Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 04. Chapter 11.


__ADS_3

Jika Ariana tidak mengatakan apapun pada Galaksi kenapa dia bisa sampai bertanya hal seperti itu? Serta meminta aku menjauhi Ariana.


"Argh!"


Kulempar semua barang yang ada di atas meja rias ini. Entah kenapa aku takut jika orang tahu apa yang sudah aku lakukan pada Ariana? Aku tidak mau ada yang tahu, apalagi Daddy dan Mama.


"Awas saja kamu, Arin. Aku akan buat perhitungan sama kamu." Aku memukul kuat mejaku, untung saja terbuat dari kayu jati permanen sehingga tidak rusak.


"Naro."


Aku menoleh kearah pintu masuk ruanganku.


"Kakak."


Apa yang Kak Nara lakukan di sini? Tidak biasanya dia datang ke perusahaanku jika tidak ada hal penting yang ingin dia bicarakan.


Kak Nara berjalan masuk bersama Angkasa yang berusia 3 tahun. Wajah Angkasa sangat mirip dengan Mas Bintang ketika kecil. Sifat cuek dan dingin juga sudah terlihat walau usianya masih sangat belia.


"Ayo, Kak. Duduk!" ajakku.


"Terima kasih, Naro," ucap Nara duduk di sofa.


"Hai kesayangan, Om," sapaku pada Angkasa.


"Selamat siang Om Nalo," balas Angkasa.


Aku terkekeh pelan lalu mengusap kepala keponakan kecilku ini. Kenapa aku tiba-tiba membayangkan memiliki anak seperti Kak Nara?


"Ini Kakak bawakan makan siang buat kamu. Kamu belum makan 'kan?" Kak Nara meletakan rantang nasi di atas meja makan.


"Terima kasih, Kak. Kebetulan Naro belum makan," ucapku mengambil rantang.


"Iya sudah kamu makan dulu," ucap Kak Nara memangku Angkasa.


Aku segera melahap makanan yang di bawa Kak Nara. Masakan Kak Nara memang selalu terbaik sama dengan Mama. Aku selalu candu bila makan masakan mereka yang benar-benar pas di lidah.


"Makan yang kenyang. Kamu itu sudah kurus," ucap Kak Nara terkekeh.


"Hem, iya, Kak."

__ADS_1


Kadang Tata yang membawakan aku makanan di sini. Namun, setelah menikah aku tak pernah lagi mendapat perlakuan seperti itu karena keluargaku menganggap bahwa aku sudah bahagia dengan istriku.


Aku menyelesaikan makanku dengan cepat. Kebetulan aku memang tidak sarapan pagi. Sarapan yang di buat oleh Ariana sama sekali tak aku lirik. Rasanya aku tak sudi makan masakan dari tangan seorang pelacur.


"Tumben Kakak datang ke sini?" tanyaku sambil mengelap mulut dengan tissue.


"Kakak ke sini mau mengajak kamu beli baju bayi untuk anak Arin," jawab Kak Nara.


"Beli baju bayi?" ulangku sekali lagi takut salah dengar.


"Iya, Naro. Setelah ini kita jemput Arin ya?" pinta Kak Nara.


Dalam hidupku aku tak pernah terbayang membeli baju bayi apalagi untuk anak yang sama sekali tidak mengalir darahku di tubuhnya. Kak Nara yang benar saja? Apa dia tahu jika aku benar-benar tak bahagia dengan pernikahan ini?


"Kak, Naro lagi banyak pekerjaan. Sepertinya Naro tidak bisa ikut," tolakku halus. Aku selalu tak bisa kasar dengan kakakku ini, bagiku dia sama saja seperti Mama yang sangat aku hormati.


"Tidak bisa begitu, Naro. Kamu serahkan dulu pekerjaan kamu sama Ben," saran Kak Nara.


Aku menghela napas panjang lalu kuhembuskan perlahan. Kalau sudah Kak Nara yang minta, aku mana bisa menolak dan selalu luluh dengan sikapnya yang membuat hatiku berdenyut-denyut.


"Iya sudah, Kak." Aku mengalah daripada berdebat panjang dengan mereka.


"Ayo!" ajak Kak Nara.


"Iya, Om."


Aku mengangkat tubuh Angkasa. Dia memang sangat manja padaku. Sifat kami tak jauh beda bahkan saat melihat Angkasa aku bisa kembali ke masa kecilku.


Kami keluar dari ruangan. Tumben tidak ada Mas Bintang, biasanya di mana ada Kak Nara di situ ada Mas Bintang.


"Mas Bintang mana, Kak? Tumben tidak ikut Kakak?" tanyaku.


"Mas-mu lagi ada urusan proyek rumah sakit yang baru. Nanti Auny yang akan kembangkan rumah sakit itu," jelas Kak Nara.


Aku manggut-manggut paham sampai masuk ke dalam mobil. Walau memiliki asisten pribadi, aku lebih suka menyetir sendiri.


"Arin ada di rumah 'kan?" tanya Kak Nara.


Aku terdiam, mana aku tahu jika Ariana ada di rumah. Pagi tadi aku berangkat tidak berpamitan padanya.

__ADS_1


"Mungkin, Kak," jawabku.


Semoga saja Ariana benar-benar ada di rumah. Kalau dia tidak ada di rumah, apa yang harus aku katakan pada Kak Nara. Pasti ketahuan selama ini jika hubungan kami tak pernah baik-baik saja.


"Iya sudah, kita langsung ke BabyShop nanti kamu telepon Arin supaya menyusul ya," ucap Kak Nara lagi.


Aku langsung kikuk. Bagaimana cara aku menelepon Ariana? Aku saja tidak memiliki nomor ponsel istriku itu.


"Kakak telepon saja langsung. Ponsel Naro ketinggalan di ruangan," ucapku menyangkal. Untungnya ponselku memang tertinggal jadi bisa saja untukku jadikan alasan menolak agar tak menelepon Ariana.


"Iya sudah, biar Kakak telepon."


Aku menghela napas lega saat Kak Nara mau menelepon Ariana. Tak bisa ku bayangkan bagaimana perasaan perempuan itu jika aku meneleponnya. Bisa-bisa dia baper sendiri dan beranggapan jika aku ingin meminta maaf atas apa yang aku lakukan tadi malam.


"Bagaimana, Kak?" tanyaku. Semoga saja Ariana menolak, aku tak sanggup melihat wajah wanita itu. Sudah cukup aku di buat bosan setiap hari saat melihat wajahnya di rumah.


"Iya, Arin menyusul katanya," jawab Kak Nara.


Aku manggut-manggut dan sedikit lega. Syukur saja Kak Nara tidak curiga dengan masalah rumah tangga kami. Aku tak mau orang lain mengetahui apa yang aku dan Ariana jalani.


"Bagaimana hubungan kamu dan Arin?" tanya Kak Nara.


Sudah kuduga Kak Nara pasti akan menanyakan hal ini.


"Kami baik-baik saja, Kak," jawabku.


Andai Kak Nara tahu bahwa hubungan rumah tangga yang kami jalani tak baik-baik saja.


"Maafkan Kakak ya. Kakak sudah memaksa kamu menikahi Arin." Kak Nara menghela napasnya panjang.


Aku terdiam. Walau ada rasa marah dan kecewa yang menggembang di dalam dadaku tetapi aku berusaha menahannya, aku tak mau gegabah. Biarlah semua mengalir seperti air mengalir. Aku tak mau Mama dan Kaka Nara kecewa.


"Arin itu wanita yang baik. Walaupun kamu bukan ayah kandung dari bayinya. Kakak harap kamu bisa menerima Arin dengan baik," ucap Kak Nara lagi.


Andai semudah itu aku pasti takkan memberontak seperti ini. Laki-laki mana yang ikhlas menjadi ayah dari bayi yang bahkan dia tidak tahu sama sekali kehadirannya. Aku juga tak rela harus menikahi wanita bekas pria lain, walau lelaki itu kakakku sendiri.


"Kamu hanya perlu waktu buat menerima Arin. Kakak tahu ini berat buat kamu tapi kakak juga tahu kalau kamu juga bisa." Kak Nara mengusap bahuku.


Aku memaksakan senyum dan mengangguk saja. Walau dalam hati aku benci kata-kata itu.

__ADS_1


"Angga memang memilih kamu untuk menikahi, Arin."


Bersambung...


__ADS_2