
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
"Ma-ma."
Aku segera terbangun ketika mendengar suara lirihan Nara memanggilku.
"Nara."
Segera aku berlari memanggil dokter. Dokter masuk dan memeriksa kondisi Nara.
"Bagaimana Dok?"
"Kondisi Nona Nara, sudah mulai stabil. Dia sudah melewati masa kritis nya," jelas Dokter Aldy.
"Terima kasih Dok," sahutku.
Air mataku menetes haru. Akhirnya penantian selama beberapa Minggu terakhir terbayarkan. Nara terbangun dari tidurnya. Aku merindukan sosok gadis kecil ku ini.
"Nara."
"Ma-ma."
Ku cium wajah anakku dengan sayang. Aku tak bisa menahan lelehan bening yang mulai menganak dipelupuk mataku ini. Tak tahan, aku tak bisa menahan haru.
"Mama kangen sama kamu, Nak. Di mana yang sakit?" cecar ku.
"Na-ra juga ka-ngen sama Ma-ma," ucap Nara dengan suara lirihan yang membuat hatiku berdenyut sakit.
"Masih sakit, Nak?" Ku usap kepala Nara dengan sayang.
"Disini, Ma," jawab Nara seraya menunjuk dadanya bekas operasi.
"Nanti sakitnya akan hilang. Kamu yang kuat ya, Nak. Tadi dokter sudah menyuntikkan obat anti nyeri," jelas ku.
Nara mengangguk. Gadis kecil itu menelisik ruangan yang mungkin terasa asing bagi nya.
"Mama, Nara di mana?" tanya nya polos.
"Nara ada dirumah sakit," jawabku.
__ADS_1
Nara terdiam sejenak. Mungkinkah dia sedang memikirkan sesuatu dipikiran polosnya?
Ayah, Ibu, Kak Dea dan Mas Bayu masuk kedalam ruangan bersama Naro yang memakai seragam sekolah.
Ayah menatap Nara dengan sendu dan lama. Nara adalah cucu yang tak diinginkan Ayah saat itu. Kehadiran Nara yang memutuskan hubungan kami. Mungkin aku egois yang saat itu memilih mempertahankan Nara dibanding mementingkan Ayah. Nara adalah darah daging ku, dia tidak salah. Aku lah yang tak bisa menjadi diri yang hubungan yang salah.
"Nara," panggil Kak Dea. "Bagaimana kondisi kamu, Nak?" tanya Kak Dea lembut.
"Nara sudah sehat, Tante," jawab Nara antusias.
"Cepat sembuh ya, biar bisa main sama Kak Zenia lagi," ucap Kak Dea.
Nara mengangguk. Lalu dia menatap Ayah dan Ibu yang mungkin saja terasa asing di matanya. Sejak Nara lahir dia tidak pernah mengenal kakek dan neneknya dari sang Mama.
"Nara," ucap Ayah pelan. Namun masih didengar oleh telinga ku.
Kening Nara mengerut heran. Dia tidak mengenal Ayah.
"Sayang, ini Kakek. Dia ayah Mama," jelas ku.
"Kakek?" ulang Nara.
Aku mengangguk sambil tersenyum hangat. Melihat Nara yang sudah sehat membuat ku bernafas lega dan terus berharap jika Nara selalu tersenyum disetiap denyut nadiku. Sebab senyum itu mampu menguatkan semua kegelisahan dalam jiwa ku.
"Nara, ini Kakek," ucap Ayah.
Terlalu banyak hal yang mungkin saja terjadi di masa kecil Nara. Aku berharap dia akan menjadi wanita kuat setelah tumbuh dewasa ini. Setelah ini dia harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya telah kehilangan sosok ayah yang begitu dia cintai. Kondisi kaki Nara juga masih belum pulih, dia belum bisa berjalan normal dan harus menggunakan tongkat. Aku yakin Nara kuat dan bisa menghadapi ini.
"Apa kabar kamu, Nak? Maafkan Kakek," ucap Ayah mengusap kepala cucu nya.
"Nara baik, Kek," jawab Nara.
Aku terharu melihat Nara yang tak merasakan dendam sama sekali pada Ayah. Walau Nara tak tahu jika kehadiran nya telah membuat kami bentrokkan. Tetapi aku bersyukur dia tidak pernah menanyakan hal tersebut padaku dan aku pun takkan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu sebelum dia lahir ke dunia.
"Cepat sembuh cucu, Kakek," ucap Ayah mengecup kening Nara.
.
.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Ibu saat aku membereskan barang-barang Nara, karena kondisi Nara sudah membaik dan dia juga sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.
"Ara baik-baik saja, Bu," jawab ku tersenyum getir.
__ADS_1
Jika boleh aku jujur, aku sama sekali tak baik-baik saja. Hanya aku sudah bisa bernafas lega karena Nara sudah sehat kembali.
"Ibu tahu apa yang kamu pikirkan, Nak. Jangan menyesali apa yang terjadi," ucap Ibu mengusap bahuku.
Sudah lama rasanya aku tak menceritakan keluh kesah ku pada Ibu. Hubungan kami merenggang sejak aku menikah. Aku rindu sentuhan hangat nya pada pada tubuhku.
"Apakah Ara egois Bu?" tanya ku menatap Ibu dengan mata berkaca-kaca.
Aku masih belum bisa melupakan tuduhan keegoisan yang dilontarkan padaku. Semua orang menuduhku egois karena mementingkan perasaan sendiri. Apakah aku benar-benar begitu? Aku juga tidak mau ada di posisi ini, jika bisa memilih biar aku saja yang mendonorkan jantung ku Nara. Tetapi kehendak Tuhan justru berkata lain dan aku bisa apa?
"Tidak Nak, kamu tidak egois. Ini pilihan Galvin bukan salah kamu. Berhenti menyalahkan diri sendiri. Jangan dengarkan omongan orang lain," sahut Ibu menenangkan ku.
Seperti yang Naro dan Ibu katakan bahwa aku tidak boleh menyalahkan diri sendiri. Tetapi kenapa perasaan bersalah ini tak bisa hilang dan terus menyiksa ku sangat dalam.
"Tapi aku tidak bisa bayangkan bagaimana reaksi Nara, Bu," ucap ku menghela nafas panjang.
"Nara akan mengerti setelah dia dewasa nanti," sahut Ibu.
"Aku takut Nara malah menyalahkan dirinya, Bu. Nara sangat menyayangi Mas Galvin," ujarku. Aku tak bisa menyembunyikan rasa takut dan khawatir ku. Sebab dia hal itu tiba aku tak bisa bayangkan bagaimana terluka nya Nara.
"Kamu jelaskan baik-baik padanya. Ibu yakin Nara akan paham," ujar Ibu.
Aku mengangguk dengan helaan nafas panjang. Ku tatap wajah Nara yang terlelap. Kondisi nya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Nafsu makannya juga bertambah, tetapi dia belum boleh makan yang keras-keras selain bubur.
"Nara itu gadis yang kuat seperti kamu. Jadi jangan takut jika dia akan mengalami mental blok saat kamu jelaskan yang sebenarnya terjadi," sambung ibu.
"Ara juga berharap begitu Bu," jawab ku.
Besok Nara sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Jadi malam ini aku sudah beberes barang-barang yang ku bawa selama menginap dirumah sakit. Sedangkan Naro di bawa pulang oleh Kak Dea. Sebab suasana rumah sakit tidak baik untuk kesehatan anak-anak.
"Ra," panggil Ibu.
"Iya Bu?" Aku menatap ibu sambil tersenyum.
"Ada sesuatu yang ingin Ibu bicarakan sama kamu," ucap Ibu.
Keningku berkerut heran. Aku tak bisa mencerna ucapan Ibu. Sebenarnya aku penasaran apa yang hendak Ibu katakan padaku, sebab wajah Ibu yang serius membuatku sedikit curiga jika yang akan dia katakan bersangkutan dengan Nara atau Naro.
"Bicara apa Bu?" tangan ku penasaran.
Ibu tampak menghela nafas panjang. Sudah lama aku tak berbicara dan bercerita sedekat ini dengan Ibu. Jujur saja aku rindu masa-masa kecilku.
"Kamu kembar."
__ADS_1
Deg
Bersambung....