
"Mas."
Mentari berhambur memeluk kakaknya yang baru saja datang dari kabupaten kota untuk menjengguk adiknya. Setelah mendapat kabar yang terasa mencekik dia langsung datang dan memastikan bahwa adik kesayangannya itu baik-baik saja.
"Tari."
Lelaki dewasa berpakaian dinas tersebut memeluk adik perempuannya. Mentari adalah anak bungsu dan kesayangan ketiga kakaknya, apalagi gadis itu tidak manja dan meminta sesuatu yang aneh seperti perempuan seusia dia pada umumnya.
"Mas, hiks hiks hiks."
Mentari menangis di dalam pelukan Mat. Dia paling manja pada kakaknya yang nomor dua ini. Apalagi kakaknya tersebut selalu menjadi sayap pelindungnya sebelum akhirnya menikah.
Meysa dan Marcel ikut terharu, keduanya juga begitu menyayangi Mentari. Walau usia yang terpaut sangat jauh tetapi bagi mereka Mentari adalah sosok adik yang perlu di lindungi.
Mat melepaskan pelukan adiknya. Dia seka air mata gadis itu dengan ibu jarinya. Mat bekerja sebagai salah satu anggota politik tingkat provinsi dan dia selalu memperhatikan adiknya itu di tengah kesibukannya. Untungnya juga dia memiliki seorang istri yang begitu menyanyangi dan menerima keluarganya apa adanya.
"Ayo duduk jangan menangis lagi. Masa adik Mas cenggeng," celetuknya memapah gadis itu duduk di sofa.
Ada Susanti juga di sana. Senyum wanita paruh baya itu mengembang ketika melihat anak-anaknya yang akur dan saling mengasihi. Susanti menikah muda kala itu sehingga tak heran jika dia memiliki cucu yang seusia anaknya.
Mereka yang lain menyusul duduk di sofa. Ada Rizel juga suami Mesya serta Lavia istri Marcel dan Eva istri Mat yang juga seorang anggota politik.
"Bu, sebenarnya apa yang terjadi kenapa kalian bisa sampai di pecat?" tanya Marcel lembut pada ibunya. "Dari awal Marcel sudah bilang sama Ibu jangan bekerja lagi, bawa Tari tinggal bersama kami." Dia menghela nafas panjang.
Wanita paruh baya itu tersenyum hangat. Di usia senja yang tentunya tak muda lagi, dia mengucapkan banyak rasa syukur karena memiliki anak-anak yang begitu perhatian dan sayang padanya.
"Biar Tari yang jelaskan," sahut Susanti.
"Tari."
Marcel melirik adiknya. Sementara para menantu hanya mendengarkan saja sambil melihat kearah adik kesayangan pasangan mereka. Mentari memang gadis baik dan bahkan sangat di sayangi oleh para iparnya juga.
"Tari, menjalani hubungan dengan majikan Tari, Mas," jawabnya jujur.
__ADS_1
"Menjalin hubungan?" ulang Mat dan Marcel bersamaan.
Mentari mengangguk malu, sebenarnya para kakaknya itu sudah melarang dia menjalin hubungan asmara sebelum lulus kuliah karena mereka tidak mau jika Mentari terjebak dalam hubungan yang salah apalagi terlarang, adik mereka itu masih terlalu polos untuk memahami betapa kejamnya kehidupan di dunia ini.
"Sama siapa?" tanya Mat mengenggam tangan adiknya. "Majikan kamu siapa?" sambungnya.
"Dia seorang abdi negara, Mas. Orang tua nya tidak setuju karena Tari orang miskin, lalu Ibu-nya menyuruh anaknya memilih antara Tari dan Ibunya."
"Lalu lelaki itu tidak pilih kamu?" tanya Mat lagi.
Mentari menggeleng, "Mas Divta pilih Tari, Mas. Tapi Tari tidak mau karena Tari tidak mau membuat Mas Divta kehilangan Ibu-nya hanya karena Tari. Tari tidak mau karena Tari dia menjadi anak yang durhaka. Jadi, Tari memilih pergi," jelas Mentari menangis segugukan.
Terdengar helaan nafas panjang dari mulut lelaki yang masih tampan tersebut, apalagi baru memiliki dua anak yang masih balita. Tentu wajahnya masih muda dan berkarisma.
"Dia Kapten Divta, Mat," sambung Meysa ikut menimpali.
"Kapten Divta?" ulang Mat tampak berpikir. "Kapten batalyon TNI AL?" tebaknya.
Meysa mengangguk, tengah mereka kenal Divta terutama Meysa karena dia pernah bekerja sama dengan lelaki itu dalam pengobatan gratis untuk masyarakat tidak mampu.
"Tari tidak pernah mengatakan kalau kita saudaranya." Meysa mendesah.
Mat dan Marcel mengusap punggung Mentari. Usia mereka memang terpaut sangat jauh. Jadi terlihat seperti ayah dan anak bukan kakak dan adik.
"Sudahlah, tidak perlu di pikirkan lagi. Sekarang Tari dan Ibu sudah aman di sini," ucap Mat menenangkan.
"Tapi Tari cinta sama Mas Divta, Mas," akunya yang tak bisa menyembunyikan semua perasaan yang mengembang di dalam dada. Bukan hanya sekedar cinta tetapi dia juga seperti rela memberikan sepenuh jiwa dan raganya pada lelaki itu.
Lagi-lagi ketiga saudara itu mendesah mendengar pengakuan Mentari. Sebagai orang yang pernah muda pada masanya tentu mereka memahami apa yang di rasakan oleh gadis tersebut. Masa-masa remaja yang indah apalagi masih cinta monyet tentunya perasaan itu masih menggebu dalam dada. Apalagi Mentari menjalin hubungan dengan pria yang jauh lebih tua darinya.
"Jangan pikirkan itu dulu, kamu selesaikan kuliah. Cari pekerjaan. Perbaiki dirimu. Suatu saat kamu akan menemukan lelaki yang sepadan dan setara. Sekarang utamakan dulu apa yang mau capai, masalah jodoh semua sudah di atur sama Tuhan," jelas Mesya menasihati karena dia pernah berada di posisi adiknya itu.
"Iya, Kak."
__ADS_1
.
.
Gevan menatap kosong kearah jendela kamarnya wajah lelaki itu masih babak belur akibat baku hantam dengan Rein. Bahkan bagian bibirnya masih merah walau sudah di obati.
"Aku baru sadar kalau Tante Tari itu cantik," ucapnya terkekeh. "Jangan sampai aku menyukainya, mana ada Tante dan keponakan menjalin hubungan?" Dia menggelengkan kepalanya berusaha menepis semua perasaan yang aneh.
"Gevan."
Rizel dan Meysa masuk ke dalam kamar putra sulungnya itu bersama Mentari. Mereka baru mendapat kabar kalau anaknya itu berkelahi di kampus, padahal sebelumnyanya anak lelakinya tersebut tak pernah membuat kasus atau masalah.
"Astaga, Gevan," pekik Meysa panik sambil memutar ke kiri dan ke kanan wajah anaknya.
"Aw, Ma. Sakit," rintih Gevan kesal sang ibu menyentuh bagian wajahnya.
"Kamu ya, kenapa bisa seperti ini, hah? Mama sudah bilang hindari perkelahian Gavan, kamu bukan Super Hero," omel Meysa.
"Aku hanya melindungi diri, Ma," sahut Gevan.
"Melindungi diri apa? Harusnya kamu tidak luka-luka begini kalau memang melindungi diri," cetus Meysa. "Berbaring! Mama mau pasang infuse," ucapnya mengeluarkan alat-alat medisnya.
"Ma, aku tidak apa-apa. Aku tidak mau di infuse," tolak Gevan karena dia takut harum suntik.
"Tidak apa-apa bagaimana? Wajahmu itu sangat menggenaskan, Gevan," sarkas Meysa kesal.
Rizel dan Mentari geleng-geleng kepala saja mendengar pertengkaran ibu dan anak itu. Meysa memang seorang ibu yang tak bisa melihat anaknya terluka, apalagi Gevan anak sulung dan kesayangan.
"Menurut saja, Van," sambung Mentari.
"Iya, Son. Supaya kamu cepat sembuh," timpal Rizel yang ikut menimpali.
"Iya." Gevan memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Kamu itu kenapa sih bisa sampai babak belur begini?" tanya Meysa geleng-geleng kepala sambil menusukkan jarum infuse di tangan putranya tanpa peduli jika anak lelakinya itu meringgis kesakitan.
Bersambung.....