
"Kak, sebenarnya kamu tidak pernah mencintaiku. Kamu hanya terobsesi, Kak. Kalau kamu cinta dan sayang sama aku kamu pasti tidak akan pernah menyakiti aku seperti ini. Ini bukan pertama kali, Kak. Ini sudah sering dan untuk kali ini aku tidak akan diam lagi."
"Bulshit," umpatnya memukul stir mobil.
Aku mengumpulkan keberanian menatap Kak Rimba. Lelaki ini selalu tak bisa mengontrol emosinya. Entah kemana sifat penyabarnya yang dulu.
Dia menginjak rem mobil dengan mendadak hingga membuat tubuhku terhuyung ke dalam dan mengenai dasboard mobil sampai-sampai keningku luka dan mengeluarkan darah.
"Jangan syok tahu kamu tentang cinta, Nara. Aku mencintai kamu sejak kecil tapi kamu tidak peka. Aku melakukan semua cara untuk kamu, tapi apa? Kamu tidak juga bisa mencintaiku."
Saat Kak Rimba hendak memukul kepalaku tiba-tiba pintu mobil tersebut dan Kak Rimba di tarik paksa keluar dari mobil. Siapa? Siapa yang menolongku?
Aku melihat dari dalam mobil terlihat Mas Bintang dan Naro yang memukul Kak Rimba. Aku keluar dari mobil dengan menangis hebat karena ketakutan.
"Brengsek. Lelaki biadab. Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Nara," sentak Mas Bintang memukul Kak Rimba berulang kali.
"Hahah. Apa hakmu? Dia bukan istrimu lagi! Dia sudah milikku, jadi terserah aku. Mau melakukan apa saja untuknya." Kak Rimba berdiri sambil menyeka darah yang keluar dari hidungnya.
"Brengsek!"
Bugh bugh bugh bugh!
Mereka berdua masih baku hantam. Mas Bintang memukul Kak Rimba dengan membabi buta. Dia mengeluarkan semua emosi dan amarah yang meluap-luap di dalam dada karena terlihat dari raut wajahnya.
Sementara aku di peluk oleh Naro. Badanku sampai bergetar karena ketakutan. Aku menangis hebat dan memeluk Naro seerat mungkin.
Tidak lama kemudian datang dua buah mobil polisi dan langsung menangkap Kak Rimba. Lelaki itu memberontak dan berusaha melawan karena tidak mau di bawa oleh polisi.
"NARA."
"NARA."
Teriakkan Kak Rimba terdengar menggema di gendang telingaku. Aku menutup kedua telingaku karena tak mau mendengar suara dari lelaki tersebut. Aku takut, aku benar-benar takut. Bagaimana kalau dia di bebaskan hanya karena orang tua nya memiliki kuasa.
__ADS_1
"Kamu milikku, Nara. Aku tidak akan membiarkan kamu bahagia tanpa aku. Aku mencintaimu, Nara."
Saat dipaksa masuk ke dalam mobil pun Kak Rimba masih sempat berteriak dan memangil namaku. Aku tak tahu apakah itu cinta atau obsesi? Apa Kak Rimba pernah kehilangan sebelum kami bertemu setelah puluhan tahun? Tetapi jika orang yang membuatnya trauma adalah Putri harusnya dia membalaskan semua rasa sakitnya pada Putri. Lalu kenapa harus padaku?
"Kakak, tenang ya. Semua akan baik-baik saja. Ada Naro di sini," ucap Naro menenangkanku.
Jiwaku benar-benar terguncang selama menjalin hubungan dengan Kak Rimba. Sebenarnya kami tidak saling cinta hanya melampiaskan kekecewaan dengan cara saling menyakiti. Selama kami sebagai sepasang kekasih aku tak pernah merasa bahagia, apalagi sejak kehadiran Putri lalu sifat Kak Rimba yang berubah seratus delapan puluh derajat.
"Nara."
Tangisku terhenti ketika mendengar suara panggilan dari seorang pria yang selama ini aku rindukan. Mantan suamiku dan cinta pertamaku. Lelaki pertama yang aku cintai tetapi dia juga lelaki pertama yang membuat aku patah hati.
"Mas." Suaraku tercekat dan pelukanku terlepas dari Naro.
Mas Bintang berjalan kearah kami berdua. Wajahnya juga babak belur karena saling baku hantam dengan Kak Rimba. Dia tidak memakai kacamata seperti biasa, padahal penglihatannya tidak jelas.
"Nara." Dia tersenyum padaku.
"Ra."
Mas Bintang berdiri di depanku dengan darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Mas, kamu terluka." Kuseka darah yang keluar tersebut.
"Ra." Dia tersenyum.
Glep!
Dia langsung memelukku dengan erat sambil menangis. Sementara aku diam saja. Aku tidak tahu apakah membalas atau menolak? Percayalah ketika kau sudah bertemu orang selama ini kau rindukan, kau akan kehabisan kata-kata saat menatap matanya yang juga memancarkan kerinduan.
"Aku merindukan kamu, Ra. Aku rindu kamu."
Air mataku menetes. Sama halnya dengan dia. Aku juga merindukan dirinya, sangat malah. Tanganku melingkar di pinggang Mas Bintang dan kupeluk lelaki ini dengan erat bersama deraian air mata yang mengiringi perjalanan hati tersebut.
__ADS_1
"Aku juga merindukanmu, Mas."
Aku lelah di dera rindu. Aku lelah di serang oleh perasaan ingin bertemu. Kupikir bisa menghapus lelaki ini dalam ingatanku. Nyatanya, dia datang lagi dengan sosok dengan lebih nyata.
"Ra, maafkan aku."
Pelukan hangat dan nyaman ini menelusup masuk melalui rongga dadaku. Sudah lama tak kurasakan hangatnya peluknya. Setelah berpisah darinya, aku tak menemukan sosok yang bisa dijadikan tempat ternyaman untuk aku pulang dan bermanja-manja. Bahkan Kak Rimba yang ku pikir akan menjadi sosok tersebut malah datang membawa luka dan petaka.
"Aku mencintai kamu, Ra. Aku sangat mencintai kamu. Tolong berikan aku kesempatan sekali lagi. Tolong jangan tinggalkan aku lagi. Hidupku tak teratur tanpa kamu."
Penampilan Mas Bintang memang berbeda. Biasanya dia tapi dan teratur. Namun, sekarang dia terlihat kurus tak terurus. Padahal kami berpisah setahun lamanya dan setelah persidangan pidana Dokter Ikmal kemarin, setelah itu kami tak pernah bertemu lagi. Lalu bagaimana lelaki ini ada di sini? Bukankah dia menatap di Singkawang?
"Mas." Aku melepaskan pelukannya.
Aku harus mendongkakkan kepalaku agar bisa mencapai wajah tampannya. Dia memang tinggi dan bahkan aku hanya sampai dadanya saja.
"Kamu apa kabar, Mas? Kenapa kamu kurus sekali?"
Kata orang-orang cinta pertama memang sulit di lupakan. Hal itulah yang membuat aku tak bisa melepaskan bayangan Mas Bintang dari kepalaku.
"Aku tidak pernah baik-baik saja, Ra. Sejak kita pisah, aku hidup tak tentu arah. Aku hidup tanpa tujuan. Kamu adalah bagian dari hidupku, setelah kamu pergi aku bahkan tak tahu caranya untuk mengembalikan puing-puing yang hilang," ucapnya memegang kedua tanganku yang menempel di wajahnya.
Sementara Naro melihat kami dengan senyum. Padahal Naro adalah salah satu orang yang tidak setuju jika aku menikah dengan Mas Bintang kala itu.
"Aku mencintai kamu, Ra. Aku tidak bisa berpisah, aku tidak bisa, Ra. Aku sudah mencoba hidup tanpa kamu. Aku tahu, aku salah, aku salah, Ra. Aku sudah menyakiti kamu. Aku sudah membuat kamu trauma. Maafkan aku, maafkan aku Nara." Dia sampai berlutut di kakiku meminta agar memberikan dia satu kesempatan untuk bersamaku lagi.
"Mas."
Aku mengangkat bahu Mas Bintang agar berdiri kembali. Aku tidak suka melihatnya bersujud seperti itu.
"Aku juga mencintaimu, Mas."
Bersambung....
__ADS_1