
"Astaga!"
"Tata."
Aku menutup mulut tak percaya ketika melihat Mas Gevan sedang bercinta dengan Mbak Queen di kamar kami. Beberapa hari yang lalu aku memang izin keluar kota dan membawa Lala sengaja juga kubawa Bik Arum. Ini adalah trik ku untuk menjebak kedua orang ini. Alhasil ini adalah cara pertama aku untuk bisa melepas dari Mas Gevan.
"Tata."
Mas Gevan mencabut benda pusakanya yang tertanam dalam di gua milik Mbak Queen. Mereka belum mencapai puncak kenikmatan. Ah pasti Kepala pusing kalau tidak di salurkan.
"Gevan, apa yang kamu lakukan?" hardik Papa merutuk, Papa Rizel.
Segera suamiku memakai pakaiannya. Sementara Mbak Queen menutup tubuh polosnya dengan selimut tebal itu. Dua orang ini benar-benar tak tahu diri dan aku malah jijik melihat mereka berdua. Huh, untung saja perasaan cintaku sudah tak menggebu seperti dulu lagi, jadi aku dengan mudah melepaskan lelaki tersebut.
Bugh!
Papa Rizel memukul wajah suamiku. Mertuaku itu mantan anggota kepolisian. Dia salah satu pemimpin yang tegas kala itu. Sementara Mama menangis seraya memeluk Lala. Tadinya aku memang sudah mengadu dan mengajukan surat cerai. Tetapi kedua mertuaku tidak percaya pada apa yang aku jelaskan. Bahkan video yang sah-sah wajah anaknya saja masih bisa di sangkal sebagai editan.
Mama Meysa memang tidak menyukai aku sejak dulu. Tetapi aku tak peduli, hidupku bukan di atur olehnya walau dia mertuaku sendiri.
Berbeda dengan aku yang tenang saja. Aku sudah lama ikhlas dan tak peduli. Jadi melihat suamiku bercinta dengan wanita lain bukan hal yang menyakitkan bagiku.
"Kamu benar-benar anak tidak tahu diri!"
Papa Rizel masih memukul Mas Gevan dengan membabi buta tanpa peduli pada dua satpam yang mencoba melerai mereka berdua. Mertuaku yang mantan anggota kepolisian itu tentu memiliki tingkat emosional yang tinggi apalagi di didik secara militer.
__ADS_1
"Pa, hentikan!" titahku.
Seketika Papa Rizel berhenti lalu melihatku dengan mata merah.
"Tapi dia sudah mengkhianati kamu, Tata," ujar Papa Rizel.
"Tata tahu sejak awal, Pa. Sudahlah biarkan saja. Sebaiknya kita keluar dari sini," ucapku tenang.
"Mas, Mbak. Pakai pakaian kalian! Aku tunggu di ruang tamu."
Seseorang yang pernah ada tidak akan bisa dihilangkan begitu saja kecuali hilang ingatan. Tanpa di sadari tidak ada manusia yang benar-benar tumbuh tanpa seseorang di masa lalu. Mau tidak mau, kehilangan adalah salah satu hal yang membuat manusia belajar menerima kenyataan. Aku memahami hal itu. Sesuatu yang membuatku tidak bingung membenci. Sesekali aku ingin mengutarakan kepadanya. Bahwa rindu yang menggembang di dalam dada adalah sebuah pembuktian bahwa aku masih sangat dan sungguh mencintai dia. Walau untuk kembali bersama adalah sebuah ketidakmungkinan.
Melebur sudah hatiku melihat dua orang yang begitu aku percaya penuh hati jiwa dan raga. Berkeping remuk dan tak berbentuk. Mas Gevan adalah suami yang menikahiku sepuluh tahun lalu yang mencintai dan memperlakukan aku dengan baik. Sementara Mbak Queen adalah saudara tiri Mas Bintang, anak tiri Tante Senja. Wanita yang juga ku sayangi sepenuh hati. Dua orang yang aku anggap manusia terbaik, kini menghancurkan hidupnku. Aku terhempas di samping memejamkan mataku sejenak. Sekuat apapun aku menahan agar air mata tak leleh dari pipi, aku tetaplah manusia yang memiliki perasaan. Aku tidak pernah menduga betapa kejam cinta. Aku sama sekali tidak pernah membayangkan betapa pedih kehidupan. Dikhianati dan ditusuk suami, mungkin bisa aku pahami karena memang hubungan tak ada yang sempurna tetapi aku tak habis pikir kakakku sendiri adalah hal yang tak pernah aku bayangkan. Bahkan pada pikiran terjahat sekalipun aku tidak pernah membayangkan kehidupan yang sesakit ini. Namun, kenyataannya begitulah yang aku dapatkan.
*
*
Kami semua menunggu di ruang tamu rumah mewah yang menemani selama sepuluh tahun belakangan ini. Namun, siapa sangka rumah ini akan menjadi kenang di kala aku hilang. Ah tidak, aku tidak menyesal dengan keputusan yang aku buat memang sebaiknya aku memilih berpisah dari Mas Gevan demi kesehatan jiwa dan ragaku.
Kedua orang yang kami tunggu sejak tadi akhirnya datang juga. Dan aku baru tahu, jika Pak Rey adalah anak dari Om Mat, saudara kandung Mama Meysa. Tetapi dia menetap lama di luar negeri bahkan sejak lahir sehingga dia tidak mengenal sepupunya sendiri.
Ada Daddy dan Mama, Kak Naro dan Shaka serta Mas Bintang dari pihak keluargaku. Dari keluarga Mas Gevan ada Papa Rizel, Mama Meysa, Om Divta, Tante Tari, Om Mat dan Om Marcel.
Mama Meysa, Om Mat dan Om Marcel adalah saudara kandung Tante Tari. Mereka penjabat ternama di kota ini. Nama mereka memang menjadi salah satu nama yang di perhitungkan oleh banyak orang. Namun, bagaimana jadinya jika keluarga penjabat itu ternyata memiliki anak yang suka selingkuh? Ah aku tidak sabar melihat kehancuran Mas Gevan. Semua bukti video CCTV yang aku rekam kemarin sudah aku serahkan pada pengacaraku. Agar sidang perceraianku nanti berjalan lancar tanpa banyak drama.
__ADS_1
Untung saja Lala mau aku tinggalkan bersama Kak Nara dan Kak Bee jadi dia tidak perlu melihat perbuatan ayahnya.
"Silahkan duduk, Gevan," suruh Papa Rizel.
Ada Om Reza dan Tante Henny juga. Dia bisa melihat bagaimana perbuatan anaknya. Memang kalau dasarnya keluar dari rahim pelakor akan tetap jadi pelakor.
"Maafkan aku, Pa." Mas Gevan menunduk malu. Hilang sudah kewibawaannya sebagai seorang dokter ternama yang namanya selalu menjadi perbincangan para dokter dan perawat.
"Kamu harusnya minta maaf sama istri kamu bukan sama Papa!" sentak Papa Rizel menatap anaknya dengan tatapan membunuh dan seperti siap menerkam lelaki itu hidup-hidup.
"Maafkan Mas, Ta. Mas ha_"
"Tidak perlu minta maaf, Mas. Aku sudah tahu sejak beberapa bulan yang lalu. Aku sengaja diam karena mau melihat sampai di mana kamu mampu bermain api. Tapi ya sudahlah, aku sama sekali tidak marah. Aku malah bersyukur karena Mas akhirnya menunjukan siapa Mas sebenarnya." Aku tersenyum mengejek.
Namun, pada hari yang tak pernah kuduga. Jam-jam yang kuanggap semua akan baik-baik saja. Kenyataan telah menghempaskan segalanya. Kenyataan hancurkan semua yang telah kubangun dengan sepenuh jiwa. Mas Gevan mengatakan padaku; izinkan aku mencintaimu, Ta. Dia ingin menjalani hidup dengan orang yang ternyata diam-diam telah memintanya menjadi bagian dari hidupnya. Ah, aku sempat berlari menjauh dari kenyataan. Menghabiskan hari-hari sedih di tempat lain untuk membunuh waktu yang terasa pedih.
Aku tak lagi berharap Mas Gevan jatuh atas manis kata yang kukemas. Sebagian dari tubuhku, pengalihan dari dunia yang tak lepas darinya. Sebagian lagi kugunakan untuk bekerja sebagai tanda aku masihlah manusia. Aku tak ingin sekedar singgah apalagi nanti harus pindah. Akulah yang tetap menetap membuatnya merasa lengkap sebagai semesta. Akulah tubuh yang akan memenuhi lubang-lubang yang membuatnya dihantui sepi. Kupeluk dirinya dengan sepenuh hati, agar segala yang menjadi alasan dia ratapi bisa pergi dan berganti hari-hari yang menyenangkan. Tetapi itu hanya terjadi di dalam anganku karena pada kenyataannya semua hal telah berubah dan tak sama lagi.
Hari-hari yang menyenangkan meski gelisah tak sepenuhnya mampu kuhilangkan. Aku adalah ketidaksempurnaan yang menempuh jalan untuk menjadi utuh bersamanya, melengkapi segala hal yang membuatnya merasa dirinya adalah diriku yang membelah diri menjadi dirinya. Aku dan dia adalah sepasang ketidaksempurnaan yang tidak akan sempurna bila tak bersama.
"Aku diam bukan karena Mas bisa memperlakukan aku seenaknya. Aku hanya menunggu saat yang tepat untuk membongkar kejahatan Mas agar semua orang tahu siapa Mas sebenarnya."
"Daddy, Mama, Papa Rizel dan Mama Meysa. Sebelumnya aku ingin meminta maaf, sepenuh raga jiwa dan perasaanku. Aku tidak bisa tertahan dengan Mas Gevan. Aku ingin berpisah."
Bersambung...
__ADS_1