
"Kenapa mukanya cemberut begitu?" Kak Rimba melirikku.
"Biasalah, Kak," jawabku.
"Nanti ceritanya, Kakak makan dulu. Masakan kamu enak banget. Besok-besok bawakan lagi," godanya mengedipkan mata jahil.
Aku tersenyum geli. Setidaknya candaan Kak Rimba bisa sedikit menghapus rasa sakit di hatiku.
Kak Rimba melanjutkan makannya. Sebenarnya makanan ini untuk suamiku tetapi karena dia mengatakan ingin makan bersama kekasihnya jadi aku bawakan saja untuk Kak Rimba daripada di buang dan mubajir.
"Minum, Kak!" Aku menyerahkan segelas jus segar padanya.
"Terima kasih, Cantik," goda Kak Rimba.
Seandainya saja, Mas Bintang seperti Kak Rimba, pasti aku akan sangat bahagia. Memiliki seorang suami yang menghargaiku. Namun, sayang aku harus mengubur semua impianku karena nyatanya suami yang ku idamkan tak menginginkan aku ada.
"Ayo, cerita sekarang Kakak sudah kenyang," ucap Kak Rimba. Tak biasanya Kak Rimba pagi-pagi sudah datang ke cafe.
"Seperti biasa, Kak. Masalah dengan suamiku," jelasku.
Kak Rimba tampak menghela nafas panjang. Dia beberapa kali memintaku meninggalkan Mas Bintang dan melepaskan suamiku itu. Tetapi aku belum sanggup kehilangan dirinya.
"Mau sampai kapan?"
Aku menggeleng, entah sampai kapan? Aku saja tidak tahu. Walau ribuan kali Mas Bintang menurihkan luka di hati ini. Tetap saja aku tak bisa melepaskannya begitu saja.
"Aku tidak tahu, Kak," jawabku.
Kak Rimba mengenggam tanganku yang terletak di atas meja. Lalu dia tersenyum hangat seraya menepuk-nepuk punggung tanganku.
"Kakak tidak memaksa kamu untuk menyerah. Tetapi jika hatimu sudah mulai tak sanggup, sebaiknya lepaskan. Jangan di paksa, ini akan menyakiti kamu nantinya. Kamu pasti bisa," ucap Kak Rimba mengusap pipiku. Entah kapan air mata itu jatuh, tiba-tiba saja pipiku terasa basah.
"Kak," renggekku.
"Kakak tahu ini berat dan tak mudah. Tetapi Kakak yakin perlahan kamu akan bisa. Kamu hanya terbiasa hidup dengannya bukan tak bisa hidup tanpanya," ucap Kak Rimba lagi.
"Terima kasih, Kak. Sudah menjadi tempat ternyaman untuk aku mengadu." Mataku kembali berkaca-kaca.
Kak Rimba adalah orang pertama yang tahu hubungan rumah tanggaku dan Mas Bintang. Aku belum berani mengatakan semua ini pada Mama dan Daddy, aku takut mereka sedih karena aku. Apalagi Mama pernah gagal di rumah tangannya bersama Papa. Aku tidak mau membuat Mama sakit karena memikirkan aku.
__ADS_1
"So, apa hadiahnya?" goda Kak Rimba melepaskan tanganku.
"Aku siap buatkan Kakak sarapan setiap pagi," sahutku.
"Ide bagus." Dia mencolek daguku.
Aku terkekeh sambil menyeka air mataku dengan kasar. Untuk berpisah dengan Mas Bintang aku belum siap. Mungkin hubungan rumah tangga kami akan berjalan seperti air mengalir. Tanpa tahu kemana ia akan berlabuh nantinya.
"Iya sudah, kamu siap-siap. Kita langsung ke lokasi," ajak Kak Rimba seraya melirik arlojinya.
"Sepagi ini, Kak?"
"Iya, Nara. Siang nanti Kakak ada meeting sama klien. Sekalian kamu juga ikut belajar," sahut Kak Rimba.
Aku menghela nafas panjang. Jujur saja sekalipun ku sibukkan pikiranku dengan berbagai macam pekerjaan tetap saja pikiranku tak bisa beralihkan.
"Ayo," ajak Kak Rimba.
"Pakai mobil Kakak saja," ucapnya.
"Asisten Kakak kemana?"
"Dia mengurus pekerjaan di kantor," jawab Kak Rimba.
"Kenapa, Kak?" tanyaku ketika melihat Kak Rimba berhenti tiba-tiba.
Aku mengikuti arah mata Kak Rimba, ya di sana ternyata ada Mas Bintang dan Mbak Mona. Mas Bintang pasti tidak tahu jika cafe ini milikku.
"Ayo, masuk." Kak Rimba menarik tanganku sebelum Mas Bintang dan Mbak Mona melihat kami.
Aku terdiam sejenak sambil menteralisir emosiku.
"Kamu baik-baik saja?" Kak Rimba menangkup wajahku.
"Kak." Aku nyatanya tidak pernah sekuat yang kubayangkan.
"Kakak sudah katakan, jika tidak mau sebaiknya lepaskan."
Andai melepaskan Mas Bintang semudah itu mungkin aku tidak akan sepatah hati. Tetapi jangan meninggalkannya jauh darinya saja aku tidak sanggup. Kadang aku membenci diriku, kenapa bisa mencintai lelaki yang sama sekali tidak menginginkan aku ada di hidupnya.
__ADS_1
Tangis ku pecah di dalam mobil. Pagi hari sudah ku awali dengan tangisan dan air mata. Harusnya aku mengawali segala sesuatunya dengan doa dan harapan agar hidupku penuh makna.
Kak Rimba mengusap punggungku sambil sesekali membisikan kata-kata penguat agar aku kuat menjalani takdir yang telah di ciptakan untukku.
"Ternyata aku tak sekuat itu, Kak," ucapku menangis hebat di pelukan Kak Rimba.
"Kamu kuat, hanya saja jika masalah perasaan tak ada orang yang baik-baik saja," sahut Kak Rimba.
Memang tak ada hal yang sepele jika berbicara tentang perasaan. Semuanya akan mengalami fase patah hati terhebat. Di mana semua itu benar-benar meremukkan seluruh raga.
.
.
Aku turun dari mobil. Hari ini aku sangat lelah. Kulihat mobil Mas Bintang sudah terparkir rapi di dalam garasi. Pasti dia sudah datang duluan.
Mas Bintang menjabat sebagai direktur rumah sakit menggantikan Ayah Langit. Mungkin dia tidak terlalu sibuk karena dia hanya dokter yang memantau saja.
Kulihat Mas Bintang sudah duduk di meja makan sambil menikmati semangkuk mie karena terlihat dari asap yang menggumpal keluar dari sana. Ini pertama kalinya aku melihat Mas Bintang makan mie, biasanya dia anti makanan tersebut. Mas Bintang tipe orang yang menjaga kesehatan dan pola makan, apalagi dia seorang dokter.
Aku berjalan melewatinya. Tak ada sapaan seperti biasa. Tak ada senyuman yang aku lontarkan di wajah lelahku. Aku memilih menyerah dan membiarkan semuanya mengalir seperti air. Aku sadar bahwa hati Mas Bintang tidak akan pernah aku miliki.
"Baru pulang?" tanyanya yang membuat langkahku terhenti.
Aku terdiam sejenak lalu menatap punggungnya. Ini pertama kalinya dia bertanya tentang aku. Jujur saja aku sedikit terkejut.
"Iya," jawabku singkat padat dan jelas.
"Besok Bunda mengundang kita makan malam," ucap Mas Bintang tanpa melihatku.
"Iya."
Aku melenggang masuk ke dalam kamar. Tak ada lagi tatapan senyum yang dulu menghiasi malam. Tak ada lagi niat untuk berepot-repot memasak untuk makan malam suamiku. Sudah, aku sudah menyerah. Aku manusia yang memiliki perasaan. Aku juga bisa menyerah pada keadaan yang menyiksaku setiap detik.
"Hufh."
Aku membaringkan tubuh di atas ranjang. Tubuhku terasa remuk redam, emosiku benar-benar di uji hari ini.
"Mas, jika memang kau tak bisa mencintaiku. Maka aku akan tetap mencintaimu. Walau rasa sakit ini memintaku menyerah. Tetapi jika aku lelah jangan salahkan aku untuk menyerah."
__ADS_1
Level terbaik dalam mencintai adalah melepaskan seseorang yang kamu cintai serta membiarkan orang itu bahagia dengan pilihan hatinya. Aku memang tidak setuju dengan kalimat itu. Namun, setelah kupikir memang ada benarnya bahwa melepaskan jauh lebih baik daripada mempertahankan dan akhirnya meninggalkan luka.
Bersambung...