Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 04. Chapter 23.


__ADS_3

"Ini."


Aku memberikan amplop putih tersebut pada Al. Aku tak sanggup mengungkapkan perasaanku saat ini.


Al membukanya dengan pelan. El juga ikut melihat. Mereka berdua memang kembar identik. Bahkan hampir sulit membedakan antara mereka berdua.


"Arin menderita kanker rahim."


Om Divta dan Mama Tari sontak melihat kearah dua anak kembarnya. Sementara aku diam saja dengan tatapan mata kosong. Aku juga tidak sanggup mengatakan hal tersebut. Rasanya terlalu sakit mengetahuinya kenyataan pahit itu.


Om Divta langsung merampas kertas tersebut dari tangan Al. Dia melihatnya dengan seksama barangkali Al dan El salah baca atau bagaimana?


"Sudah dua Minggu Arin hilang. Aku tidak tahu dia di mana," jelasku sambil menunduk.


Kami semua terdiam dan tanpa syok. Terutama Mama Tari, wanita paruh baya itu luruh dan terjatuh pingsan.


"Mama."


"Sayang."


Om Divta segera mengangkat tubuh Mama Tari dan membawanya masuk ke dalam kamar. Sementara aku seperti lelaki mati rasa dan tak bisa bergerak ke mana-mana. Seluruh tubuhku kaku seketika.


"Arin," ucap Al yang juga terduduk lemah.


"Kak, apa Arin sudah lama menderita penyakit ini?" tanya El menyeka air matanya dengan kasar.


"Jika di lihat dari tanggal pemeriksaan itu, sudah beberapa bulan yang lalu," jawabku.


Kami bertiga sama-sama diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Terdengar isakkan tangis dari mulut Al dan El.


"Argh!"


Al berteriak sambil memukul meja dengan menangis tersedu-sedu.


"Maafkan Kakak, Arin. Maafkan Kakak."


Kami semua menangis dalam penyesalan karena kebodohan dan keegoisan masing-masing yang memikirkan perasaan sendiri tanpa mau membuka mata lebar-lebar untuk mengetahui kebenaran yang sebenarnya.


"Kak, ayo kita cari Arin!" ajak mengandeng tanganku. "Ayo Kak Al."

__ADS_1


Aku dan si kembar keluar dari rumah dengan langkah terburu-buru mencari keberadaan wanita itu. Tuhan, aku berharap masih ada satu kesempatan untuk bertemu dengan istriku. Aku ingin meminta maaf. Aku, aku ingin memeluknya. Aku menyesal karena sudah menyakiti hatinya. Aku menyesal karena sudah membuat dia menderita. Harusnya, aku menjadi sayap pelindung untuknya. Tetapi kenapa aku justru menjadi salah satu yang membuat dia menderita.


"Arin," lirihku.


Air mata luruh menandakan bahwa kini aku benar-benar terluka dan merasakan kehilangan yang teramat sangat. Kenapa aku takut? Harusnya aku senang jika Ariana pergi, itu artinya aku tak perlu lagi menanggung malu karena menikahi wanita bekas pria lain.


Sampai di rumah sakit, kami bertiga langsung turun dengan langkah tergesa-gesa. Jantungku berdebar, takut jika terjadi sesuatu yang tak di inginkan pada istriku.


"Sus, apa di sini ada pasien bernama Ariana?" tanya Al tampak tak sabar. Sementara aku dan El juga melihat-lihat barangkali Ariana memang ada di sini.


"Tunggu sebentar ya, Pak." Suster tersebut tampak mengotak-atik layar komputernya mencari nama pasien seperti yang di sebutkan oleh Al.


"Ibu Ariana ya, Pak?"


"Iya, Sus. Di mana dia?" tanyaku mewakili.


"Ibu Ariana sudah di rujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap fasilitanya, Pak. Kondisinya semakin menurun. Rumah sakit ini tidak mampu menangani penyakit Ibu Arin," jelas Suster tersebut.


Aku hampir jatuh ke lantai jika tidak El yang menopang tubuhku. Ariana menurun dan kritis? Apa penyakitnya separah itu? Lalu bagaimana dengan bayinya?


"Di rumah sakit mana, Sus?" tanya Al menyeka air matanya.


"Maaf, Pak. Kami tidak bisa mengatakan di mana rumah sakit Ibu Ariana di rawat karena Dokter Galaksi tidak memberitahukan kepada kami gak tersebut," jelas suster itu lagi.


Aku teringat perbincanganku dengan Galaksi tempo hari. Di mana dia meminta aku meninggalkan Ariana karena dia menyukai istriku tersebut.


"Sus, bagaimana bisa rumah sakit ini tidak tahu di mana pasien nya di rujuk? Tolong jangan mempermainkan kami, Sus?" sentak Al sambil berteriak.


"Maaf, Pak. Kami benar-benar tidak tahu," jawab suster tersebut menunduk ketakutan ketika melihat wajah merah Al.


"Kak Naro."


Kami semua menoleh kearah suara dan melupakan pertengkaran dengan dokter tersebut.


"Auny," gumamku.


Wanita itu berjalan kearah kami. Auny dan Galaksi mengambil alih mengelola rumah sakit ini di bawah naungan Mas Bintang. Aku tak terlalu dekat dengan mereka, apalagi setelah aku tahu jika Galaksi mencintai istriku.


"Auny, di mana Arin?" cecarku.

__ADS_1


Wanita itu terlihat tersenyum santai dan mengejek.


"Untuk apa Kakak mencari Arin?" Auny menatapku sinis.


"Auny cepat katakan. Aku tidak punya banyak waktu untuk menjawab pertanyaan tidak bermutu darimu," sarkasku. Kami bertiga tampak melihat wanita itu.


"Arin tidak ada di sini. Dia sudah pergi ke suatu tempat dan kalian tidak akan menemukannya," jawab Auny.


"Ke tempat mana? Jawab!" sambung Al.


"Dih, kecilkan suaramu Abang Tampan. Ini rumah sakit bukan lapangan bola!" protes Auny yang masih sempat-sempatnya berbicara seperti itu.


"Auny, Kakak mohon katakan di mana Arin. Kakak mohon Auny." Tak peduli lagi dengan harga diri yang sudah jatuh ini. Aku hanya ingin bertemu dengan istriku, Ariana. Aku ingin memeluk tubuhnya dan mengucapkan ribuan kali kata maaf.


"Kakak ini tidak dengar, apa? Sudah aku katakan Arin tidak ada di sini. Dia berada di suatu tempat yang kalian tidak akan bisa temui lagi. Biar kalian puas," ucap Auny tampak emosi.


"Harusnya kalian senang dong, karena beban keluarga sudah tidak ada. Nama baik kalian juga akan kembali membaik."


"Jangan omongan kamu, Auny!" sentak El ikut menyambung.


"Cih, memangnya mulutku mau kabur yang harus di jaga segala," ketus Auny.


"Apa yang aku katakan memang benar, bukan? Kalian malu punya adik yang hamil di luar nikah? Apa kalian tahu kebenaran sebenarnya?" Auny tersenyum mengejek.


"Apa?" tanya Al.


"You bertiga, follow me!"


Kami mengekor Auny. Entah ke mana wanita ini akan membawa kami pergi, apa sebenarnya yang ingin dia tunjukkan pada kami bertiga. Jantungku lagi-lagi berdebar, aku takut menemukan Ariana dalam keadaan yang tak kuinginkan terjadi padanya. Semoga dia baik-baik saja.


Kami masuk ke dalam ruangan ICU. Di sana tampak seseorang terbaring dengan alat-alat medis di beberapa bagian tubuhnya yang lain. Dentingan pendeteksi jantung terdengar menggema. Kinerja pemompa darah dari jantung terlihat jelas di layar monitor.


"Mas Angga."


Aku menatap lelaki itu tak percaya. Apa sebenarnya yang terjadi pada Mas Angga, kenapa dia bisa ada di sini? Kenapa dia bisa terbaring dalam keadaan koma?


"Itu Mas Angga," ucap Auny lirih. Kami memang sepupu dekat tetapi aku dan Mas Angga memang tidak akrab seperti yang orang-orang lihat.


"Mas Angga."

__ADS_1


"Kak, sebelum hari pernikahan Mas Angga dan Arin di laksanakan. Mas Angga mengalami kecelakaan saat dia hendak membelikan Arin hadiah. Saat itu dia masih sadar dan meminta Om Dante dan Tante Ara agar menikahkan Kakak dengan Arin. Dia tidak mau calon istrinya malu karena hamil di luar nikah dan tanpa suami. Mas Angga sangat mencintai Arin. Itulah kenapa dia memilih Kakak untuk menikahi Arin. Agar Kakak bisa menjaga calon istri dan bayinya dengan baik."


Bersambung..


__ADS_2