Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 06. Istri Kecil Shaka 11.


__ADS_3

"Iya juga ya!" Dia mendesah pelan. "Gini aja, Om tetap tinggal di Pontianak. Nah seminggu sekali terbang buat temui Lea. Lagian pernikahan kita kan cuma setahun, Om. Kenapa ribet banget mikirnya."


Ucapan Lea berhasil menyadarkan aku bahwa memang pernikahan kami adalah perjodohanku dan atas kesepakatan kami berdua. Lalu, ada apa dengan hati yang kurasa baik-baik saja ini? Rasanya sangat sakit mengingat awal pernikahan ini.


"Dih, kamu pikir Pontianak ke Jakarta dengan itu dekat?" protesku.


"Iya dekatlah, Om. Naik pesawat enggak sampai dua jam. Om 'kan kaya, banyak duit. Beli aja noh jet pribadi kayak di novel-novel biar bisa temuin Lea tiap Minggu," ujarnya.


"Saya tetap enggak mau Lea!" tekanku.


"Om, jahat banget sih. Om mau matiin impian Lea gitu aja? Lea itu sejak kecil pengennya jadi pramugari. Makanya Lea berjuang olahraga menjaga postur tubuh Lea," ujarnya.


"Lea, saya enggak mau. Saya enggak mau kita pisah. Jakarta dan Pontianak itu terlalu jauh, saya enggak bisa mantau kamu. Jadi, tolong menurut! Ambil jurusan yang kuliahnya bisa di sini," tegasku.


"Tapi, Om–"


"Jangan membentah suami kalau enggak mau dicap istri durhaka!" Aku mencebik keningnya dengan gemas.


"Aw, Om!" jeritnya mengusap dahinya.


"Udahlah saya mau balik ke kamar dulu," pamitku lalu keluar dari kamar Lea tanpa menunggu jawaban dari gadis itu.


* * *

__ADS_1


"Kenapa kamu nahan Lea buat test pramugari?" tanya Leon.


"Bukan menahan Leon! Aku enggak bisa jauh dari Lea," ucapku jujur apa adanya. Biarlah orang bilang aku egois dan memikirkan perasaan sendiri. Aku sungguh tak bisa membiarkan Lea hidup di luar sana.


"Cie, kamu udah jatuh cinta sama Lea?" ledek Leon sambil menyenggol lenganku.


"Dih, siapa juga ya jatuh cinta sama bocah ingusan itu? Aku cuma enggak mau entar orang-orang berprangsangka buruk sama kami. Masa nikah tapi enggak serumah?" ujarku.


"Iya deh. Tapi apa Lea mau ambil kedokteran?" tanya Leon sedikit ragu.


"Iya harus mau dong. Dia enggak boleh bantah perintah suaminya," jawabku.


"Tapi apa kamu enggak kasihan liat Lea nanti?" tanya Leon menatapku. "Atau gini aja sih, Lea nganggur dulu dalam setahun ini. Kamu selesaikan semua proyek yang ada di Kalimantan. Nah, nanti setelah semua udah selesai. Kalian pindah ke Jakarta. Di sana ada perusahaan Papa dan Mama yang enggak terurus. Jadi, kamu bisa ambil alih. Sementara perusahaan kamu ke sini minta Kak Naro yang backup," saran Leon.


"Kamu enggak bisa mematikan mimpi Lea. Sejak kecil dia memang bercita-cita jadi pramugari. Aku paham, Shak," ujar Leon lagi menepuk bahuku.


Aku mengangguk. Sepertinya saran Leon ada benarnya juga. Untuk setahun ini biarlah Lea menganggur dan hanya tinggal di rumah saja. Anggap saja kami bersama selama menikah karena tahun depan akan berpisah. Aku mungkin bisa dikatakan laki-laki jahat, menahan istriku tetapi malah berniat menikahi wanita lain. Aku hanya tak bisa jauh dari istri yang menyebalkan ini.


"Iya, saran kamu bagus. Semoga Lea mau nganggur," ujarku menimpali.


"Iya semoga. Soalnya dia keras kepala," sahut Leon menyeruput es kelapa yang kami pesan.


Aku terdiam dan menatap kosong ke depan. Entah bagaimana semua ini nantinya akan berjalan seperti tak aku inginkan. Namun, waktu tidak pernah bisa ditebak. Terkadang perasaan diuji oleh hal-hal yang tak pernah terbayangkan. Hal-hal yang membuat menjadi lemah seolah tidak kuat untuk saling mempertahankan. Padahal tidak selemah itu. Namun, hidup selalu punya hal-hal tak terduga. Kadang hati merasa di ragukan oleh kondisi dan keadaan. Aku mengerti, banyak hal yang tak pernah bisa kubuat pasti. Yang aku tahu, aku hanya berusaha sekuat-kuatnya aku.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Melamun terus dari tadi?" tanya Leon sambil mengunyah cemilan yang kami pesan.


"Enggak apa-apa," kilahku.


"Oh ya, gimana hubungan kamu sama Felly?" tanya Leon. "Aku dengar dia dijodohin sama anak ustadz," sambungnya lagi.


Mengikhlaskan sesuatu itu butuh waktu, tidak bisa instan. Apalagi melepaskan seseorang yang begitu di sayangi. Tidak mudah, sama sekali tidak mudah. Hanya saja, sesuatu yang memaksakan diri untuk di lepas, sekeras apapun mempertahankan tetap saja akan lepas. Begitu juga dengan aku dan Felly, sekuat apapun aku mengenggam tangan Nara dan menceritakan semua keluh kesahku saat aku mengeluh karena berpisah darinya. Dia tidak akan kembali lagi memelukku seperti saat ini. Namun, keputusanku untuk menikahinya sudah bulat dan aku tak akan menyesal nantinya. Semoga saja.


"Iya," sahutku pelan.


"Ikhlasin aja, lagian kamu udah nikah sama Lea. Lea itu sebenarnya baik. Dia emang manja, tapi kalau dibimbing dengan benar. Aku yakin kok dia bisa lebih dari Felly. Dia hanya perlu waktu apalagi selama ini Papa sama Mama emang manjain dia," jelas Leon.


Bagiku tak ada yang lebih baik dari Felly. Wanita itu tak bisa dibandingkan dengan siapapun. Bagiku, dia hanya ada satu di dunia ini. Jadi, siapapun tidak akan akan sama seperti dirinya.


Pelan-pelan saja, untuk menjalani sesuatu yang teramat di sulit diterima tidak bisa dengan waktu seketika. Nikmatilah prosesnya. Jika harus cenggeng tidak apa-apa, itu tanda masih memiliki perasaan kata Nara. Karena setiap orang yang patah hati punya hak untuk cenggeng. Nanti waktu akan menjawab segalanya. Butuh berapa lama? Tidak ada yang tahu. Setiap luka punya waktu sendiri untuk sembuh. Setiap Cinta butuh waktu untuk kembali tumbuh.


"Aku percaya kamu rubah Lea. Tolong jangan pernah sakiti dia. Dia itu bagai di hidup kami. Kelahirannya membawa ketenangan di antara jiwa yang terasa sepi. Jadi, cintai dia sepenuh hati. Kalian berdua bisa saling jatuh cinta jika emang mau untuk berubah dagu salam lain."


Aku menatap Leon. Bisa kulihat dari tatapan matanya bahwa dia sangat menyayangi adiknya – Lea. Entah kenapa ada rasa bersalah mendengar ucapan yang penuh harap itu? Rasanya sangat sakit. Tak bisa kubayangkan bagaimana reaksi mereka saat tahu bahwa aku akan menikahi wanita lain.


Apa yang aku dan Felly jalani hati ini tak pernah kami rencanakan sebelumnya. Tiba-tiba saja waktu mempertemukan kami kembali setelah berpisah beberapa hari. Kami sepakat untuk berpisah secara baik-baik, walau pada akhirnya hanya mendapatkan luka karena masih ada cinta di hati. Belajar menumbuhkan perasaan untuk orang yang baru. Kami belajar satu sama lain. Aku berusaha memahami melupakan cinta yang pernah menggebu di dalam dada. Berusaha mengesampingkan masa lalu. Berusaha memupuk perasaan-perasaan baru agar tumbuh memekar dengan indah. Tetapi oada kenyataannya melupakan tak segampang itu.


"Iya udah aku balik duluan. Jam istirahat udah kelar," pamit Leon sambil berdiri. "Jaga Lea dengan baik! Awas kalau dia sampai nangis gara-gara kamu, aku akan bawa kamu pindah planet!" ancam Leon sambil terkekeh pelan. Walau itu sebagai candaan, tetapi aku menanggapi ucapannya dengan serius.

__ADS_1


__ADS_2