
"Kenapa tidak masak?" tanyaku pada Queen.
Dia tampak menghela napas lalu menoleh ke arahku. Wanita itu sedang sibuk memberi cat pada kuku-kuku jarinya.
"Kamu 'kan tahu kalau aku lagi hamil dan tidak boleh capek. Ya sudah kamu masak sendiri saja," ucapnya menatapku sinis.
"Queen, hanya masak tidak mungkin membuat kamu capek." Aku tak habis pikir, apa yang ada di pikiran wanita ini.
"Lah, 'kan yang merasakan semuanya aku bukan kamu," jawabnya ketus.
Queen sangat berbeda jauh dengan Tata. Dulu mantan istriku itu selalu saja menyambut kedatanganku setiap kali pulang ke rumah. Dia menyiapkan makanan dan kebutuhanku.
Aku mengambil kunci mobil dan jaket lalu pergi meninggalkan Queen. Di dalam mobil, aku menangis sesenggukan aku. Aku memang bodoh, aku sangat bodoh. Aku telah melepaskan kebahagiaan yang aku miliki hanya demi cinta yang semu.
"Maafkan aku, Ta. Ini adalah hukum karma untukku."
Tata orang yang berbeda dari banyak hati yang kutemui. Selain tatapan matanya, lengannya, senyum dan seutuh tubuhnya. Aku selalu jatuh cinta pada caranya memandang dunia. Tetapi sepertinya terlambat cinta yang kurasa menggebu dalam dada telah berakhir dengan perpisahan yang menyakitkan.
Ruang yang dia simpan di kepalanya, yang dia tenangkan dalam dadanya. Dia merawatnya sepenuh jiwa. Katanya, semua itu dia lakukan karena dia mencintai dunianya. Bagiku, impian-impian besar selalu mengangumkan. Dia tak peduli dipandang gila dan terlalu banyak khayalan. Dia percaya, hidup tanpa impian adalah takdir yang malang karena Tuhan telah membiarkan dia dilahirkan. Itulah kenapa sebabnya Tata suka berpikir di luar batas manusia pada umumnya. Tetapi ternyata semua ruangan kosong yang terisi kini akan kembali tanpa penghuni. Semua terlambat, semua tak lagi sama. Aku dan Tata akan benar-benar menjadi orang asing di rumah tangga kami.
"Aku menyesal aku menduakan kamu, Ta. Aku tidak menemukan sosok kamu di manusia lain."
__ADS_1
Bodoh, aku memang bodoh. Sekarang, aku menyesali semua kesalahan yang aku perbuat sendiri. Padahal aku di berikan seorang istri sempurna seperti Tata tetapi masih saja aku tidak bersyukur dengan memasukkan orang ketiga dalam hubungan kami.
Andai bisa, aku tidak ingin mengenal yang namanya cinta. Andai bisa aku ingin mengulang semua kisah di waktu yang lama. Sebab jatuh hati pada Tata membuatku tak bisa benar-benar berlari. Aku mengejarnya bersama desau angin, pada malam-malam dingin, pada ketidaksanggupanku menumpasnya, di kepalaku berharap dia mengepal rindu. Dia menenggelamkan diri di sudut dadaku berkali-kali. Merasuk menjelma bayang-bayang yang menyiksa diriku setiap kali ingin pulang. Aku tak pernah bisa berjalan lebih jauh, sebab sampai saat ini masih saja di kepalaku harap tentangnya yang utuh.
Sampai di rumah sakit aku langsung turun. Sejak berpisah dari Tata aku menjadi sosok yang tak terurus. Hidupku benar-benar berantakan seperti hatiku.
Aku berjalan menelusuri koridor rumah sakit dengan tatapan hampa dan kosong. Air mata jatuh berderai. Aku, aku ingin melihat Tata dan Lala. Mereka adalah kekuatan hati yang saat ini mampu merubah duniaku.
Aku masuk ke dalam ruangan rawat inap Lala. Kulihat dua wanita itu tengah tertidur lelap. Tata mengenggam tangan putri kami seraya kepalanya di sandarkan pada bibir ranjang.
"Tata." Mataku kembali berkaca-kaca.
"Maafkan, Mas." Mungkin kata maaf adalah kata-kata yang tak ingin dia dengar dari bibirku.
Aku duduk di kursi samping Tata. Kutatap wanita yang telah aku sakiti ini. Tuhan, kenapa dadaku sesak setiap kali mengingat semua perbuatan yang aku lakukan pada mantan istriku dan juga putri kami, Lala?
"Lala." Kugigit bibir bawah menahan suara yang hendak keluar dari mulut. "Semua karena Papa, Nak. Kamu harus jadi korban atas perbuatan Papa."
Apakah ada yang tahu? Hal yang lebih sakit dari kehilangan seseorang? Bayangkanlah saat seseorang yang di cintai. Dia yang ada di samping. Namun, hatinya tidak pernah benar-benar bisa di miliki.
Rasa bahagia datang ketika perasaan terbalas. Cinta yang dulu dia ucapkan dibalas dengan pengucapan yang sama, dia juga mencintai. Dia sepenuh jiwa berasa di sampingku. Mewujudkan rencana-rencana baik dengannya. Tidak ada orang lain di hatinya. Tidak ada cinta yang memancar di dadanya.
__ADS_1
"Bolehkah berikan Papa satu kesempatan untuk menebus semua kesalahan Papa sama kamu? Papa berjanji tidak akan menyakiti kamu, Nak."
Anak adalah korban dari perceraian orang tua nya. Lala termasuk korban tersebut. Aku yang egois dan bodoh tega melepaskan istri dan anakku hanya demi napsu semata.
"Tata."
Keberanikan diri mengusap kepala mantan istriku ini. Dia terlelap dengan nyaman sembari mengenggam tangan Lala.
"Kamu wanita hebat yang pernah Mas kenal. Maaf, pada akhirnya Mas sudah mengkhianati janji yang telah kita sepakati bersama," ucapku penuh penyesalan. Rasanya benar-benar menyesal karena telah membuang emas berharga hanya demi sampah yang tak berguna.
Masih sama. Nama wanita yang telah pergi meninggalkan aku itu, masih tersemat di dalam dada. Aku pun tak paham kenapa aku tak bisa melupakan Tata begitu saja? Padahal kami sudah berpisah dan terpisah tetapi jiwa dan raga ini tak mau melepaskan bayang-bayang yang menghilang di dalam kalbu.
Terkadang memang lebih baik menjadi pengagum rahasia. Tetap menyembunyikan perasaan pada seseorang. Daripadanya, dinyatakan dan hanya mendapat luka yang mendalam. Namun, aku tak pernah menyesal menyerahkan semua perasaanku pada Tata. Walau pada akhirnya hanya luka dan penolakan yang aku dapatkan.
"Mas janji akan menyembuhkan Lala. Mas tidak mau kamu sedih karena memikirkan Lala yang sakit. Walau kita sudah tidak bersama, Mas akan pastikan bahwa kalian berdua akan baik-baik saja."
Setelah hujan usai, daun-daun akan kembali mencoba bangkit dari terpaan badai dan hempasan air. Dan matahari tidak lelah kembali menyinari. Dalam hidup ini selalu ada penguat.
Pada saatnya, ke depan selalu digantikan dengan kesiapan. Tidak ada yang membuat hati ini merasa tenang dan nyaman selalu akan ada kekhawatiran ketika menghadapi hal-hal yang telah terjadi di luar dugaan. Entah sampai kapan semua perasaan ini akan kembali membaik seperti semula.
"Mas akan tebus semua kesalahan Mas sama kamu dan Lala. Kalian harus bahagia. Kalian harus baik-baik saja."
__ADS_1
Bersambung...