Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Berangkat ke Kucing, Malaysia.


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Pagi menyising tiba, pantulan cahaya matahari menyinari wajah ku. Aku terbangun dari tidur indah ku. Aku baru sadar jika masih memakai pakaian kantor. Aku menangis semalaman setelah pulang dari rumah Pak Dante, merenungi nasib hidupku yang menyakitkan.


"Sudah siang ternyata?" gumam ku mengeliat lalu duduk diatas ranjang.


Mata panda dan sembab, rambut acak-acakan dan make up luntur. Entah berapa lama aku menangis semalam sehingga membuatku seperti wanita gila.


"Jam 7," gumam ku.


Aku segera turun dari ranjang. Uang tabungan ku bekerja beberapa bulan sudah cukup, hari ini aku akan membawa Nara berobat ke Malaysia. Kemarin aku sudah mengurus semua berkas yang diperlukan disana.


Aku segera menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Setelahnya aku menyiapkan sarapan untuk anak-anak.


"Ra," panggil Ibu.


Aku menoleh dan mengangguk, rasa kecewa kian menyeruak masuk kedalam relung hatiku. Ibu mengatakan bahwa aku ditemukan didepan rumah, kenyataan nya aku memang dibuang secara tak lumrah. Ibu seperti nya sengaja menutupi kebenaran tentang orang tua kandung ku.


"Maafkan Ibu, Ra. Ibu tidak bermaksud membohongi kamu," ucap Ibu dengan mata berkaca-kaca dan penuh penyesalan.


"Apa aku merepotkan, Bu?" tanya ku serius menatap wajah ayu nan mulai keriput tersebut.


"Ra_"


"Aku tidak habis pikir, kenapa Ayah dan Ibu menutupi semua nya dari aku? Apa karena selama ini aku telah membuat kalian kecewa, Bu?" cecar ku dengan raungan suara lirih. Sakit, sangat-sangat sakit.


"Ara, maaf_"


"Aku sudah memaafkan kalian, Bu. Bagaimana pun kalian adalah orang yang sudah merawat ku sejak kecil. Harusnya aku sadar diri, bahwa baik orang tua kandung ku dan kalian tidak menginginkan aku ada."


Luruh, hancur dan runtuh. Bayangkan jika kau berada diposisi ku, kau sepenuhnya tahu bahwa kelahiran adalah suatu kebahagiaan bagi orang tua. Tetapi kenapa kelahiran ku justru menjadi boomerang bagi semua orang? Aku seperti tidak berharga sama sekali.


"Ara, Ibu tidak bermaksud membohongi kamu. Ibu_"


"Aku sedang masak, Bu. Nanti saja bicaranya. Setelah ini aku harus mempersiapkan keberangkatan aku dan Nara," potong ku.

__ADS_1


Aku menyibukkan diri dengan sayur-sayuran yang ada ditangan ku tanpa peduli dengan ucapan Ibu. Rasa kecewa itu masih belum bisa aku lupakan. Aku sadar, aku memang bukan wanita baik. Hidupku hanya membawa sial bagi semua orang.


Aku melanjutkan masakkan ku, sesekali ku seka air mata yang menetes ini. Aku tak boleh lemah. Sekarang aku tidak perlu memikirkan hal-hal yang tidak penting, aku akan fokus kan pikiran ku untuk kesembuhan Nara.


"Ayo, Nak. Sarapan dulu," ajakku.


"Iya Ma."


Naro membantu kakak nya keluar dari kamar. Aku bersyukur anak-anak ku tidak manja dalam keadaan Mama-nya sedang rapuh begini.


Sementara Ayah dan Ibu terdiam saja sambil menatap ku dengan perasaan bersalah. Pantas saja saking kecewa nya, Ayah dengan tega nya tidak menghadiri pernikahan putrinya secara langsung. Jika Ayah kandung, tidak akan mungkin melakukan hal tersebut walau anak nya melakukan kesalahan sebesar apapun. Namun, Sekarang aku sadar dan tahu bahwa baik orang tua kandung dan orang tua angkat tak menginginkan kehadiran wanita pembawa sial ini.


"Mama apa kita di antar Om Baik?" tanya Nara.


"Iya Sayang, kita sama Om Baik yaa," jawab ku tersenyum.


"Mama, Naro ikut ya. Naro tidak bisa jauh dari Kakak," pinta Naro.


"Iya Son," jawab ku.


Pak Dante meminta agar aku membawa Nara secepatnya berobat ke Kucing, semoga saja masih ada kesempatan untuk Nara sembuh.


"Ara sudah memaafkan Ayah. Jangan bahas ini di meja makan. Anak-anak bisa mendengar," sergah ku.


.


.


Pak Dante datang menjemput kami, kami akan naik pesawat untuk jalan lebih cepat menuju negeri Jiran tersebut.


"Om Baik," sapa Naro dengan senyuman sumringah nya.


"Hai Son," sapa Pak Dante menyambut Naro sambil menggendong putra ku.


"Apa kabar mu, Son?" tanya nya.


"Naro sehat, Om," sahut Naro.


Kami masuk kedalam mobil. Sebenarnya aku menolak bantuan Pak Dante karena aku tidak mau berhutang budi atau merepotkan orang lain. Apalagi Ibu tiriku masih saja mencari masalah seperti yang kemarin, menuduhku menggoda mantan menantu nya. Aku sama sekali tak menggoda Pak Dante dan bahkan aku tak tahu bagaimana caranya menggoda lelaki ini.

__ADS_1


"Pak, maaf merepotkan," ucap ku tak enak hati.


"Sama sekali tidak, Ara. Mulai sekarang Nara dan Naro juga anak saya," jawab nya sambil tersenyum.


Pak Dante menganggap serius hubungan kami. Walau hingga kini aku belum menjawab ungkapan cinta nya. Aku tidak tahu seberapa pantas lelaki ini untuk aku terima menjadi teman hidup menggantikan Mas Galvin. Kegagalan dalam rumah tangga, telah membuat ku berhati-hati dalam menjalani hubungan dengan orang baru.


"Terima kasih, Pak," sahutku. "Apa Daddy dan Mommy sudah pulang?" tanya ku penasaran. Walau marah dan kecewa sesungguhnya aku sangat merindukan mereka.


"Masih. Mereka mau menjengguk Al," jawab Pak Dante.


Dunia sangat sempit, Chelsea teman SMA satu angkatan ternyata adalah saudara tiri. Bahkan selama ini dia menyadari jika aku mirip dengan Kak Killa, pantas saja dia membenci ku sejak dulu. Apa hubungannya dan Kak Killa juga tak baik?


"Bagaimana kondisi Al?" tanya ku.


Sejak pertengkaran dengan Divta dan Chelsea tempo hari, hingga kini aku tak mengetahui bagaimana kabar pria kecil tersebut. Mama Divta mengabari ku bahwa Al mencariku, andai saja Chelsea tak menuduhku sembarangan mungkin aku masih berbaik hati dan menemui Al.


"Nara, apa ada yang sakit Nak?" tanya ku menoleh ke bangku belakang.


"Tidak Ma," jawab Nara.


"Kalau merasa tidak nyaman, katakan pada Mama ya, Nak," ucap ku.


Mobil kami sampai di bandara. Pak Dante sudah memesan tiket jauh-jauh hari. Terkadang aku bertanya pada diriku sendiri. Apa Pak Dante sungguh-sungguh mencintai ku? Melihat semua yang dia lakukan dari segala perlakuan dan kepedulian, seolah membuat ku percaya bahwa dia memang tulus.


Aku memapah Nara keluar dari mobil dan dibantu oleh Pak Dante. Sedangkan semua barang-barang kami dibawa oleh anak buah Pak Dante.


"20 menit lagi kita transit. Ayo kita duduk dulu sebentar," ajak Pak Dante memapah Nara duduk.


Kami duduk dibangku tunggu. Tidak lama kemudian datang dua orang pria membawakan minuman untuk kami.


"Minum dulu," ucap Pak Dante membuka botol minuman.


"Pak mereka siapa?" tanya ku.


"Bukan siapa-siapa," jawab Pak Dante.


Pak Dante seperti boss besar seperti di novel-novel, di mana-mana ada anak buah nya. Ya aku tahu dia kaya, tapi harus kah semua nya di urus oleh anak buah?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2