
"Lea!" panggilku.
Gadis itu tampak sibuk di ruang tamu dengan kertas dan kanvas di tangannya.
Lea melihatku sinis. Tampaknya dia masih kesal karena aku yang melarangnya untuk test pramugari. Kenapa aku jadi merasa bersalah melihat ekspresi wajahnya yang kesal?
"Ada apa?" ketusnya.
Aku duduk di samping istri kecilku ini. Kulihat coretan tangannya di atas kertas itu. Aku tersenyum melihat gambar gunung yang dia desain sedemikan rupa.
"Saya minta maaf," ucapku.
"Buat apa?" ketusnya lagi.
"Masalah kemarin!" jawabku.
"Lupain aja. Om itu udah jadi suami durhaka. Jahat sama istri. Enggak setia sama istri," sindirnya.
"Dih banyak amat. Durhaka dari mana?" protesku.
"Itu si Om minta Lea buat kuliah kedokteran. Lea enggak mau jadi dokter karena takut sama darah," ujarnya. Perasaan bersalah kian menyeruak masuk ke dalam dadaku.
"Iya deh saya enggak akan maksa kamu." Tanganku reflek mengusap kepalanya. Rambut Lea sebahu dengan poni bertengger di keningnya.
"Dih, ingat ya Om jangan sentuh-sentuh Lea. Om sendiri yang bilang enggak boleh sentuh," ujarnya mengingatkan aku.
"Iya, iya."
Aku tersenyum saat melihatnya tampak serius memainkan kanvas tersebut di atas kertasnya.
"Gimana kalau kamu nganggur dulu selama setahun. Tahun depan kamu boleh ikut test pramugari?" ucapku.
Tangannya terhenti sejenak dan langsung menoleh ke arahku dengan tatapan serius.
"Saya enggak menghalangi mimpi kamu. Saya cuma enggak mau orang tua kita curiga. Masa baru nikah udah pisah rumah aja," kataku melanjutkan.
"Kalau tahun depan Lea ketuaan dong, Om?" Bibirnya menggerecut kesal.
"Dih, 20 tahun itu masih sangat muda. Masih kecil dan bocah," celetukku.
__ADS_1
"Om itu selalu aja bilang Lea anak kecil," protesnya.
"Lah, kamu 'kan emang masih kecil. Sama kayak kamu panggil suami sendiri om," ujarku yang juga sebenarnya tidak suka dia panggil.
"Kan emang udah om-om." Dia tersenyum tanpa dosa.
"Jadi, gimana?" Aku menatapnya serius.
"Iya deh, Om. Lagian tahun depan setelah setahun kita juga cerai. Jadi, Lea bisa fokus sama pendidikan," sahutnya tanpa beban.
Gadis ini selalu membahas masalah surat perjanjian kontrak itu. Aku bahkan hampir tak ingat jika pernikahan ini hanya sebuah perjanjian. Bagiku, aku sungguh menganggap Lea sebagai istriku.
"Iya bagus," jawabku dengan wajah kecewa. "Oh ya, saya ada meeting keluar kota. Mungkin seminggu, kamu bisa jaga diri baik-baik, 'kan?"
"Lama amat seminggu, Om?" Dia menatapku curiga. Sebenarnya aku tidak ada pekerjaan di luar kota, tetapi ini alasan supaya aku bisa menikah dengan Felly.
"Namanya juga kerjaan ada proyek yang bagus saya selesain," jawabku. Aku membuka dompet dan mengambil kartu berwarna hitam di sana. Selama menikah aku belum memberi uang pada Lea karena dia selalu menolak. Katanya dia masih memiliki uang tabungan yang diberikan orang tuanya.
"Ini buat kamu. Pakailah, beli apa aja yang kamu mau!" ujarku meletakkan kartu tersebut di telapak tangannya.
"Beneran, Om, buat Lea?" tanyanya setengah tak percaya.
"Makasih, Om Suami. Sering-sering aja perjalanan bisnisnya supaya Lea dapat kartu hitam terus," celetuknya dengan senyuman tanpa dosa.
Andai dia tahu bahwa suaminya ini akan menikah lagi dengan wanita lain. Pasti dia akan terluka. Entahlah, apa Lea akan terluka karena baginya pernikahan kami hanya di atas kertas saja. Bahkan dia sama sekali tidak menganggap aku sebagai suaminya.
"Dasar mata duitan!" ketusku mendorong keningnya dengan gemas.
"Ihh, Om apaan sih? Suka amat deh dorong-dorong kening Lea," gerutunya.
Aku terkekeh pelan dan duduk kembali di sampingnya.
"Habisnya kamu itu suka bikin saya kesal," ucapku mengelus keningnya dengan perasaan bersalah.
Seketika tatapan kami berdua tersenyum. Gadis ini masih sangat muda dan cantik. Tatapan matanya indah, aku selalu tak bisa berpaling setiap kali mataku dan matanya saling bertatapan.
Secepatnya aku menggelengkan kepala dan menepis semua perasaan tersebut. Tidak, aku tidak boleh jatuh cinta pada istri kecilku. Aku hanya mencintai Felly dan sebentar lagi akan menikah dengannya.
"Iya udah kalau gitu saya pamit dulu," ujarku mengulurkan tangan padanya. "Cium tangan suami!" suruhku.
__ADS_1
"Iya," ketusnya mencium punggung tanganku.
"Jaga pola makan, jangan begadang. Saya akan pantau kamu lewat Bi Atiek. Awas kalau kamu makan yang pedas-pedas, saya suruh kamu tinggal di kebun cabe," ancamku. Leon pernah mengatakan bahwa Lea memiliki riwayat maag akut. Jadi, pola makannya benar-benar harus dijaga dengan baik.
"Mie instan, bakso, seblak dan sate boleh 'kan, Om?"
"No!" tegasku. "Pokoknya enggak boleh!" tekanku sekali lagi.
"Makasih ya, Om." Aneh sekali wanita ini tiba-tiba berterima kasih padaku.
"Makasih buat apa?" tanyaku ketus.
"Makasih udah perhatian sama Lea. Hati-hati lho Om dari mata bisa turun ke hati. Dari perhatian bisa tumbuh perasaan," godanya sambil tertawa lebar seraya menjulurkan lidahnya.
Aku masuk ke dalam mobil. Lama kutatap bangunan mewah dan istana yang akan merajut aku dan Lea dalam cinta yang seharusnya. Di sana gadis itu berdiri sambil melambaikan tangannya dengan senyuman manis. Dia seperti bunglon yang sifatnya bisa berubah-ubah. Tadinya dia sedih. Sekarang malah terlihat bahagia.
"Maafin saya, Lea. Saya enggak mau kehilangan kamu."
Aku melambaikan tangan dan sebelum akhirnya berlalu meninggalkan rumah mewah tersebut. Hari ini aku akan menikah dengan Felly di rumahnya. Ini hanya sebatas pernikahan siri dan tidak diketahui banyak orang karena aku masih memiliki istri. Dalam agama Islam dan Kristen, poligami dalam pernikahan sangat ditentang. Namun, apa daya jika jalur hidup sudah menjadi seperti ini.
Sampai di kediaman Felly. Aku segera keluar dari mobil sembari menyeret koperku berjalan masuk. Pernikahan ini dijalankan secara agak Islam. Kedua orang tua Felly adalah pemuka agama, mereka sangat menjunjung tinggi nilai-nilai dari norma agama tersebut. Jadi, aku harus mengikuti walau banyak resiko yang akan aku terima dari hal ini.
Para tamu dan saksi sudah berdatangan, semuanya keluarga besar Felly. Sementara dari keluargaku tidak ada satupun karena memang mereka tidak tahu jika aku menikah untuk yang kedua kalinya.
"Apa Nak Shaka sudah siap?" tanya Pak Penghulu.
"Siap, Pak."
Felly yang duduk di sampingku pun tidak aku lihat sama sekali. Hari ini dia tampak cantik dengan gaun penggantin yang membelut tubuh cantiknya.
"Baiklah, ijab kabul akan kita mulai. Apakah semua saksi sudah siap?"
Semua mengangguk siap. Abi dan Umi melihat kami dengan sendu. Mereka tahu jika aku sudah memiliki istri dan mereka juga yang memintaku menikahi Felly karena penyakit yang bersarang di tubuh Felly. Setidaknya di akhir usia Felly bisa hidup bahagia bersama aku. Felly tidak tahu jika aku sudah menikah dengan Lea dan dia juga tidak tahu bahwa pernikahan ini hanya siri
Maaf, Lea. Maaf, semoga suatu saat dia paham. Namun, jika harus melepaskannya aku belum sanggup.
"Bagaimana para saksi?!"
"Sah!"
__ADS_1