
Seketika mobil yang ku kendarai berhenti mendadak saat spontan aku menginjak rem.
Aku melihat istriku tak percaya. Apakah aku bermimpi ketika Nara meminta bercerai dariku.
"Aku bukan orang yang kamu inginkan, Mas. Aku bukan wanita yang kamu nikahi. Kamu mau menikahi aku karena keterpaksaan bukan karena cinta, Mas. Sejak kamu mengatakan tidak akan pernah mencintaiku. Saat itulah aku sadar bahwa aku tidak akan pernah bisa mendapat kamu, Mas."
"Apa Mas sadar? Mas adalah satu-satunya suami yang tega meninggalkan istrinya di jalan hanya demi kekasihnya. Malam aku ketakutan, Mas. Hujan deras sekali, aku kedinginan. Bajuku habis basah. Di bawah hujan aku berharap bahwa butiran air yang jatuh ke bumi ini akan membawaku pergi bersama puing-puing kehancuran."
"Kalau tidak ada Kak Rimba. Aku tidak akan tahu seperti apa aku malam itu. Berada di jalan sepi dan asing seorang diri. Aku membayangkan, ada orang jahat yang menggangguku. Tetapi Tuhan masih menyayangiku dengan mengirimkan lelaki baik seperti Kak Rimba."
"Aku merasa seperti wanita yang tidak di inginkan. Aku tahu kamu tidak mencintaiku. Tetapi bisakah Mas menghargai perasaanku sejenak? Bahkan Mas mengakui aku sebagai adik Mas di depan Mbak Mona. Kalian satu kamar, kalian terlihat bahagia, kalian bercanda ria seolah aku adalah makhluk yang layak menerima luka."
Dia menyeka air matanya dengan kasar. Sementara aku terdiam mematung di tempatku. Seluruh tubuh melemas seolah tak ada jiwa yang menetap di dalam raga.
"Kamu tahu, Mas? Saat kamu bisa tertawa sama Mbak Mona aku merasa seperti wanita yang di bohongi. Aku tidak tahu jika kamu bisa tertawa. Aku tidak tahu jika kamu ternyata orang yang hangat. Namun, kenapa saat sama aku kamu dingin seperti es. Kamu bahkan tak mau untuk sekedar berbicara denganku atau memakan masakanku."
Kepedihan hati telah membawa jari-jari Nara mencengkram kuat sealbeat yang melingkar di tubuhnya. Tidak ada lagi yang dia takutkan tentang kehilanganku. Bahkan rasa takut kehilangan kini menjelma keberanian untuk menghadapi apapun. Baginya, cinta pernah datang kemudian menusuk mati segala harapan. Cinta membawa luka yang tidak pernah dia bayangkan. Terlalu dalam dan kejam. Dengan sejauh mungkin, dia berharap bisa membawa pedih dihatinya pergi. Meski dia tahu lagi dari kenyataan bukanlah hal yang akan mengobati.
"Ra, aku_"
"Mas, apa aku seburuk itu di matamu? Apa aku memang wanita yang tidak layak untuk kamu cinta? Kamu meminta kesempatan kedua karena Mbak Mona berkhianat! Bagaimana kalau Mbak Mona masih tetap sama Mas? Apa Mas akan berkata seperti ini?" cecarnya.
Semua ucapannya seperti tamparan yang menyerang bagian hatiku. Apakah semua yang Nara katakan benar? Apakah aku begitu? Tetapi perasaanku sungguh mulai tumbuh untuknya.
__ADS_1
"Ra_" Air mataku juga berlinang membasahi pipi. Semburat rasa bersalah dan kekecewaan melebur memenuhi lara.
"Di titik terakhir dalam hidupku. Aku tidak ingin mencintaimu lagi, Mas. Kisah kita cukup sampai di sini dan sampai bertemu di pengadilan. Aku harap tidak ada luka atau dendam di hati kita berdua. Maaf, aku tidak bisa bertahan sebagai istri. Rasa sakit yang kamu turihkan di hati aku telah mendarah daging."
Setelah berkata Nara keluar dari dalam mobil meninggalkan aku yang masih mematung di tempat. Seluruh aliran dalam darahku serasa berhenti mengalir. Beberapa partikel menjelajahi masuk melalui pembuluh darah.
"Nara."
.
.
Dentuman musik saling menggema dan bersahutan memenuhi telingaku. Aku masih duduk di bar dengan beberapa botol wine di depanku. Entah sudah berapa banyak botol yang aku habiskan sehingga membuat kepalaku pusing bukan main.
Ini pertama kalinya aku mengkonsumsi minuman haram ini. Benar kata-kata pencinta alkohol, bahwa minuman haram ini dapat menghilangkan stress berkepanjangan.
Aku menolak berpisah dengan Nara karena aku mencintai istriku. Aku mencintainya dan aku menyadari hal itu saat ini. Aku tidak bisa kehilangan Nara. Aku tidak akan bisa kehilangannya. Aku ingin memperbaiki semua kesalahanku dan aku tidak akan membiarkan Rimba memiliki istriku.
Sesuatu yang pernah ada tidak akan bisa dihilangkan begitu saja di ingatan. Kecuali jika hilang ingatan. Tanpa disadari tidak adanya manusia yang tumbuh tanpa seseorang di masa lalu. Mau tidak mau, kehilangan adalah salah satu hal yang membuat manusia belajar menerima kenyataan. Aku memahami hal itu. Sesuatu yang akhirnya membuatku sadar bahwa apa yang tak ingin ku lepaskan perlahan akan pergi menjauh.
Sesekali aku ingin mengutarakan pada Nara bahwa perasaanku padanya bukan hal main-main. Aku sudah melupakan Mona dan aku tidak berniat menjadikan istriku pelampiasan. Aku hanya ingin bersama dia menghabiskan akhir dari usia.
Aku, tentu sangat menyesali semua yang terjadi di antara kami. Akulah yang sudah menciptakan api di hubungan kami dan sekarang aku tak bisa meredakan api tersebut.
__ADS_1
Aku selalu percaya, tak ada yang abadi dari kesedihan. Atau dari hal apapun itu. Yang ada hanyalah orang-orang yang bertahan bersama sepanjang usia mereka. Dan, itu bukan sebuah keabadian. Itu adalah usaha mempertahankan kesepakatan. Sementara aku tak memiliki kesempatan untuk mempertahankan apa yang tak ingin ku lepaskan. Aku ingin menahan Nara agar tak pergi, tetapi apakah aku bisa? Sementara kepergiannya di sebabkan olehku.
"Mas, ayo pulang," ajak Bee menarik tanganku agar keluar dari club'.
Aku dalam keadaan setengah sadar tetapi masih ingat semuanya. Bahkan saat adikku membawa aku masuk ke dalam mobil, aku masih meracaukan nama Nara.
"Nara."
"Nara."
Beberapa kali ku panggil nama istriku tersebut. Sungguh aku ingin bertemu dengannya saat ini. Aku ingin memeluknya dan mengatakan jika aku mencintainya. Aku tak ingin kami berpisah. Aku tak ingin kami berakhir menjadi asing. Di antara cinta yang awalnya sudah tumbuh di hati Nara lalu layu hingga mati mengering karena siraman api yang aku semburkan dan membakar hangus perasaan yang tumbuh terpupuk subur.
"Mas, pasang sealbeat-nya!" perintah Bee memasang sealbeat dengan paksa di tubuhku.
"Nara, aku tidak mau kita berpisah. Aku tidak mau jauh dari kamu Nara."
Aku meracaukan nama Nara berulang kali. Berharap kesempatan untuk memilikinya benar-benar ada sebelum kami berakhir di meja hijau.
"Nara, kumohon jangan tinggalkan aku. Jangan pergi, Nara!"
"Ck, Mas. Berhenti berteriak! Mas pikir ini di hutan," protes Bee sambil menyetir.
Aku tak menghiraukan suara protes adikku. Saat ini aku ingin bertemu istriku dan meminta maaf padanya. Aku ingin memperbaiki hubungan kami. Aku ingin dia kembali padaku.
__ADS_1
Kupikir hidup akan baik-baik saja. Semua harus berjalan seperti sediakala. Tetapi belum juga berpisah dengan Nara hidupku sudah hancur berantakan melebur menghancurkan sukma.
Bersambung...