Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2. Mira Rosari


__ADS_3

"Sudah enakkan, Ma?" tanya Mira pada sang ibu.


Wanita paruh baya itu menatap anak perempuan nya kesal.


"Mama akan sembuh kalau sudah melihat mu menikah," cetus wanita itu.


Mira merenggut kesal. Setiap hari dia harus mendapat pertanyaan yang sama, kapan menikah?


"Jangan bahas itu lagi, Ma," sahut Mira.


Sang ayah hanya tersenyum sambil menggeleng saja mendengar perdebatan istri dan anak perempuan nya. Sang istri terus mengomel setiap hari karena anak perempuan nya tak juga menikah, padahal usianya sudah tak muda lagi. Bahkan yang lebih muda dari Mira saja sudah memiliki dua anak.


"Kau akan jadi perawan tua, Mira. Kalau tidak mau dekat laki-laki," omel sang ibu.


"Inilah yang membuatku malas pulang cepat," gerutu Mira.


Mira duduk disamping ayah nya dengan bibir komat-kamit baca mantra. Dia bosan mendengar pertanyaan yang tidak bermutu tersebut. Hingga kini dia belum mendapatkan seseorang yang bisa menghapus luka di hatinya. Sebab baginya cinta hanya datang dan pergi lalu meninggalkan luka yang sama.


"Oh ya, Pak. Kata Papa mau mengenalkan Mira sama anaknya teman Papa yang jadi abdi negara itu. Bolehlah, Pa. Mama ingin punya menantu TNI!" seru Yanti, ibu nya Mira.


"Dih." Mira memutar bola matanya malas.


"Ada. Memang Mira mau?" Marvel menatap anak perempuan nya.


Mira anak sulung dari tiga bersaudara, dia memiliki satu adik laki-laki dan satu adik perempuan. Kedua adiknya sudah menikah setelah menyelesaikan kuliah. Sementara dirinya sudah berusia 32 tahun tetapi belum juga menemukan tambatan hati.


Wanita berusia 32 tentu bukan muda lagi tetapi sudah memasuki usia transisi dan dewasa. Mira juga menyadari hal tersebut. Namun, karena rasa sakit ditinggal saat sedang sayang-sayangnya hingga kini membuatnya enggan menerima cinta yang lain. Bukan tak ada yang mendekati nya, hanya saja wanita itu seperti memasang tembok pembatas antara dirinya dan lawan jenis.


"Jangan aneh-aneh, Pa. Aku tidak mau," tolak Mira cetus sambil melipat kedua tangannya didada.


Kata orang menikah dengan TNI harus berani ambil resiko, terutama karena jarak. Sebab dia tidak akan menetap dirumah walau sudah menikah. Ada yang setelah menikah di paksa berpisah karena tugas dan pekerjaan. Mira memiliki teman-teman yang menikah dengan TNI, kandang ditinggal saat melahirkan dan pulang ketika anaknya dewasa. Mira tidak akan sanggup, membayangkan nya saja sudah membuatnya bergidik ngeri.


"Dih, so menolak! Kapan lagi Mira?," omel Yanti. Kadang tekanan darahnya naik karena mengomeli anaknya tersebut.


"Aku masih muda, masih ingin berkarier," jawab Mira santai.


"32 tahun bukan muda, tapi sudah tua. Sudah ekspayet, kalau barang sudah tidak bisa digunakan lagi," tukas Yanti sambil mengomel dan menatap anaknya gemes.

__ADS_1


Mira mendelik mendengar ucapan ibunya, dari mana Ibu-nya itu tahu masalah ekspayet?


"Begini saja, Mir. Bagaimana kalau kau bertemu dulu dengan Komandan Rick?" saran Marvel.


"Bisakah menolak, Pa?" Mira mendesah.


"Tidak bisa," sergah Yanti.


Marvel lagi-lagi tersenyum saja. Sebenarnya dia juga khawatir melihat putrinya yang sudah lanjut usia tetapi belum menemukan pendamping hidup. Marvel takut, anaknya tidak bisa jatuh cinta dan akhirnya mati rasa karena perasaan di masa lalu.


"Ya sudah, malam nanti. Temui dia di Cafe Aming, Papa sudah mengirim pesan padanya," ucap Marvel. "Dia pria baik dan juga dewasa, seperti nya cocok untuk mu yang cerewet," tukas Marvel lagi sambil terkekeh melihat wajah kesal Mira.


"Iya," jawab Mira cetus.


Sementara Yanti tersenyum penuh kemenangan. Sebenarnya dia tidak memaksa anaknya harus menikah tetapi dia kasihan saja melihat Mira yang masih terjebak dengan kejadian di masa lalu.


Mira hampir menikah, bahkan segala persiapan sudah matang. Namun, satu hari sebelum pernikahan calon suaminya menghamili sahabat Mira sendiri. Hal tersebut sukses membuat Mira patah hati hebat. Laki-laki itu yang dia cintai, kurang lebih enam tahun itu malah mengkhianati kepercayaan yang telah mereka sepakati.


Trauma itu telah membawa luka mendalam dihati Mira, hingga dia tak berani membuka hati untuk orang baru. Mira takut kejadian yang sama terjadi padanya.


.


.


"Huh, begini lah kalau tidak laku-laku," gerutu nya sambil keluar dari mobil. "Aku itu tidak tua hanya dewasa saja," ucap nya lagi.


Mira mendelik ketika melihat para anak muda berbondong-bondong bersama pasangan mereka untuk masuk kedalam cafe. Cafe Aming yang terkenal di Pontianak dan bahkan memiliki beberapa cabang di kota lain. Sehingga tak heran jika malam Minggu dipenuhi oleh anak-anak muda.


"Dih, kalian belum tahu saja kalau cinta itu menyakitkan, Dek," ucap Mira menyinggung para anak muda yang masuk.


Beberapa orang melihat nya dengan aneh. Dalam hati bertanya, siapa wanita yang mengomel tidak jelas itu.


Mira masuk kedalam, wajahnya di tekuk kesal. Kedua orang tua nya benar-benar keterlaluan, dia merasa seperti Siti Nurbaya.


"Mana orang nya?" gumam Mira. "Semoga dia tidak datang, supaya aku bisa pulang. Kalau ditanya, bilang saja orang nya hilang," ucap wanita itu bermonolog sendiri.


Setiap meja di penuhi oleh pengunjung, hampir tidak ada meja yang kosong. Hanya bagian-bagian pojok saja yang tampak belum ditempati oleh orang lain.

__ADS_1


"Yes, dia tidak datang!" seru Mira bersorak gembira.


"Bu Mira," sapa seseorang.


Mira terdiam. Suara itu asing dan dia tidak kenal. Wanita tersebut menoleh, tampak seorang pria tampan berdiri dibelakang nya sambil tersenyum simpul.


"Siapa?" tanya Mira menyelidik. Lelaki ini sangat muda, mungkin muda dari dia.


"Saya Rick, tadi saya ditelepon oleh Om Marvel untuk menemui Ibu," jelasnya.


Mira berjingkrak kaget yang benar saja jika pria yang di kenalkan dengan nya ini seorang brondong.


"Oh."


Mira beroh-ria tetapi hatinya menggerutu. Lihat saja nanti dia akan mengajak ibu nya perang.


"Saya sudah memesan meja untuk kita," ucap Rick yajg melihat Mira menatap nya dengan penuh selidik.


"Iya," jawab Mira ketus.


"Mari, Bu," ajak Rick.


Lagi-lagi Mira merenggut kesal, apa dia setua itu sampai dipanggil ibu oleh pria yang berjalan didepan nya ini.


Mira duduk dengan wajah kesalnya. Ingin rasanya dia segera pulang dan memarahi kedua orang tua nya.


"Mau pesan apa, Bu?" tanya Rick sambil membuka buku menu.


"Apa saya setua itu sampai kau harus memanggil ku dengan panggilan Ibu?" tanya Mira sambil protes.


"Oh maaf jadi saya harus panggil apa? Saya terbiasa memanggil orang yang lebih tua dengan panggilan Ibu," jelas Rick, bibirnya melengkung membentuk senyuman.


"Memangnya usia mu berapa?" tanya Mira to the point.


Dalam hidupnya dia tidak pernah membayangkan bahwa akan menjalin hubungan dengan pria muda. Mira suka pria dewasa yang tampan dan baik hati seperti mantannya. Tetapi kenapa malah yang seperti itu sering menyakiti.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2