Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 04. Chapter 35.


__ADS_3

Ternyata belum siap aku, kehilangan dirimu. Belum sanggup untuk jauh dari darimu yang masih selalu ada dalam hatiku. Tuhan tolong mampukan aku tuk lupakan dirinya. Semua cerita tentangnya membuatku selalu teringat akan cinta yang dulu, hidupkanku.


#Stevan Pasaribuan.


Naro POV.


Jam 8 pagi. Waktunya Ariana menjalani operasi. Aku mendorong brangkarnya keluar dari ruangan VVIP bersama Mas Angga dan Galaksi yang akan ikut menangani operasi Ariana pagi ini.


Mama Tari, Om Divta, Anggi, Auny, Al dan El mengekor dari belakang wajah kami semua sama, panik dan ketakutan bukan main.


"Sayang."


Istriku sudah terpejam sejak subuh tadi. Dia sudah tak bisa bergerak dan berbicara. Ariana mengalami koma karena cairan itu sudah memasuki syaraf otaknya.


"Aku mohon, bertahan. Jangan menyerah. Apa kamu tidak ingin bahagia bersamaku? Apa kamu tidak ingin membangu rumah tangga kita seperti impian kamu?"


Semua pertanyaan itu aku lontarkan pada orang yang tengah koma. Bukankah hal tersebut percuma? Dia tidak akan bisa mendengar suaraku atau hanya tersenyum sebagai balasan.


"Kalian tunggu di sini!" ucap Galaksi.


"Aku ikut masuk!" pintaku.


"Tidak bisa, Naro. Kamu tunggu di luar," tolak Galaksi.


"Aku mohon Galaksi. Aku ingin memberikan kekuatan pada Arin. Tolong izinkan aku masuk," pintaku sampai menangkup kedua tangan di dada. Aku tahu wewenangku tidak ada sama sekali untuk masuk ke dalam ruangan operasi. Bahkan bisa melanggar peraturan rumah sakit ini. Tetapi, aku benar-benar menemani Ariana melewati semuanya.


"Tapi_"


"Aku mohon, Galaksi."


Para dokter saling melihat satu sama lain. Apakah memperbolehkan aku masuk ke dalam sana untuk menemani istri yang paling aku cintai sepenuh hati jiwa dan raga serta perasaan yang menggebu di dalam dada.


"Izinkan saja, Dok," saran Dokter Novi.


Galaksi tampak mengembuskan napasnya kasar.

__ADS_1


"Tapi ingat jangan ribut dan berisik," ucap Galaksi memeringatkan aku.


"Baik." Aku mengangguk.


Di dalam ruangan operasi aku ikut masuk. Ini pertama kalinya aku masuk ke dalam ruangan ini selama hidup. Bagaimana orang-orang tak ketakutan ruangan operasi benar-benar menyeramkan seperti yang ada di dunia film atau novel. Alat-alat medis dan tajam yang di gunakan untuk membelah tubuh manusia itu juga seperti membuat perutku perih, membayangkan jika benda tajam itu mengores perut tebalku.


Aku di berikan baju dan sebuah topi yang sering di pakai oleh para dokter. Kukenakan itu secepat kilat karena aku tak mau melewatkan apapun tentang Ariana.


"Baiklah sebelum operasi di mulai, mati kita berdoa. Supaya operasi ini berjalan lancar dan apapun yang terjadi nanti kita siap menerima segala kemungkinan," ucap Dokter Husein, dokter ahli bedah yang bekerja di rumah sakit Timberland ini. Dia berasal dari Indonesia tetapi bertugas di negeri Jiran, Malaysia.


Aku ikut berdoa sambil mengenggam tangan dingin istriku. Jantungku berdebar-debar seperti lari maraton seolah sedang berlomba.


"Tuhan, hanya satu pintaku. Panjangkan umur istriku sebentar saja. Izinkan dia bahagia bersamaku. Selama ini dia sudah cukup menderita karena perbuatan aku selama ini. Biarkan dia tersenyum di sisa akhir hidupnya."


*


*


Aku mengenggam tangan dingin Ariana. Air mata luruh berderai ketika melihat Oksigen uap yang sengaja di pasang melalui mulut dan hidung. Betapa menderita kondisi istriku saat ini. Alat-alat medis tersebut menyiksa semua tubuhnya.


Kukecup punggung tangan istriku dengan sayang. Tangan dingin dan pucat tanpa darah. Dia sama sekali tak bergerak seperti semalam. Aku masih rindu memeluk hangat tubuhnya di keheningan malam.


Selama berada di sini, setiap malam dia pasti meminta untuk di peluk sebelum terlelap dalam tidur. Mungkin saja pelukanku memberikan kehangatan pada tubuh lelahnya.


"Kasa."


"Gunting."


"Percepat tekanan darahnya!"


Aku yang awam dalam dunia kedokteran hanya diam dan menyaksikan saja para dokter melakukan tugas mereka. Tanganku sama sekali tak lepas dari genggaman Ariana. Berharap genggaman hangat ini bisa memberikan kekuatan padanya untuk melawan dan menghadapi kematian yang sekarang menyerang bagian jiwanya.


Aku bergidik ngeri, saat para dokter itu membelah perut Ariana. Aku tak bisa bayangkan jika tak di berikan obat bius. Entah bagaimana rasa sakitnya?


"Keluarkan bayinya!"

__ADS_1


"Baik, Dok."


Para dokter dan perawat tampak sibuk menjalankan tugas masing-masing. Ada yang di tugaskan membelah, mengambil bayi dalam perut istriku. Serta perawat yang sesekali menyeka keringat Galaksi, Dokter Novi dan yajg lainnya.


Untung saja aku tidak tertakdir menjadi seorang dokter, jadi tidak perlu bertemu dengan hal-hal menyeramkan seperti itu.


"Owe, owe, owe owe."


Mataku berkaca-kaca ketika mendengar suara tangsian bayi tersebut. Aku melihat dia di keluarkan dari perut istriku dan masih berlumuran dengan darah.


Dokter Novi memberikan bayi pertama pada perawat untuk segera di bersihkan.


"Owe, owe, owe, owe."


Bayi kedua keluar dan Dokter Novi langsung memberikan bayi itu pada perawat yang lain.


Kembali Dokter Novi mengubek-ubek perut istriku untuk mengeluarkan bayi terakhir. Tanpa sadar aku menangis, menangis karena merasa bersalah. Dulu ketika pertama menikah aku sempat mendorong tubuh istriku hingga terjatuh di lantai. Untung saja ketiga bayi itu masih bertahan hingga sekarang. Semoga kelak, ketika mereka dewasa tak ada rasa benci yang tersemat karena aku sudah menciptakan neraka untuk ibu mereka.


"Dokter pasien kekurangan banyak darah," lapor salah satu perawat.


"Percepat tekanannya!" perintah Dokter Husein yang tampak sibuk menjahit kembali perut istriku.


Dokter Novi spesialis kandungan sementara Dokter Husein dan Galaksi spesialis bedah. Mereka tampak kompak bekerja dalam tim agar operasi tersebut berjalan dengan lancar. Walau keringat tampak mengucur tetapi mereka tetap konsentrasi untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawab tersebut.


"Detak jantung pasien melemah, Dok," lapor perawat yang lain.


"Tambahkan lagi tekanannya!" perintah Galaksi.


Aku mengenggam tangan Ariana yang semakin pucat. Rasa haru dan bahagia yang tadi ku rasakan berganti dengan cemas dan ketakutan bukan main. Bagaimana jika istriku tak selamat dan pergi meninggalkan aku? Maka aku juga tidak bisa bertahan hidup sendirian di dunia yang gelap dan tak adil ini.


Kukecup kening dan punggung tangan Ariana secara bergantian dengan lelehan bening yang tak berhenti menetes. Berharap semua sentuhan tersebut bisa membangunkan dirinya dari koma tersebut. Tidak salah jika aku berharap lebih walau kenyataan menghantam segala resah.


"Sayang, anak-anakmu sudah lahir. Kamu pasti bisa bertahan demi melihat mereka ada. Apa kamu tidak ingin melihat mereka?"


"Dok, jantung pasien berhenti berdetak."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2