
__ADS_1
'Jadi ini laki-laki yang akan di kenalkan pada Kakak? Dia pernah mengaku sebagai calon suami Tari! Tak kusangka dia hanya seorang duda yang kehilangan istrinya. Lihat saja nanti, aku tidak akan melepaskan Tari untuknya. Tari itu milikku,' batin Rein tersenyum kearah Mentari.
Bersambung....