
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
Apakah ini salah ku? Apakah aku mau berada diposisi seperti ini? Jelas aku tidak mau. Aku ingin hidup bahagia serupa perempuan lainnya yang di cintai oleh suami dan anak-anak ku. Tetapi keadaan malah membawa ku kesini.
"Mama, kenapa?" tanya Naro menatapku.
Aku tengah makan siang bersama Naro diruanganan rawat inap Nara. Hingga kini putri kecilku belum juga membuka matanya. Entah karena pengaruh obat bius, atau memang dia enggan terbangun.
"Mama tidak apa-apa, Nak," jawab ku seraya menyuapi Naro.
Naro adalah sumber kekuatan ku. Aku bersyukur memiliki anak yang dewasa sebelum waktunya. Saat seluruh dunia memojokkan ku masalah kepergian Mas Galvin, tetapi Naro menyakinkan ku bahwa semua akan baik-baik saja. Dia memeluk tubuh ku ketika raga ini rapuh dan tak berdaya.
"Mama jangan sedih terus. Ini bukan salah Mama," ucap Naro mengusap lengan ku.
Entahlah, aku benar-benar merasa bersalah ketika Mas Galvin menyelamatkan Nara. Aku merasa seperti seorang pembunuh. Apalagi tuduhan dari mantan keluarga suamiku yang terus menuduh ini dan itu.
"Papa akan sedih kalau lihat Mama sedih. Papa sudah pesan sama Naro, buat menjaga Mama dan Kak Nara. Kalau Mama terus sedih, Naro merasa gagal, Ma," ucap nya menatap wajahku. Tatapan sendu dengan bola mata yang berkaca-kaca membuat hatiku teriris sakit.
Naro masih terlalu kecil untuk memahami semua ini. Kenapa ucapan Naro membuat ku seperti seorang ibu yang tak bertanggungjawab.
"Mereka benar, Mama egois, Nak," ucap ku lirih.
Harusnya aku tak boleh menunjukkan sisi lemah ku didepan Naro. Tetapi aku tak bisa berpura-pura kuat.
"Mama."
Tubuh kecil itu memelukku kiat erat. Tangannya mengusap punggung ku. Tubuh ini, adalah tubuh yang menjadi tempat ku bersandar. Memiliki anak laki-laki seperti Naro seperti menjadi kebanggaan tersendiri bagiku.
"Ada Naro, Ma. Mama tidak salah. Mama tidak perlu merasa bersalah. Ini keputusan Papa, Ma. Papa ingin menebus semua kesalahannya pada Kak Nara."
__ADS_1
Kadang aku tidak percaya, ucapan ini keluar dari seorang anak berusia 7 tahun. Usia belia yang seharusnya hanya tahu tentang pelajaran dan sekolah atau bermain bersama teman-teman nya. Namun, Naro harus mendalami masalah orang dewasa. Dia masuk kedalam dunia yang belum seharusnya dia tahu sama sekali.
"Maafkan Mama, Nak. Maafkan Mama."
Kupeluk dengan erat tubuh ini. Menangis sehebat nya. Mataku sudah membengkak sejak kemarin kebanyakan menangis. Bahkan aku menangis tanpa jeda, seolah rasa sakit ini benar-benar tak bisa diobati.
"Naro berjanji akan selalu ada untuk Mama dan Kak Nara," ucap Naro.
Naro melepaskan pelukan ku, lalu tangan mungil nan kecil itu terulur mengusap pipi ku yang sudah tak terurus.
"Kita bisa, Ma," ujar Naro.
Aku mengangguk, harusnya aku yang berkata seperti itu pada anakku. Tetapi kenapa malah bocah berusia 7 tahun yang mengatakan hal tersebut padaku.
"Terima kasih ya Sayang, kamu sudah hadir di hidup Mama. Mama janji, Nak. Setelah ini tidak akan ada yang berani menyakiti kita," ucap ku mengusap kepala Naro.
Naro mengangguk paham. Lalu kembali melanjutkan makannya. Anakku yang satu ini memang tak banyak bicara. Kemarin Naro sempat menangis histeris karena kepergian Mas Galvin. Aku tahu jika selama ini Naro menyanyangi Papa-nya. Hanya saja dulu kesibukan Mas Galvin dalam bekerja, membuatnya kehilangan waktu bersama Naro.
Andai ada yang tahu betapa rasa bersalah dan sakit ini menghukum ku disetiap detik. Setiap kali melihat Nara yang terlelap nyaman diatas ranjang, lalu melihat kalung dileherku. Semua seperti luka yang tergores didalam sana lalu ditumpahi cuka sehingga menjadikan nya perih dan pedih.
"Nak, kamu lanjut makan ya. Mama mau lihat Kak Nara," ucap ku.
"Iya Ma," jawab Naro.
Aku berjalan menuju brangkar Nara. Lalu duduk dikursi samping ranjang tersebut. Ku tatap dengan lekat wajah damai nan teduh ini. Nara kembali mengingatkan ku pada Mas Galvin. Mas Galvin mengatakan jika merindukan nya tatap saja wajah Nara, maka semua rindu itu akan terobati. Tetapi kenapa rasa rindu ini tak juga berhenti menyiksa ku.
"Nara," lirihku seraya mengenggam tangan munggil tersebut. "Kapan kamu bangun, Nak. Mama rindu sama kamu?" gumam ku. Terlalu lama rasanya menunggu Nara bangun, aku merindukan sosok ceria yang selalu Nara tampilkan.
"Bantu Mama untuk kuat Nak. Saat ini Mama butuh kamu agar segara bangun. Mama merasa semua nya sulit sekali. Mama rapuh, Nak. Mama lelah, bolehkah Mama juga tertidur untuk menghilangkan segala penat didalam dada."
Ku rebahkan kepalaku di lengan Nara mencari kenyamanan dari tangan munggil tersebut. Seraya ku pejamkan mata ini, meresapi segala rasa sakit yang terasa menyiksa dalam dada. Aku tidak mengerti kenapa orang-orang hanya menyebutnya sebagai patah hati karena ketika aku bangun, ku dapati tubuh ku rusak terpatah-patah.
Setelah sekian lama tersewa dalam dunia manusia, aku baru sadar jika kematian itu ada dua. Kematian dalam arti sebenarnya, di mana benar-benar hidup namun terasa mati. Aku adalah yang kedua, aku mungkin hidup tetapi disisi lain aku juga merasa jiwa dan ragaku telah mati.
__ADS_1
"Ara."
Aku mengangkat kepalaku, kulihat Pak Dante masuk ruangan Nara.
"Iya Pak," sahut ku segera bangun dan menyeka air mataku.
"Bagaimana keadaan Nara?" tanya nya
"Masih Pak," jawabku.
"Masalah biaya rumah sakit, semua saya lunasi. Kamu tidak perlu khawatir," jelas nya.
"Tapi Pak_"
"Kalau merasa tidak nyaman kamu bisa ganti uang nya nanti, tetapi jangan ditolak," potong Pak Dante.
Aku mengangguk, ternyata masih ada orang baik yang mau menolong walau tak memiliki hubungan apapun selain boss dan anak buah.
"Terima kasih Pak, maaf merepotkan," ucapku tak enak hati.
"Its oke Ara," jawab Pak Dante tersenyum.
Pak Dante duduk disamping Naro yang makan dengan lahap. Boss ku tersebut memang selalu datang menjenguk setiap hari setiap jam makan siang. Biasa juga membawakan makanan untuk aku dan Naro.
Aku kembali berpikir masalah kemiripan wajahku dan almarhum istri Pak Dante, aku belum sempat menanyakan hal tersebut. Jangankan memikirkan masalah tersebut, masalahku saja belum selesai.
"Apa kabar Son?" tanya nya mengusap rambut Naro.
"Sehat Om Baik," sahut Naro antusias.
Aku kembali duduk dibangku samping ranjang Nara. Dalam doa dan sujudku selalu berharap semoga setelah ini tidak ada lagi drama yang menyakitkan yang menghampiri hidupku.
Bersambung...
__ADS_1