
Nara POV.
Aku melihat Mas Bintang masuk bersama seorang gadis muda. Entah siapa gadis itu? Wajahnya tampak tak asing. Aku tersenyum kecut, baru saja kemarin Mas Bintang mengatakan sangat mencintaiku dan tak mau berpisah denganku. Tetapi siang ini aku sudah melihat dia menggandeng tangan gadis muda. Semudah itu Mas Bintang mengingkari janji yang dia buat sendiri.
"Sudah, jangan di lihat lama-lama. Nanti kamu malah cinta lagi sama dia," bisik Kak Rimba.
Aku mendelik kearah Kak Rimba. Kupikir dari tadi Kak Rimba tidak memperhatikan arah pandangku. Ternyata dia melihat apa yang aku lihat.
"Aku hanya melihatnya saja, Kak," kilahku.
Bohong jika aku mengatakan tidak mencintai Mas Bintang lagi. Aku masih sangat mencintainya. Bahkan perasaan menggebu itu masih ada. Hanya saja luka dan kesakitan yang dia turihkan dalam dadaku telah mendarah daging. Sehingga membuat aku tak memiliki kesempatan untuk melabuhkan perasaan ini padanya.
"Kita lanjut makan saja, Kak," ajak Naro.
Bisa kulihat jika ada emosi yang tertanam di wajah Naro. Dia terlihat marah walau aku tak tahu apa yang membuatnya marah.
Kami bertiga melanjutkan makan dan sesekali di selingi dengan tawa ringan serta obrolan singkat. Aku tahu jika dari tadi Mas Bintang memperhatikan kearah meja kami duduk. Seandainya waktu bisa di ulang kembali. Aku memilih tak ingin mengenalnya jika pada akhirnya Mas Bintang hanya meninggalkan luka yang sulit terobati.
Mengapa masih ada sisa rasa di dada? Di saat dia pergi begitu saja. Mampukah ku bertahan tanpa hadirnya, aku Tuhan menyampaikan rinduku padanya. Keseharusan mencicipi radar cinta antar perasaan dan melupakan. Aku harus memilih salah satu di antaranya. Entah suka atau tidak, beginilah takdir hidup yang membawa kami pada titik pertemuan.
"Rimba."
Kami semua menoleh kearah suara yang memanggil Kak Rimba.
"Putri," gumam Kak Rimba yang masih bisa ku dengar.
Wanita cantik berpakaian lengkap layaknya orang kantor itu berjalan kearah kami. Wanita ini asing, aku bahkan tak pernah melihat dia sebelumnya.
"Putri."
Kak Rimba berdiri menyambut wanita tersebut. Dan wanita itu memeluk Kak Rimba di depan aku dan Naro. Dalam hati aku bertanya, siapa wanita ini? Apa dia orang di masa lalu Kak Rimba? Atau pacar Kak Rimba? Dan ini lagi, kenapa aku merasa sedikit tak suka melihat dia memeluk Kak Rimba dengan agresif.
"Apa kabar kamu?" tanyanya.
"Seperti yang kamu lihat," jawab Kak Rimba. "Ayo duduk, makan sama kita," ajaknya kemudian.
"Terima kasih." Wanita itu duduk di sampingku.
__ADS_1
"Oh, perkenalkan ini Nara temanku," ucap Kak Rimba memperkenalkan aku.
Teman? Apakah aku sebatas teman? Kata Kak Rimba dia mencintaiku sejak dulu? Kenapa aku tak suka saat dia mengatakan bahwa aku adalah temannya.
"Dan ini adiknya, Naro," sambung Kak Rimba kemudian.
"Hai, Putri." Wanita itu mengulurkan tangannya kearah aku dan Naro.
"Nara," jawabku.
"Hai, aku Putri." Dia juga mengulurkan tangannya kearah Naro.
"Naro," jawab Naro tanpa menyambut uluran tangan Putri.
Wanita itu langsung kikuk. Naro memang sangat dingin dan sifatnya susah di tebak. Walau aku sudah menegur dengan bahasa planet dari sembilan tata Surya tetap saja dia bersifat seperti biasa.
"Kapan kamu datang ke sini?" tanya Rimba. Kenapa tatapan Kak Rimba sepertinya berbeda pada wanita ini.
"Kemarin. Maaf tidak memberitahu kamu. Aku tahu kamu sibuk," jawab Putri.
Lagi, kenapa aku merasa curiga dengan hubungan mereka? Tatapan Kak Rimba pada wanita ini dan tatapan wanita ini pada Kak Rimba keduanya memiliki rasa satu sama lain. Kenapa aku bisa tahu? Karena aku pernah merasakan yang namanya jatuh cinta.
"Tidak apa-apa. Aku tahu kesibukan kamu," sahut wanita itu seraya mengelus lengan Kak Rimba.
"Terima kasih sudah mengerti," ujar Kak Rimba tersenyum hangat.
Aku dan Naro terdiam saja mendengar perbincangan Kak Rimba dan Putri. Walau aku penasaran siapa wanita ini? Aku ingin sekali tahu. Tetapi aku takut Kak Rimba tersinggung dan salah paham.
"Papa sama Mama, bagaimana kabarnya?" tanya Putri pada Kak Rimba.
"Seperti biasa. Mereka masih menetap di luar negeri," jawab Kak Rimba.
"Jadi, kamu sendirian di sini?"
Kak Rimba mengangguk sembari sesekali memasukan makanan itu ke dalam mulutnya.
Kami menghabiskan makanan yang dipesan Kak Rimba tadi.
__ADS_1
"Rim, setelah ini bisa antar aku sebentar?" pinta Putri.
"Oh tentu," jawab Kak Rimba tersenyum.
"Ra, kamu pulang tidak apa-apa 'kan? Nanti untuk proyek kita, besok saja di lanjutkan, ya?" ujar Kak Rimba.
Aku hanya mengangguk tanpa membantah atau bahkan menolak.
"Iya sudah, kalau begitu. Kakak dan putri duluan, ya?" Dia mengusap kepalaku dengan sayang.
"Iya, Kak," jawabku.
Aku menatap punggung Kak Rimba dan Putri yang menjauh. Mereka tak terlihat seperti teman biasa, sebenarnya siapa wanita itu?
"Kak," panggil Naro.
"Iya, Ro?" Aku menoleh kearah adikku.
"Itu siapa sih, Kak? Kok kayaknya tidak bisa sekali?" tanya Naro.
"Kakak juga tidak tahu. Mungkin teman, bisa jadi pacar atau mantan," sahutku asal.
"Iya sudah, ayo kita pulang," ajakku pada Naro.
"Iya, Kak."
Aku dan Naro keluar dari restaurant ini. Aku tersenyum kecut ketika tak sengaja melihat Kak Rimba membuka pintu mobil agar putri masuk. Manis sekali perhatian itu, tetapi berhasil membuatku cemburu? Apakah salah aku cemburu walau belum mencintai Kak Rimba? Dia mengatakan bahwa mencintaiku tetapi setiba kejap dia melakukan hal yang sama pada perempuan lain.
"Kak." Naro mengusap bahuku. "Ayo masuk." Dia membuka pintu mobil.
Aku mengangguk dan masuk ke dalam. Sepanjang perjalanan aku tak berbicara apapun, pikiranku kian melayang dan melana entah kemana? Pertemuan dengan Mas Bintang tadi, seperti menguak luka lama yang sulit di sembuhkan. Lalu melihat Kak Rimba bertemu dengan seorang wanita cantik seperti membuatku cemburu.
Kuhela nafas sepanjang mungkin. Padahal aku sudah berusaha membuka hati untuk Kak Rimba dan melupakan Mas Bintang. Namun, di saat yang bersamaan aku harus dipatahkan oleh kenyataan bahwa laki-laki yang ku anggap pengobat luka ternyata malah menanamkan luka.
"Sudah, Kak. Jangan terlalu dipikirkan. Positif thinking saja, mungkin itu temannya Kak Rimba," ucap Naro menenangkan.
Teman? Entahlah, aku rasanya tak percaya dengan kata teman. Semua juga berawal dari kata teman lalu menjadi pasangan. Aku tak marah melihat Kak Rimba dekat dengan siapapun, hanya saja aku yang sedang membuka hati untuknya berharap bahwa dia benar-benar menyakinkan aku bahwa Kak Rimba lelaki yang layak kupilih setelah berpisah dari Mas Bintang.
__ADS_1
"Apa Kakak suka sama Kak Rimba?"
Bersambung...