
"Argh."
Prang!
Audrey melempar semua barang yang ada di atas meja riasnya sehingga membuat kamar tersebut hancur dan berantakan.
"Tidak. Aku tidak mau kehilangan Divta. Aku harus menikah dengannya. Apa kata teman-temanku jika aku gagal menikahi abdi negara itu."
Audrey mengusap wajahnya kasar. Bagaimana dia tak marah, tiba-tiba Melly datang dan seenaknya membatalkan pertunangan yang sudah dia rancang dan rencanakan sedemikian rupa. Surat undangan sudah tersebar dan di bagikan. Apalagi semua rekan kerjanya tahu jika dia akan di persunting oleh seorang kapten ternama di Ibukota.
"Ini semua pasti gara-gara gadis sialan ini." Audrey mengepalkan tangannya dengan gigi saling bergemeletukkan menahan amarah.
"Divta milikku. Aku akan singkirkan gadis kampung dan tidak tahu diri itu," tekannya dengan tatapan licik.
Dona masuk ke dalam kamar anaknya dan dia menggeleng saat melihat kamar yang berantakan seperti sedang terjadi perkelahian di dalam sana.
"Astaga, Audrey." Dona geleng-geleng kepala.
"Ma, aku tidak terima Divta seperti ini sama aku. Aku tidak mau tahu, Ma. Aku harus menikah sama Divta. Divta harus jadi milik aku," ucap Audrey memaksa. Dia tidak peduli jika lelaki itu yang mungkin tidak akan mencintainya. Divta harus menjadi miliknya.
Dona duduk di bibir ranjang sambil menatap anak perempuannya. Sebenarnya Audrey dan Rein adalah dua anak yang patah hati karena perpisahan kedua orang tua nya. Sang ayah menikah lagi ketika mereka masih berusia belia, saat itulah rasa dendam dan benci itu membuat keduanya memiliki ambisi yang kuat untuk memiliki apa yang mereka inginkan.
"Kamu tidak bisa memaksa Divta menjadi milik kamu. Sebaiknya lepaskan dan ikhlaskan saja dia bahagia bersama orang yang dia cintai," nasehat Dona. Dona pernah berada di posisi anaknya, ketika dia mencintai sang suami sepenuh hati tetapi lelaki itu malah mengkhianati kesepakatan yang telah mereka sepakati.
"Tidak, Ma. Aku tidak mau. Aku tidak akan pernah rela. Aku mencintai Divta," sarkas Audrey melihat kedua tangannya di dada. Matanya merah menahan lelehan bening di pipinya.
Audrey ingin bahagia seperti teman-temannya dan menikahi pria idaman seperti impiannya. Di cintai dan di sayangi. Dia ingin bahagia, apakah salah?
"Audrey kamu tidak bisa memaksa Divta mencintai kamu seperti kamu mencintai dia. Lebih baik kamu melepaskan dia sebelum menikah daripada kamu menyesal setelah menikah nanti," jelas Dona lembut. Anak perempuannya ini tidak bisa di kasari karena Audrey keras kepala.
__ADS_1
"Kamu cantik. Kamu pintar dan seorang dokter. Mama yakin suatu saat nanti kamu akan menemukan kebahagiaan kamu sendiri. Ikhlaslah, Nak. Belajar menerima keadaan, jangan memaksakan apa yang bukan menjadi milik kamu. Mama paham perasaan kamu, Mama tahu bahwa berada di posisi kamu tidak. Tetapi Mama yakin suatu saat nanti kamu bisa menemukan seseorang yang jauh lebih baik dari Divta." Dona mengusap bahu anak perempuannya.
Audrey memalingkan wajahnya kesembarangan arah. Pipinya mulai panas menahan lelehan bening yang sebentar lagi akan lolos. Kerapuhan dan kepatahhatiannya berhasil di tutupi oleh wajah sombong serta arogant itu. Seolah dirinya wanita kuat yang takkan bisa di sakiti oleh siapapun.
"Lepaskan Divta dan hiduplah bahagia." Dona mengenggam tangan anaknya. "Mama tidak mau kamu gagal seperti, Mama. Menikah dengan laki-laki yang salah dan akhirnya berujung pada perceraian," lirih Dona mengingat kekejaman sang suami yang tega membawa selingkuhannya datang ke rumah.
"Kamu ingat? Bagaimana dulu Papa menyakiti hati Mama, kamu perlu tahu bahwa sebenarnya Papa tidak pernah mencintai Mama. Itulah sebabnya dia menikah lagi dan meninggalkan Mama sendirian serta merawat kalian tanpa seorang suami."
"Harusnya kamu bersyukur karena bisa melepaskan Divta sebelum kalian terikat dalam pernikahan tanpa cinta." Air mata Dona menetes, sebagai seorang ibu dia juga hancur melihat putrinya yang patah hati karena gagalnya pertunangan tersebut, tetapi apa yang bisa dia lakukan selain memberi nasehat dan motivasi.
Audrey terdiam lalu menatap sang ibu, air mata menganak di pelupuk matanya. Pipinya yang tadi panas menahan gejolak rasa sakit kini mengeluarkan cairan bening yang menetes hingga ke bawah. Dia ingat sekali, bagaimana dulu mereka di tinggalkan saat dirinya masih kecil dan masih butuh figure seorang ayah. Dia masih ingat bagaimana rapuhnya sang ibu ketika surat cerai itu di layangkan padanya.
"Kamu bisa, Nak. Semua hanya masalah waktu." Dona mengusap rambut panjang Audrey. Putrinya ini sangat cantik karena memang menjalani perawatan kecantikan yang tak main-main.
"Mama."
"Terima kasih, Ma. Terima kasih sudah menjadi kekuatan aku. Terima kasih sudah meyadarkan aku. Aku berjanji tidak akan melukai hatimu. Cukup Papa saja yahh menyakitimu," ucapnya menangis di dalam pelukan sang ibu.
Ayah adalah cinta pertama anak perempuannya, tetapi tidak semua. Tidak semua seberuntung itu. Ada beberapa anak perempuan yang harus kehilangan sosok itu sebelum dirinya dewasa. Entah itu berpisah karena kematian atau perpisahan karena keegoisan. Dalam bentuk apapun yang namanya perpisahan akan tetap meninggalkan lupa yang mendalam. Begitu juga dengan perasaan dan rasa sakit yang pernah di alami oleh Dona dan kedua anaknya.
.
.
"Ada hubungan apa Tari sama Gevan?" gumam Rein yang masih mencari tahu tentang hubungan kedua orang tersebut.
"Selama ini Tari tidak pernah bercerita kalau dia dekat dengan lelaki itu." Rein tampak berpikir keras dan sesekali menghela nafas panjang.
Lelaki itu berjalan keluar ketika melihat Shierra melintas di depan kelasnya.
__ADS_1
"Shierra," panggilnya.
Gadis keturunan Tionghoa itu seketika berbalik dan langsung tersenyum ketika melihat siapa yang memanggilnya.
"Ada apa, Kak? Cari Tari?" tebak Shierra. Sebab Rein berbicara padanya hanya untuk bertanya di mana Mentari bukan karena ada hal lain.
Rein menggeleng, "Bukan," sahutnya.
"Lalu?" kening Shierra menggerut heran dan menunggu lelaki tersebut melanjutkan kata-katanya.
"Aku mau tanya tentang hubungan Tari dan Gevan," ujar Rein.
"Tari dan Gevan?" ulang Shierra.
Rein mengangguk karena dia sangat ingin tahu dengan hubungan kedua orang itu.
"Apa kamu tahu?"
Shierra terdiam sejenak, sebenarnya dia sedikit ragu untuk mengatakan siapa Mentari karena pasti banyak yang tidak akan percaya jika Mentari dan Gevan adalah tante dan keponakan.
"Kenapa diam?"
"Tari dan Gevan itu, tante dan keponakan, Kak," jawab Shierra jujur.
"Apa? Tante dan keponakan?" tanya Rein tak percaya.
Shierra mengangguk, benar dugaannya bahwa banyak yang tidak percaya karena dia juga sebenarnya masih belum percaya akan hal tersebut.
Bersambung....
__ADS_1