Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Merangkak


__ADS_3

Apakah ada yang tahu? Hal yang lebih sakit dari kehilangan seseorang? Bayangkanlah saat seseorang yang di cintai. Dia yang ada di samping. Namun, hatinya tidak pernah benar-benar bisa di miliki.


Rasa bahagia datang ketika perasaan terbalas. Cinta yang dulu dia ucapkan dibalas dengan pengucapan yang sama, dia juga mencintai. Dia sepenuh jiwa berasa di sampingku. Mewujudkan rencana-rencana baik dengannya. Tidak ada orang lain di hatinya. Tidak ada cinta yang memancar di dadanya.


Aku terduduk di ranjang tempat tidur dan menguap beberapa kali seraya mengumpulkan nyawa yang terbang ke alam mimpi. Kulirik jam yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi.


Sejenak aku terdiam. Kuhela nafas panjang lalu kuhembuskan perlahan. Tanganku terulur mengusap bagian dadaku yang masih terasa perih. Kulihat lantai yang sudah bersih, entah sejak kapan para asisten rumah tangga membersihkan kamarku dari botol-botol alkohol dan bekas putung rokok.


"Nara."


Masih sama. Nama wanita yang telah pergi meninggalkan aku itu, masih tersemat di dalam dada. Aku pun tak paham kenapa aku tak bisa melupakan Nara begitu saja? Padahal kami sudah berpisah dan terpisah tetapi jiwa dan raga ini tak mau melepaskan bayang-bayang yang menghilang di dalam kalbu.


Terkadang memang lebih baik menjadi pengagum rahasia. Tetap menyembunyikan perasaan pada seseorang. Daripadanya, dinyatakan dan hanya mendapat luka yang mendalam. Namun, aku tak pernah menyesal mengakui semua perasaanku pada Nara. Walau pada akhirnya hanya luka dan penolakan yang aku dapatkan.


Aku menyimak selimut dan turun dari ranjang. Tak hanya hati yang rapuh tetapi juga seluruh tubuh jiwa dan ragaku. Inilah mengapa aku tak mengerti, kenapa sebagian orang menyebutnya hanya sebagai patah hati? Karena ketika aku bangun ku dapati tubuhku rusak terpatah-patah.


Aku segera membersihkan diri di dalam kamar mandi. Masih saja terngiang di kepalaku, ketika setiap pagi Nara sibuk menyiapkan sarapan pagi untukku tetapi malah aku tolak dengan mengatakan akan sarapan bersama Mona. Kenapa mengingat semua kejahatanku, seperti mengoreskan luka kembali di dalam dadaku?


"Nara, aku akan belajar melepaskanmu. Aku akan belajar mengikhlaskan kepergianmu. Walau sepenuhnya aku tak pernah benar-benar bisa. Sekali lagi, maafkan aku, Nara. Apa kamu tahu, setelah kamu tidak ada di hidupku, hari-hariku terasa berat dan menyekat di dalam sana. Maaf, Nara. Kehilanganmu seperti mimpi buruk, jika benar ini mimpi aku ingin segera bangun dan memberontak."


Tak mau lama-lama merenungi nasib di bawah guyuran shower aku segera keluar dari kamar mandi. Sebenarnya hari ini aku belum siap ke rumah sakit. Apalagi masalah perceraianku dan Nara telah tersebar di mana-mana. Semua orang beranggapan aku lelaki brengsek dan pengecut yang berani menyakiti wanita baik seperti Nara.


Aku tak mengelak, bukankah semua tudingan itu benar adanya? Aku tidak mau menyangkal semuanya. Aku memang telah mencipta luka dns kecewa di hati mantan istriku.


"Ayo, Son. Sarapan," ajak Bunda saat aku sudah sampai di meja makan.


"Terima kasih, Bunda," sahutku.


Kulirik wajah Ayah dan Bee yang diam tanpa mau menyapaku. Biasanya adikku yang berisik seperti tong kosong nyaring bunyinya ini, selalu cerewet dan manja padaku. Tetapi kali ini, dia diam saja tanpa peduli dengan aku. Tak ada senyum yang menyapa seperti biasa. Begitu juga dengan Ayah yang sama sekali tak melihat kearahku.


"Kamu mau sarapan apa, Son?" tanya Bunda.


"Apa saja, Bunda," jawabku.


Aku tersenyum kecut. Aku tak hanya kehilangan Nara tetapi juga kehilangan kepercayaan dari keluargaku. Ayah adalah sosok yang hangat dan selalu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Namun, pagi ini wajah hangat nan berkarisma itu berganti dengan ekspresi dingin.


"Terima kasih, Bunda," ucapku.

__ADS_1


"Sama-sama, Son."


Bunda adalah sosok satu-satunya di saat seluruh dunia menghakimiku. Orang-orang sibuk menyalahkan aku tanpa peduli bahwa aku juga terluka dengan perpisahan ini. Mereka hanya tahu jika akulah yang salah, apa mereka pernah tahu bagaimana aku berjuang agar keluar dari perasaan bersalah ini? Apa mereka tahu bahwa semua benar-benar menyiksa? Aku harus belajar merangkak untuk bisa berjalan walau pelan. Meski sesungguhnya aku tak pernah benar-benar bisa melewati semua ini tanpa Nara.


Setelah sarapan aku mengantar Bee ke kampusnya karena mobil adikku masih berada di bengkel.


Sepanjang perjalanan Bee diam saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Mas tahu kamu juga kecewa sama, Mas," ucapku tersenyum kecut.


Bee melihat kearahku, "Bee hanya kecewa tapi tidak marah," jawab adikku.


Aku tersenyum miris. Bahkan adik yang biasanya bermanja-manja padaku. Kini seperti menjaga jarak.


"Maafkan, Mas," ucapku merasa bersalah. "Mas tidak bermaksud membuat kalian kecewa," sambungku lagi.


Bee tak menjawab. Dia menatap kosong kearah jendela kaca mobil. Sampai di kampus Bee mobilku terparkir.


"Terima kasih, Mas." Walau kesal dan kecewa tetapi adikku ini tetap bersikap sopan dan menyalami tanganku.


"Kamu hati-hati, nanti Mas jemput," pesanku.


"Ada jajan?" tanyaku.


"Ada. Tapi sedikit," jawab Bee. Kalau masalah uang, mau berapa saja adikku ini tidak menolak.


Aku mengambil beberapa lembar uang berwarna merah di dalam dompetku.


"Ini buat kamu jajan," ucapku menyerahkan uang tersebut.


Mata Bee langsung berbinar-binar. Bahkan wajahnya yang tadi kesal kini sumringah ketika melihat kertas bergambar Soekarno-Hatta tersebut.


"Terima kasih, Mas." Bee mengambil uang tersebut.


"Bee masuk dulu ya, Mas. Bye bye."


Cup!

__ADS_1


Setelah mengecup pipiku. Bee keluar dari mobil. Aku geleng-geleng kepala saja, semudah itu merayu adikku yang merajuk.


Aku kembali menjalankan mobilku meninggalkan kampus Bee. Lagi, aku teringat pada Nara yang biasanya selalu menyetor senyum pagi padaku.


Brak! Bruk!


Tunggu, aku menabrak seseorang? Oh tidak, aku segera turun dari mobil dan menghampiri orang yang mungkin saja aku tabrak.


"Awww."


Wanita itu meringgis kesakitan. Aku segera menghampirinya.


"Maaf. Maaf, apa kamu tidak apa-apa?" tanyaku panik. Aku memang menyetir tidak konsentrasi.


"Ck, tidak apa-apa bagaimana? Makanya kalau menyetir itu jangan sambil melamun," gerutu gadis itu sambil meringgis kesakitan.


Aku menghela nafas panjang. Ingin membalas ucapannya tetapi memang aku yang salah.


"Iya, sudah. Biar saya bawa ke rumah sakit," tawarku.


"Memang mau bayar biaya rumah sakit?" Gadis itu memincingkan matanya curiga.


"Iya. Nanti saya akan bayar biaya rumah sakitnya," jawabku. Untung saja aku tidak memakai jas dokter sehingga gadis ini tidak tahu bahwa aku adalah seorang dokter.


"Iya sudah, kalau begitu," ucapnya.


"Bisa berdiri?"


"Dih, bisalah. Memangnya aku sekarat," protesnya. Melihat gadis ini mengingatkan aku pada adikku Bee.


Dia berdiri pelan, "Aww," ringgisnya.


"Biar saya bantu."


"Ehh." Sontak gadis itu memeluk leherku karena terkejut.


Aku langsung mengangkat tubuhnya agar masuk ke dalam mobil. Waktuku tidak banyak karena hari ini pekerjaanku menumpuk.

__ADS_1


"Om, jangan sembarangan dong. Main gendong-gendong. Anak orang segala," protesnya.


Bersambung.....


__ADS_2