
Apa yang aku dan Mas Bintang jalani hati ini tak pernah kami rencanakan sebelumnya. Tiba-tiba saja waktu mempertemukan kami kembali setelah berpisah beberapa hari. Kami sepakat untuk berpisah secara baik-baik, walau pada akhirnya hanya mendapatkan luka karena masih ada cinta di hati. Belajar menumbuhkan perasaan untuk orang yang baru. Kami belajar satu sama lain. Aku berusaha memahami melupakan cinta yang pernah menggebu di dalam dada. Berusaha mengesampingkan masa lalu. Berusaha memupuk perasaan-perasaan baru agar tumbuh memekar dengan indah. Tetapi oada kenyataannya melupakan tak segampang itu.
"Kak, jangan melamun." Naro menepuk pundakku.
"Eh, iya." Aku terkejut.
"Sudah sampai, ayo turun," ajak Naro.
Aku mengangguk. Keasyikan melamun membuat aku lupa jika sudah sampai di rumah mewah kami.
"Daddy sama Mama kemana, Ta?" tanya Naro.
"Kerumah Om Langit dan Tante Senja," jawab Tata.
"Ada apa mereka ke sana?" tanya Naro.
Kami duduk di ruang tamu. Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Naro.
"Tidak tahu, Kak. Katanya ada penting," jawab Tata sambil bersandar nyaman di bahuku.
Kedua orang tua ku memang sangat dekat dengan Ayah Langit dan Bunda Senja. Bahkan sebelum aku dan Mas Bintang dijodohkan mereka memang sudah dekat. Kata Daddy, Ayah Langit teman SMA-nya dulu. Setelah kuliah mereka berpisah, Daddy kuliah manajemen bisnis sedangkan Ayah Langit kuliah kedokteran.
"Kakak." Tata bersandar di bahuku.
"Hem, kenapa?" Kuusap kepala dada yang bersandar padaku.
"Jangan sedih terus. Nanti Tata juga sedih," ucapnya yang berhasil membuatku juga terkekeh pelan.
"Tidak, Kakak juga sudah tidak sedih lagi," kilahku.
__ADS_1
"Tapi wajah Kakak terlihat sedih," ucap Tata terlalu jujur.
Mustahil bila aku tak sedih setelah berpisah dari lelaki yang begitu aku cintai. Mustahil bila aku tak mengeluarkan air mata di saat kamu harus di pisahkan karena keegoisannya.
"Kak, Naro masuk kamar dulu," pamit Naro.
Aku membalas dengan anggukan. Wajah adikku itu tampak kusut, entah apa yang menjadi beban pikirannya? Apakah Naro sedang patah hati juga? Siapa tahu jika diam-diam selama ini dia memiliki kekasih. Maklum adikku itu susah sekali di tebak.
"Kakak, bagaimana hubunganmu dan Kak Rimba?" tanya Tata.
Aku terkejut ketika adikku menanyakan tentang Kak Rimba. Padahal selama ini aku tidak penah menceritakan sedekat apa aku dengan pengusaha tersebut. Jika masalah hubungan asmara, aku memang jarang sekali bercerita pada orang lain dan terkesan tertutup.
"Hubungan apa?" kilahku.
Aku dan Kak Rimba memang dekat tetapi kami tak memiliki hubungan spesial, walau dia sudah sering mengatakan mencintaiku. Tetapi aku belum menjawab perasaannya dan bukan berarti aku menggantung tetapi aku belum siap membuka hati untuk orang yang baru. Aku bahkan sering meminta Kak Rimba menolak jika dia tak sanggup menunggu aku.
"Kakak pacaran atau tidak dengan Kak Rimba?" tanya Tata lagi.
"Oh pantas. Soalnya tadi, Tata tidak sengaja melihat Kak Rimba sama seorang perempuan terus gendong bayi gitu, Kak. Mereka sepertinya dari rumah sakit atau tidak klinik," jelas Tata.
Aku terdiam sejenak, bayi? Bayi siapa maksudnya? Tadi Kak Rimba dan Putri memang sempat berpamitan pada aku dan Naro tetapi kami tidak tahu mereka kemana?
"Mereka seperti sebuah keluarga kecil, Kak," sambung Tata. "Apakah itu anak Kak Rimba? Apa selama ini Kak Rimba sudah menikah dan memiliki anak?" celoteh Tata tanpa titik dan koma. Tata ini kalau bicara seperti mesin jahit, lancar sekali. Bahkan kadang Daddy menggerutu karena bicaranya yang asal.
Aku terdiam sejenak mendengar ucapan dan ungkapan dari Tata. Apakah benar jika Kak Rimba menikah? Lalu untuk apa dia mendekatiku selama ini? Bahkan Kak Rimba dengan terang-terangan bahwa dia mencintaiku dan tidak akan menyerah memperjuangkan cintanya untukku. Lalu siapa perempuan dan bayi itu?
"Kakak masuk kamar dulu. Mau membersihkan diri. Setelah ini kita siapkan makan malam," pamitku berdiri sambil menyambar tasku.
"Iya, Kak," sahut Tata.
__ADS_1
Aku berjalan masuk ke dalam kamarku. Jujur saja ucapan Tata tadi sedikit membuat perasaanku terganggu. Bagaimanapun selama ini aku dan Kak Rimba memang dekat walau masih bisa di katakan pedekate.
"Hufh." Kubuang nafas panjang.
Kulempar tasku begitu saja lalu berbaring di atas ranjang seraya menatap langit-langit kamar dan merenungi takdir serta nasib yang tak seberuntung orang lain.
"Papa."
Ku pegang dadaku dan meresapi kehadiran Papa. Andai dia ada di sini aku ingin sekali memeluknya dan mengatakan bahwa aku sangat lelah dengan proses hidupku.
"Pa, Nara kangen."
Iya, aku merindukan sosok Papa-ku. Sosok lelaki hebat yang rela kehilangan nyawanya demi aku. Sosok lelaki yang mencintaiku hingga akhir. Saat ini aku telah kehilangan sosok tersebut selamanya. Bahkan sudah berlalu sekian puluh tahun tetapi jiwaku serasa di hempaskan oleh kenyataan.
"Pa, ada banyak yang ingin ceritakan sama Papa. Saat ini Nara butuh pelukan, Pa. Nara lelah sekali menghadapi kehidupan ini seorang diri. Nara lelah, Pa."
Aku tidak kekurangan kasih sayang orang tua. Daddy menyanyangiku seperti seorang ayah kandung. Mama memperhatikan aku seperti anak kecil. Aku bahkan merasa sangat bahagia di lahirkan di antara orang tua yang begitu menyayangiku. Namun, tetap saja aku merindukan sosok kasih sayang Papa-ku.
"Pa, bolehkah Nara juga pergi menyusul Papa di sana? Bolehkah Nara hidup bersama Papa saja? Di sini kejam, Pa. Di sini tidak ada keadilan. Hidup Nara tak sebahagia orang lain."
Kata orang-orang ayah adalah cinta pertama anak perempuannya, tetapi tidak semua. Karena tidak semua seberuntung itu. Aku adalah salah satunya, aku kehilangan Papa sejak usia belia. Papa menikah diam-diam dengan Tante Lusia, lalu kami pindah karena Mama dan Papa memutuskan bercerai. Sejak saat itu sosok Papa sudah bukan lagi tempat ternyaman untuk aku pulang. Jujur, aku iri melihat orang-orang yang masih bisa melihat papa-nya. Bisa bermanja-manja dengan papa-nya. Sementara aku harus menelan pil pahit saat Papa pergi untuk selamanya.
"Pa."
Aku memandang lekat foto yang terletak di atas nakas. Lalu aku bangun dan duduk untuk merengkuh foto usang yang telah lewat belasan tahun ini. Di sana Papa dan Mama masih menjadi seorang suami istri. Aku dan Naro masih kecil dan bergelar sebagai anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Kami tampak bahagia dengan saling merangkul satu sama lain.
"Pa." Kuusap dengan pelan figura yang sudah hampir tak terlihat jelas ini jika aku tak merawatnya dengan baik.
"Jaga diri baik-baik di sana. Sampai bertemu di titik terbaik menurut takdir. Semoga di kehidupan kedua nanti, Nara masih bisa hidup bersama Papa lagi."
__ADS_1
Bersambung...