Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 05. Tata Story 36.


__ADS_3

Aku masih mengenggam tangan Lala dengan erat. Kondisinya semakin menurun. Beberapa hari ini Lala sama sekali tak ada perubahan perubahan, padahal sebelum Mas Gevan meninggal Lala terlihat baik-baik saja.


"Mas, kenapa Lala tidak bangun-bangun?" tanyaku panik.


"Lala belum melewati masa kritisnya, Sayang," jawab Mas Rey.


Air mataku luruh. Tidak, Lala tidak boleh pergi meninggalkanku seperti yang Mas Gevan lakukan. Hanya Lala yang menjadi tempatku berpegangan kuat untuk menjalani pahitnya kehidupan ini. Jika dia tidak ada, dengan apa aku akan hidup.


"Bangun, Sayang. Kamu harus bertahan demi Mama. Tolong bertahan." Aku memohon dan berdoa agar Tuhan menguatkan anakku.


"Kamu adalah sumber kekuatan Mama. Kamu segalanya untuk Mama."


Aku ingin merayu Tuhan dan meminta agar kesembuhan serta keajaiban terjadi. Aku berharap Lala putri kecilku dan satu-satunya milikku bertahan hingga dewasa nanti bersamaku. Aku tidak akan sanggup jika kehilangan harta paling berharga dalam hidupku. Jika boleh meminta, biar aku saja yang sakit jangan Lala. Dia masih terlalu kecil untuk memahami arti sakit di tubuhnya. Dia masih terlalu kecil untuk tahu kehilangan yang sebenarnya.


Mas Rey merebahkan kepalaku di bahunya. Ku resapi pelukan nyaman dan hangat ini. Mas Rey, walau belum ada cinta yang tumbuh di dadaku, tetapi dia adalah tempat paling nyaman untuk aku pulang. Saat aku kehilangan sandaran, Mas Rey datang sebagai penolong yang aku cari selama ini.


"Aku tidak sanggup jika Lala juga harus pergi, Mas."


"Lala tidak akan meninggalkan kita, Sayang. Dia gadis kecil yang kuat. Mas yakin dia bisa melewati semua ini." Mas Rey mengecup ujung kepalaku.


Aku selalu percaya, tak ada hal yang abadi dari kesedihan. Atau dari hal apapun itu. Yang ada hanyalah orang-orang yang bertahan bersama sepanjang usia mereka. Dan, itu bukan sebuah keabadian. Itu adalah usaha mempertahankan kesepakatan. Sementara seseorang yang tak bisa menjaga kesempatan. Jadi, tidak ada lagi alasan untuk membiarkanmu betah di sini. Meski datang sesekali ke kepala, sungguh dadaku tak lagi membutuhkan rasa.


Hidup ini adalah titipan begitu juga dengan orang-orang yang ada di dekat kita. Tak ada yang sepenuhnya abadi. Semua akan kembali pada sang pencipta, entah cepat atau lambat manusia akan merasakan yang namanya kematian. Tak ada yang bisa menghindari hal tersebut. Sehebat apapun dia, sekaya apapun dia. Jika waktunya Tuhan mengatakan dan memanggil dia pulang semua akan menemui ajalnya.


"Tata."


Aku menoleh. Kulihat Daddy dan Mama serta Kak Nara, Mas Bintang, Kak Naro dan Shaka.


"Mama."

__ADS_1


"Tata."


Aku berhambur ke arah Mama dan mengadukan semua rasa sakit yang kini menghantam dadaku. Mama bukan ibu kandung dan yang melahirkan aku. Namun, dia memperlakukan aku layaknya anak yang lahir dari rahimnya. Cintaku padanya sangat besar lebih dari apapun.


"Tata takut, Ma." Aku merenggek di dalam pelukan Mama.


"Mama paham, Sayang. Mama tahu tidak mudah berada di posisi kamu. Dekatkan diri pada Tuhan karena hanya padaNya kamu bisa meminta apa saja termasuk kesembuhan untuk Lala," ucap Mama sembari mengusap rambut panjangku dengan tangan lembutnya.


Pertemuan pertama ketika aku memanggilnya mommy kala itu. Perasaanku sangat hangat saat dia memeluk aku.


Mama melepaskan pelukanku. Lalu dia seka air mata yang membasahi pipi. Selama ini aku tumbuh menjadi wanita cenggeng dan tak kusangka semua hal ini malah membuat aku semakin terpuruk dalam keadaantanv tak kuinginkan sama sekali.


"Kamu tidak pernah sendirian. Ada Mama, Daddy, Kak Naro, Kak Nara, Shaka dan kita semua sayang sama kamu. Kami akan membantu kamu melewati ini. Jadi, apapun yang terjadi serahkan semuanya pada Tuhan yang berkuasa di atas segala-galanya," ucap Mama mengecup keningku dengan sayang.


Kupejamkan mata sejenak meresapi segala kehangatan yang dia salurkan lewat ciuman tersebut. Aku sadar, bahwa di dunia ini aku tak benar-benar sendirian. Ada orang-orang terdekatku yang mencintai aku dengan tulus.


Tak banyak yang aku inginkan di dunia ini selain Lala yang terbangun darj tidurnya. Lalu kembali tersenyum padaku dan mengatakan dia merindukan sosok ku yang selalu memeluknya dalam keheningan malam.


Kini semua telah berbeda dari hal yang pernah di sebut sebagai rencana. Aku telah memilih jalanku sendiri, walau tak ada yang menemani melewati semua ini. Kubiarkan semua menjauh, sebab apalah artinya mempertahankan sesuatu yang selalu membuat rapuh. Aku belajar pada kenyataan yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Aku mencari cara untuk memahami apa yang terjadi. Walau memang tak pernah sepenuh hati.


Kupikir semua ini rencana Tuhan karena dia ingin aku menjadi manusia yang lebih baik. Namun, ternyata ini memang jalan takdir yang harus aku lalui. Berat sekali rasanya berada di antara ketiga titik antara kemarin dan kehidupan yang tak pernah aku inginkan ada.


Jatuh cinta adalah hal-hal yang tak selalu mampu disebut dengan kata terkadang hanya menjelma tatap mata dan degup di dada. Maka, kuserahkan saja segala kebekuan bibir ini pada tatap mata, pada rentang lengan, pada obrolan-obrolan ringan yang kutahan agar tak cepat berlalu. Aku, telah bersusah payah mengutuk waktu menahan dengan segala gemuruh di dadaku. Sesuatu yang akhirnya kusimpulkan sebagai rindu.


Tit tit tit tit


Kami semua dikejutkan dengan suara dentingan dari alat pendeteksi jantung Lala.


"Kak," panggilku pada Kak Galaksi.

__ADS_1


Kak Galaksi langsung menuju ranjang Lala dengan wajah panik. Beberapa dokter dan perawat juga masuk ke dalam untuk memeriksa anakku.


"Lala," lirihku.


Segera Mas Rey menenangkan aku yang menangis hebat. Anggota keluarga yang lain disuruh keluar oleh dokter. Sementara aku menahan diri di sini, aku tak mau keluar aku harus memastikan bahwa anakku baik-baik saja.


Lala dan hal-hal yang pernah kami lalui adalah alasan bagiku tak bisa melupakan tentangnya. Meski beberapa rencana seakan terancam sebagai kenangan belaka. Namun, hatiku tak pernah bisa kupungkiri. Aku tak pernah benar-benar bisa beranjak dari segala sesuatu hal perihal anakku. Segala hal yang pernah kuimpikan. Sesuatu yang sampai saat ini masih kupertahankan. Masih kuperjuangkan.


Lagi-lagi aku menangis di dalam pelukan Mas Rey. Ucapan Galaksi tadi siang seperti tamparan yang membuat hatiku seketika perih. Ketakutan demi ketakutan kian merasuk ke dalam jiwaku. Bagaimana bisa aku menghadapi kehidupan ini seorang diri? Aku tak sepenuhnya bisa kehilangan siapapun, aku ingin hidup layaknya wanita bahagia pada umumnya.


"Naikan tekanannya!" perintah Kak Galaksi.


"Baik, Dok."


Barangkali tidak ada cinta yang benar-benar baru di dunia ini selain cinta pertama. Setiap orang punya kisah masa lalu. Semakin lama menjalani hubungan dengan orang lain, semakin banyak pula kisah yang akan tersimpan di dalam ingatan. Aku memahami hal itu dengan utuh.


Pahamilah setiap orang tidak akan lepas dari sesuatu. Jikalau tak pernah benar-benar ingin melepaskan diri sepenuhnya baju hanya ingin menjalani semua ini dengan hal baru. Biarlah semua yang telah lalu benar-benar tertinggal dan tanggal. Jangan bawa apapun, karena aku juga merasakan hal yang sama.


"Ambilkan CPR!"


"Baik, Dok."


Kak Galaksi menekan benda yang tidak aku tahu namanya tersebut di atas dada Lala.


"Dok, jantung pasien berhenti berdetak."


Deg


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2