
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
Diandra POV.
Aku tak tahu kemana harus melangkah. Semua jalan yang lewati berduri tajam hingga membuat kaki ku luka. Aku ingin berhenti, tetapi apa aku akan tetap disini selamanya? Aku mencoba mencari jalan lain. Namun, kenyataan nya semua tak semudah yang ku bayangkan. Tidak ada jalan yang mudah, semua perlu resiko.
Jika bisa memilih, aku ingin kembali di beberapa tahun yang lalu. Di mana kami masih bahagia, berkumpul berempat dalam rumah yang hangat dan nyaman. Perdebatan Nara dan Naro menjadi penghangat di kala lelah menyerang, saat mereka berebut ayam rica-rica buatanku. Aku rindu, di mana malam memeluk raga berselimut asmara. Kehangatan tubuh Mas Galvin seperti menjadi sentruman listrik yang menyentrum seluruh sukma. Lampu kamar yang temaram, seolah menjadi saksi bisu disaat kami memadu kasih setiap malam. Hangat, nyaman dan aman. Aku rindu suasana itu.
Aku rindu kesibukan ku setiap pagi yang hanya menyiapkan pakaian suamiku serta membantu kedua anakku mengenakan seragam sekolahnya. Lalu aku membuatkan sarapan pagi kesukaan mereka. Aku rindu, saat suami ku gajian. Maka disanalah aku akan memberikan laporan keuangan padanya, mencatat semua uang masuk dan keluar. Suamiku tak pernah komplen, dan bahkan memberiku uang lebih untuk perawatan yang terkadang aku gunakan untuk tabungan anak-anak.
Namun, semua itu telah berlalu pergi bersama kenangan yang enggan kembali. Ketika Mas Galvin memilih memasukkan orang ketiga dalam rumah tangga kami. Semua hancur berkeping-keping. Kepercayaan yang dulu ku sematkan padanya lenyap entah kemana. Bangunan cinta yang kami bangun dengan susah payah, seketika runtuh bersama tanah. Kebahagiaan yang ku ukir sedemikian rupa pun tak berbentuk lagi.
"Kamu yang kuat ya, Nak," ucap Ibu mengusap bahu ku.
Aku mengangguk dan memaksakan senyum. Sekalipun ada seribu manusia mengatakan hal yang sama tetaplah aku bukan wanita kuat. Setelah ini, aku benar-benar akan kehilangan hidup yang ku perjuangkan dengan susah payah.
Keputusan Mas Galvin mendonorkan jantungnya untuk Nara, bukan hal yang ku inginkan. Aku memang marah, kecewa dan bahkan benci padanya. Namun, bagaimanapun dia adalah ayah dari kedua anakku. Dia adalah pria yang pernah menghabiskan malam-malam hangat diatas ranjang bersama ku.
"Sabar ya, Ra," ucap Henny juga menenangkan ku.
Saat ini aku duduk dibangku tunggu ruang operasi. Didalam ada Nara dan Mas Galvin yang tengah berjuang melawan kematian. Nara akan tetap bertahan hidup mungkin puluhan tahun lagi. Sedangkan Mas Galvin, akan hilang dari permukaan bumi serta menghilang selamanya dari hidupku.
__ADS_1
"Maafkan aku, Mas," lirih ku.
Pelukkan terakhir Mas Galvin masih hangat ditubuh ku. Kenapa sekarang aku seperti tak ingin kehilangan pelukkan nyaman tersebut? Pelukkan itu takkan bisa aku rasakan lagi, sekalipun dunia terbalik lima ratus juta kali. Bolehkah aku meminta Tuhan mengulang waktu? Aku ingin kembali ke masa lalu. Di mana semuanya masih baik-baik saja. Aku masih menjadi seorang ibu yang bahagia mengambil kesibukan mengurus suami dan anak.
Aku menatap ruangan operasi. Sudah berjalan beberapa jam, tetapi dokter belum juga keluar dari ruangan. Aku khawatir bagaimana kondisi Nara. Namun, disisi lain aku juga tak sanggup harus melihat wajah Mas Galvin untuk terakhir kalinya.
"Ra."
Aku menoleh, kulihat Divta datang dengan menenteng kantong kresek ditangannya. Entah apa lagi mau lelaki ini, aku sudah lelah mengusir Divta. Aku tak peduli lagi, jika Chelsea datang dan mengancam kami. Aku takkan diam saja. Aku akan lawan. Aku bukan perempuan lemah yang seenaknya bisa di permainkan orang lain.
"Ra, kamu makan dulu yaa. Dari kemarin kamu belum makan," ucap Divta.
Bagaimana bisa aku nafsu makan jika nasi saja terasa pahit ku telan? Aku memikirkan makanan yang ada dikepalaku hanya Mas Galvin dan Nara. Aku tak bisa bayangkan, bagaimana reaksi putri ku ketika tahu bahwa Papa kesayangan nya telah pergi untuk selamanya.
"Iya Ra, kamu harus makan. Kalau kamu tidak makan nanti kamu sakit. Kalau kamu sakit siapa yang akan menjaga Nara dan Naro," ucap Mira juga ikut menimpali.
"Aku belum lapar Mir," jawabku lemah.
"Nak, makanlah. Kesehatan kamu jauh lebih penting. Nara akan baik-baik saja," sambung Ayah.
Aku menatap ayah dengan sendu. Aku, aku hanya seorang ibu yang takut kehilangan anaknya. Aku tak bisa, apapun ku makan rasanya tak bisa masuk.
"Sedikit saja," ucap Mira.
Mira mengambil kantong dari tangan Divta, lalu membukanya. Divta membelikan makanan kesukaan ku. Dia masih ingat jika aku suka makanan ini sejak zaman sekolah dulu.
__ADS_1
Mau tak mau aku harus makan, walau sebenarnya untuk menelan nasi aku merasa tak memiliki tenaga. Aku makan seraya bersimbah air mata. Pikiranku terbang melayang entah kemana.
"Makan yang banyak supaya kamu kuat," ucap Mira sambil menyuapi ku.
Sementara Naro sedang sekolah dan diantar oleh Zenia. Aku bersyukur Naro mengerti dengan keadaan, dia tidak merenggek ini dan itu.
Lampu operasi mati, menandakan bahwa operasi telah selesai. Segera aku berdiri dari duduk ku dan berjalan menghampiri Dokter Aldy.
"Dokter, bagaimana operasi nya?" tanya ku tak sabar.
"Operasi nya berjalan dengan lancar Bu. Jantung Pak Galvin sangat cocok dengan jantung Nara," jelas Dokter Aldy.
Harusnya aku bahagia dan senang karena Nara akan sembuh. Tetapi kenapa aku merasa kekosongan didalam jiwa ku. Aku bisa mempertahankan Nara tetapi aku tidak bisa mencegah kepergian Mas Galvin.
"Lalu Mas Galvin?" tanya ku pelan. Kurasakan usapan hangat di bahuku. Sentuhan Ibu selalu membuatku merasa nyaman dan terlindungi.
Dokter menggeleng, bukankah aku sudah tahu bahwa tak perlu menanyakan keadaan Mas Galvin? Namun, entah aku masih berharap Mas Galvin bertahan hidup. Bodohnya aku tak bisa berpikir, bagaimana bisa orang hidup tanpa jantung. Jantung adalah bagian pernafasan paling penting dalam tubuh manusia.
"Kamu harus ikhlas, Ra," ucap Mira.
"Iya Ra, ini adalah pilihan Mas Galvin. Kamu jangan merasa bersalah," ucap Hanya juga menimpali.
Aku tak dapat berkata apa-apa, tarikan lembut dari tangan Ibu seolah menarik ku masuk kedalam dunia lain. Ku rasakan sentuhan hangat dipunggung. Sentuhan dari wanita yang sudah melahirkan ku dengan mempertaruhkan nyawanya. Tetapi aku belum bisa membuat Ibu bahagia.
"Ini adalah takdir yang harus kamu lewati. Serahkan sepenuh nya kepada Tuhan. Kuatlah demi Nara dan Naro. Mungkin setelah ini kamu perlu bersiap-siap, untuk menghadapi kenyataan yang lain," ucap Ibu lembut.
__ADS_1
Aku tak dapat mengeluarkan kata. Air mata yang menetes seolah menandakan bahwa kini, aku manusia paling berdosa.
Bersambung...