Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 05. Tata Story 40 (Ending)


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian..


Aku mengusap perut buncitku dengan senyuman bahagia.


"Sayang!"


Mas Rey datang membawa segelas susu segar dan sup buah kesukaanku.


"Mas," sapaku tersenyum manis.


"Ini sup buahnya sudah jadi," ucapnya tersenyum simpul sambil duduk di sampingku.


"Terima kasih, Mas," balasku mengambil semangkuk sup buah tersebut.


"Bagaimana kandungan kamu?" tanyanya.


"Sehat, Mas."


Waktu terus berlalu dengan cepat. Rasanya terlalu singkat. Setelah aku patah hati karena kehilangan Mas Gevan dan Lala. Mas Rey datang menjadi penyembuh luka dan memberikan aku alasan untuk tetap menjalani pahitnya kehidupan ini.


Bukankah di dalam dunia ini tak ada yang abadi? Termasuk kebersamaan. Kepergian Mas Gevan dan Lala memang menurihkan luka terdalam, sehingga membuat aku menjadi sosok wanita yang tak tahu arah dan tujuan hidup. Namun, aku sadar semua akan terus berjalan seperti jarum jam. Tak ada yang bisa menghentikan waktu atau sekedar mengembalikan seseorang yang tak bisa dijadikan tamu. Maka dari itu, aku berusaha menerima jalan takdir yang menang dipilihkan Tuhan untukku.


"Sini biar Mas suapin!"


Mas Rey, aku menikah dengannya setahun belakangan ini. Dia berhasil meyakinkanku tentang hujan dan pelangi. Bahwa pelangi akan muncul setelah hujan turun membasahi bumi. Siapa sangka, aku yang dulu pernah operasi pembalikan rahim saat kelahiran Lala, kini bisa memiliki anak kembali.


"Enak?"


"Enak, Mas. Aku suka," jawabku.


Mas Rey terkekeh pelan. Inilah teman hidupku. Suamiku. Pria yang sabar menemani aku dalam suka maupun. Selama aku meratap atas kepergian Mas Gevan dan Lala. Mas Rey tak sekalipun meninggalkan aku, walau mungkin sikapku yang angkuh dan sering menolaknya meninggalkan luka di dalam hatinya. Namun, Mas Rey tak pernah menyerah. Dia datang menjadi sosok malaikat yang membawaku keluar dari kegelapan.


"Oh ya, Mas. Setelah dari rumah sakit, kita ke pemakaman ya. Aku mau bawakan bunga untuk Mas Gevan dan Lala," pintaku.


"Iya, Sayang. Mas akan temanin," ucapnya merangkul bahu lalu mengecup ujung kepalaku dengan sayang.

__ADS_1


Hari ini adalah peringatan ketiga tahun kepergian Mas Gevan. Tidak terasa sudah selama ini dia pergi meninggalkan aku. Walaupun dia pernah meninggalkan luka terdalam di dada ini, tetapi dia tetaplah pria yang memberikan warna dalam hidupku.


"Oh ya nanti setelah lahiran Mas mau mengajak kamu pindah ke Jakarta. Di sana kita akan memulai hidup yang baru," ujar Mas Rey.


Aku menghela napas panjang. Sebenarnya sudah sering Mas Rey mengajak aku pindah ke sana agar bisa melupakan semua yang terjadi. Namun, aku keukeh bertahan di tempat ini setidaknya sampai tiga tahun kepergian Mas Gevan dan Lala.


"Iya, Mas."


Mas Rey memapahku masuk ke dalam mobil. Tak lupa dia membuka pintu agar aku bisa masuk. Usia kandunganku memasuki bulan kedelapan, sebulan lebih lagi bayi yang kubawa ke mana-mana ini akan melihat dunia.


"Pelan-pelan, Sayang." Mas Rey meletakkan tangannya di atas kepalaku takut tersandung kap mobil.


Aku duduk sembari menarik napas dalam. Hamil besar begini memang menguras tenaga. Sudah bergerak dan kadang berbaring juga harus menyamping.


"Sakit ya, Sayang?"


"Biasalah, Mas. Ibu hamil memang begini," jawabku tersenyum simpul.


"Andai Mas bisa menggantikan posisi kamu," ucapnya sendu.


"Tentu, Sayang. Kamu dan anak kita adalah harta paling berharga dalam hidup Mas. Mas tidak mau menyakiti hati kalian nanti," ucap Mas Rey mengusap perut buncitku.


"Mas, jika aku bisa menunjukkan bunga-bunga berterbangan di perutku. Kamu akan tahu Mas bahwa mereka bermekaran di sana," celetukku.


"Kamu ini...." Mas Rey tertawa gemas lalu menciumi wajahku.


"Mas geli!" Aku tertawa lebar.


Kini kami telah sepakat untuk tetap menjaga apa yang sudah dimiliki. Meski beberapa kali berdebat untuk hal-hal belum sepenuhnya kami pahami. Tak mengapa, itu wajar saja. Selama Mas Rey dan aku percaya satu hal. Sehebat apapun kami berdebat, percayalah, rasa sayang yang kami punya jauh lebih besar dari itu. Hal yang harus membuat kami kembali menyadari, kami tidak boleh lama-lama merawat emosi buruk. Agar apapun yang kamu jaga tetep terawat dan berbahagia. Dulu, aku pikir akan selama hidup dalam patah hati yang hebat. Menangis sepanjang hari dan berharap yang pergi datang kembali. Yang hilang muncul lagi. Namun, nyatanya Tuhan masih sayang padaku walau aku kerap menyalahkan-Nya. Tuhan memberiku bahagia dengan waktu yang tak pernah kuduga sebelumnya.


"Mas, aku pengen makan seblak," pintaku. Rasanya air liurku ingin menetes saat membayangkan makanan favorite itu menyentuh lidahku.


"Tapi tidak boleh pedas!" tegas Mas Rey.


"Mas, di mana-mana seblak itu pedas," renggekku.

__ADS_1


"Kalau sama Mas harus manis," senyumnya menggoda.


"Mana bisa begitu, Mas," protesku merebahkan kepala di bahunya.


"Menurut, Sayang. Mas tidak mau kamu dan anak kita kenapa-kenapa," ujar Mas Rey gemas sendiri melihatku.


Setelah dari rumah sakit kami segera menuju pekaman umuk. Setiap datang ke tempat ini aku seperti bisa melihat bayangan diriku yang menangis di sana.


"Sayang, ayo!" Mas Rey membantuku berjalan menghampiri batu nisan dua orang yang begitu aku cintai.


Mang Diman supir pribadi Mas Rey mengekor dari belakang sembari membawa bunga yang aku pesan tadi.


"Mas, Lala."


Air mataku tak bisa dibendung. Memang benar, bagaimanapun jahatnya seseorang di masa lalu semua akan hilang saat dia telah pergi dan contohnya aku.


"Aku kangen kalian," ucapku lirih.


Aku tak bisa berjongkok menggapai batu nisan tersebut karena perutku yang membuncit terasa sangat sakit dan membuat sudah bernapas.


"Mereka pasti sudah bahagia di sana. Apalagi melihat orang yang dia cintai juga bahagia," ucap Mas Rey merebahkan kepalaku di dada bidangnya.


"Aku kangen Lala, Mas," renggekku menatap wajah suamiku.


"Mas juga," sahut Mas Rey. "Tapi, kita tidak boleh meratap terlalu lama. Marilah mencoba untuk ikhlas melepaskan apa yang sudah menjadi milik Tuhan," tukasnya mengusap bahuku dengan lembut.


"Iya, Mas. Tapi kenapa susah sekali untuk ikhlas. Padahal sudah tiga tahun," ungkapku lirih dengan air mata yang berjatuhan.


"Hal itu wajar, Sayang. Bahkan ada orang-orang yang sampai butuh belasan hingga puluhan tahun hanya untuk ikhlas. Namun, semua yang hidup di dunia ini tidak ada yang abadi semua akan kembali kepada Sang Pencipta."


"Terima kasih ya, Mas. Sudah mau menemani aku melewati ini semua. Aku mencintaimu, Mas," ucapku menatap suamiku dengan cinta. Rasanya semua rasa sakit ini hilang setelah melihat wajah lembut suamiku.


"Sama-sama, Sayang. Ini sudah tugas Mas. Mas juga mencintaimu, sangat." Mas Rey mengecup keningku dengan penuh cinta dan perasaan.


T-A-M-A-T ...

__ADS_1


__ADS_2