Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 04. Chapter 14.


__ADS_3

Aku berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai dan lelah seraya melonggarkan dasi yang terasa mencekik leherku. Setelah pulang dari rumah Daddy dan Mama aku mendapat ceramah dari keduanya.


Bahagia? Rasanya aku ingin tertawa ketika mendengar kata tersebut. Aku tidak pernah bahagia. Bagaimana bisa aku bahagia jika menikah dengan perempuan yang sama sekali tidak aku cintai.


"Kamu sudah pulang, Kak?"


Aku terkejut ketika mendengar pertanyaan Ariana. Sontak saja langkahku terhenti, dia mendekati sembari menyalami tanganku.


"Aku sudah masak buat Kakak," ucapnya tersenyum hangat dan sedikit membungkuk hormat.


"Aku tidak lapar," tolakku.


Wajahnya langsung berubah kecewa. Dia menunduk ketika mendengar penolakan ku. Sial, kenapa hatiku terenyuh sakit melihat wajah Ariana.


"Kamu masak apa?" tanyaku.


"Sup buntut, cah kangkung dan saus tiram," jelasnya dengan cepat.


Kenapa wanita ini terlihat seperti senang saat menyebutkan jenis makanan. Beberapa Minggu ini Ariana memang tak seperti biasa. Dia lebih banyak melamun dan tak banyak bicara.


"Ayo, Kak!"


Aku terkejut ketika dia menarik tanganku menuju meja makan. Ku tepis tetapi kenapa sentuhan nya terasa hangat di kulitku. Aku menurut saja dan mengikuti langkah kakinya.


"Ayo duduk, Kak!" Dia menarik kursi dan mempersilakan aku duduk. Anehnya, aku hanya menurut saja.


"Biar Arin ambilkan ya, Kak?"

__ADS_1


Dia mengambilkan makanan ke dalam piring untukku. Kenapa kali ini aku seperti tak bisa berkutik. Kuakui tampilan masakannya sangat enak dan mengunggah selera. Tetapi apakah rasanya juga sama dengan bentuk dan rupanya.


"Apa kamu berusaha merayu aku?" tudingku. "Kamu tahu 'kan? Sebenarnya aku tidak sudi satu meja makan dengan wanita pelacur sepertimu!" Entah kenapa setiap kali melihatnya aku selalu tak mampu menahan diri? Rasanya ingin terus menyiksa dan menyakiti hatinya.


"Sama sekali tidak, Kak. Arin hanya ingin melakukan tugas Arin sebelum nanti Arin tidak bisa melakukannya lagi."


Usianya memang masih sangat muda yaitu 21 tahun. Dia bahkan baru menyelesaikan pendidikannya. Lalu hamil dan aku yang bertanggungjawab.


"Kamu sudah tahu bahwa aku tidak peduli masalah tugas istri. Bahkan aku sama sekali tidak membutuhkanmu dalam mengurus semua keperluanku," ucapku dingin. Perutku yang tadinya terasa lapar kita tiba-tiba hilang karena membahas hal ini.


"Arin minta maaf, Kak. Arin tahu jika Kakak tidak menginginkan Arin menjadi istri Kakak. Tapi izinkan Arin melayani Kakak sebagai seorang istri sebelum Arin pergi meninggalkan Kakak," ucapnya sembari mencengkram erat sendok yang ada di tangannya.


Keningku mengerut dan kutatap wajahnya yang cantik tersebut. Apa maksudnya dia akan meninggalkan aku?


"Maaf karena sudah membuat Kakak hidup dalam penderitaan seperti ini. Arin minta maaf, Kak. Sejak awal Arin tidak pernah ingin di nikahi oleh Kakak tetapi ini permintaan orang tua kita," jelasnya lagi. Kenapa hatiku sedikit terusik ketika dia mengatakan tak ingin menikah denganku?


"Lalu apa maksud kamu mau meninggalkan aku? Kamu mau mengugat cerai? Ingat ya, Arin. Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan dan menceraikan kamu. Itu akan melukai hati Daddy dan Mama!" ucapku memperingatkannya.


Aku berdecih. Wanita ini bodoh atau memang tidak tahu diri, sudah jelas aku mempertahankan pernikahan kami karena kedua orang tua ku. Aku tak mau membuat Mama sedih, sudah cukup dulu dia di khianati dan di sakiti oleh Papa. Sekarang, aku tak mau lagi menguak luka lama di hati Mama karena sebuah perceraian.


"Kamu sudah tahu jawabannya, harusnya tidak perlu bertanya lagi. Jelas, aku menahanmu karena kedua orang tua ku. Aku tidak mau membuat mereka terluka," jelasnya.


"Jika begitu, kenapa Kakak tidak belajar mencintai Arin, seperti Arin mencintai Kakak?" pintanya.


Aku tertawa mengejek, rasanya ingin sekali ku ludahi wajahnya yang terlalu percaya diri itu. Kuakui Ariana memang cantik dan menggoda tetapi aku sama sekali tak berniat dan tergoda dengan tubuh dan kecantikannya itu, apalagi seperti SCTV satu untuk semua.


"Harusnya kamu tahu diri, Arin! Kamu itu tidak lebih dari seorang pelacur yang rela menyerahkan tubuh kamu pada pria yang belum tentu akan jadi suami kamu. Lalu, pria yang sama sekali tak pernah menyentuh kamu harus bertanggungjawab atas bayi yang ada di dalam kandungan kamu. Jadi, tolong jangan terlalu percaya diri jika akhirnya itu akan membuat kamu menjatuhkan harga diri!" ucapku panjang lebar dan penuh penekanan. Aku tak peduli jika ucapanku melukai hatinya, bukankah memang itu yang aku cari selama ini? Membalaskan rasa sakitku dengan menciptakan neraka pernikahan di antara kami?

__ADS_1


Dia menunduk menyembunyikan wajah busuknya dengan keringat dingin yang menetes dari dahinya.


"Kamu tahu, Arin. Aku sama sekali tidak tertarik sama kamu. Jika di bandingkan dengan Sherly, jelas kalian seperti langit dan bumi. Jadi, kamu jangan berharap aku akan jatuh cinta sama kamu." Aku berdiri dari dudukku, belum ku sentuh sama sekali makanan yang tertata rapi di atas meja itu. Nafsu makanku seketika menghilang saat mengomeli wanita tersebut.


"Kakak." Dia mencengkram lenganku.


Aku menatap cengkraman tangannya. Rasanya aku ingin muntah ketika wanita ini menyentuh bagian tubuhku.


"Jangan sentuh-sentuh." Kutepis tangannya dengan kasar.


"Kak, bisakah berikan aku satu kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta padaku. Aku, aku sudah jatuh cinta padamu, Kak!"


Kenapa saat dia mengatakan jatuh cinta padaku, jantungku berdebar-debar tak karuan. Pipi bersemu merah seperti tomat masak. Ah tidak, tidak. Aku tidak boleh terbawa perasaan dengan ucapan wanita murahan ini. Bisa jadi ini adalah trik dia agar aku menerima anak dalam kandungannya. Oh, sampai tanah berada di atas kepalaku aku tidak akan pernah menerima bayi haram tersebut.


"Sekali lagi, aku peringatkan. Jangan paksa aku mencintai wanita murahan seperti kamu!" Kudorong tubuhnya hingga terjerembab ke atas lantai.


Aku melenggang masuk ke dalam kamar. Aku selalu tak bisa menahan emosi saat mengingat diriku yang menikah wanita bekas pria lain. Aku tak peduli dengan rasa sakit di hati Ariana. Aku ingin merasakan bagaimana sakit yang aku rasakan. Dia yang sudah membuat aku ada dalam penderitaan seperti ini. Jadi, takkan kubiarkan dia lepas begitu saja dari genggaman tanganku.


"Ini belum seberapa Ariana, nanti kamu akan rasakan setelah anakmu lahir. Aku tidak akan memberikan dia nafkah. Setelah itu, dia akan menderita sama sepertimu."


Walau seribu orang menasehati aku agar menerima Ariana sebagai istriku hal tersebut tidak akan mengubah keputusanku yang ingin menciptakan neraka untuk Ariana.


Aku menatap fotoku dengan Sherly. Andai saja aku bisa menikahinya sekarang juga, aku pasti akan sangat bahagia bersama wanita sebaik dirinya.


Drt drt drt drt drt


Senyum ku terbuyarkan saat mendengar suara ponsel yang berdering. Ku ambil benda pipih itu di dalam celana dan keningku seketika mengerut ketika melihat nomor tak di kenal. Aku menggeser tombol hijau di sana.

__ADS_1


"Hallo!"


Bersambung...


__ADS_2