Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 06. Istri Kecil Shaka 14.


__ADS_3

"Lea."


"Eh, Mama." Aku menyambut mama mertua dengan senyuman lebar.


"Apa kabar kamu, Nak?" tanya Mama.


"Lea sehat, Ma," jawabku.


"Shaka belum pulang?" Mama tampak menelisik rumah mewah kami.


Aku menggeleng. Seharusnya Om Shaka sudah kembali beberapa hari yang lalu karena perjanjian hanya satu Minggu. Namun, sudah hampir lewat dari sepuluh hari Om Shaka belum juga kembali ke rumah. Dia sama sekali tak menghubungiku atau sekedar mengirim pesan supaya aku tidak khawatir atau panik.


"Om Shaka masih ada urusan bisnis, Ma," jawabku. "Eh Mama sama siapa ke sini?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Sendiri. Ini Mama bawain semur jengkol buat kamu. Ini masakan Kak Nara," ujar Mama memamerkan rantang nasi yang dia bawa tadi.


"Wah, makanan kesukaan Lea banget, Ma!" seruku. "Ayo, Ma. Masuk!" ajakku.


Aku dan Mama masuk ke dalam. Mama mertuaku ini memang baik dan lemah lembut. Walaupun dia sedikit tegas dalam hal berbicara, tetapi aku suka. Bagiku, tipe-tipe orang seperti ini cocok sekali jadi guru matematika.


"Oh ya, Mama mau ngajak kamu jalan-jalan. Sekalian ada yang pengen Mama obrolin tentang kamu dan Shaka," ujar Mama tersenyum lembut padaku.


Keningku mengerut heran. Apa yang ingin Mama bicarakan denganku?


"Mau bicara apa, Ma?" tanyaku.


"Nanti juga kamu tahu." Mama tersenyum saat melihat aku makan.


Sebab aku tahu jika dua orang sama-sama saling mencintai dan menjaga. Dia akan takut kehilangan seseorang yang dia cinta. Oleh sebab itulah, jika Om Shaka memang mencintai aku sebagai seorang istri. Dia tidak akan menduakan aku walau mungkin di luar sana ada banyak wanita yang menggodanya.

__ADS_1


Sebab jatuh cinta adalah hal-hal yang tak selalu mampu disebut dengan kata. Terkadang hanya menjelma tatap mata dan degup di dada. Maka, kuserahkan saja segala kebekuan ini pada tatap matanya, pada rentang tangannya, pada obrolan-obrolan ringan yang kutahan agar tak cepat berlalu. Aku, telah bersusah payah mengutuk waktu menahannya dengan segala gemuruh di dadaku. Sesuatu yang akhirnya kusimpulkan sebagai rindu.


Aku kadang merutuki kebodohanku sendiri yang berharap banyak tentang pernikahan kami. Padahal aku sadar bahwa pernikahan ini hanya di atas kertas dan kami tidak akan mungkin bersama. Namun, bolehkah aku jujur jika aku tidak mau kehilangan Om Shaka? Aku tidak mau berpisah dengannya.


"Makan yang banyak, supaya kamu subur dan cepat hamil!"


Aku hampir saja tersedak mendengar ucapan Mama. Jangankan hamil, malam pertama saja belum pernah. Om Shaka sudah berjanji tidak akan menyentuhku selama pernikahan kami. Jelas aku tidak mau dan tidak sudi, bagaimana jika aku hamil dan nanti dia malah meminta cerai. Bisa rugi aku sedangkan dia untung banyak.


"Lea masih kecil, Ma. Belum layak punya anak," ujarku tersenyum malu.


"Mama aja dulu nikah usia 18 tahun. Jauh lebih muda dari kamu," ucap Mama mencolek hidungku. "Udah ayo cepat makan, keburu sore!"


Aku makan secepat kilat. Kasihan mama menunggu terlalu lama. Aku bersyukur memiliki mertua yang benar-benar menerima aku apa adanya, walau bisa dikatakan jika aku ini sama sekali belum dewasa dan paham arti pernikahan.


Aku dan Mama masuk ke dalam mobil.


"Gimana hubungan kamu sama Shaka, Nak?" tanya Mama.


"Shaka itu punya pacar namanya Felly. Dia dokter di rumah sakit milik Langit. Tapi, Mama enggak pernah kasih restu karena beda keyakinan. Apa Shaka pernah bahas Felly?" tanya Mama.


Aku menggelengkan kepala. Om Shaka memang tidak pernah membahas tentang Kak Felly. Dia seperti menutup hubungannya dengan wanita itu.


"Mama harap kalian benar-benar bahagia. Sebenarnya Shaka laki-laki yang baik dan penyayang. Walau mungkin dia agak kasar," ujar Mama.


Ini bukan perkara perasaan yang perlu diragukan. Ini hanya soal cinta juga butuh logika yang dijalankan. Aku harus menyeimbangkan diri dengan pekerjaan, dengan segala hal yang harus kucapai. Agar nanti tak banyak membesarkan hatinya dengan kata-kata dan kalimat yang mampu mendampingi untuk mempertahankan apa yang aku punya. Aku harus ingin memilikinya dengan utuh. Bukan sekedar perasaan yang singgah lalu melepaskanku sebab kegagalan dan lelah langkahku. Apalagi pernikahan yang tidak berlandaskan cinta di dalamnya.


"Gitu ya, Ma. Lea akan belajar cinta sama Om Shaka, Ma," kilahku.


"Syukurlah, Sayang," ucap Mama.

__ADS_1


Aku tak yakin jika kami bisa saling mencintai. Aku saja belum paham bagaimana jatuh cinta itu. Selama ini aku terlalu fokus belajar dan mencari nilai terbaik supaya bisa masuk universitas yang aku inginkan. Saat aku hampir mencapai itu semua. Om Shaka malah melarang aku kuliah dan menganggur selama setahun. Ah, rasanya ingin sekali kucabik-cabik wajahnya.


"Mama dengar Shaka meminta kamu menganggur selama setahun ya?" ujar Mama lagi.


"Iya gitulah, Ma. Alasannya karena enggak bisa jauh dari Lea. Padahal 'kan jarak antara Jakarta dan Pontianak enggak jauh-jauh amat," jawabku setengah kesal. Suami tuaku itu benar-benar keterlaluan, awas saja nanti kalau surat perjanjian itu sudah tak berlaku, aku akan segera mendaftarkan diri sekolah penerbangan.


"Itu artinya Shaka sayang sama kamu. Dia enggak mau kamu jauh. Enggak apa-apa kamu ikutin aja dulu, ini bisa jadi kesempatan supaya kamu belajar menjadi istri yang baik. Tahun depan kalian sama-sama pindah ke Jakarta," ujar Mama.


Aku mengangguk. Sebenarnya aku tak setuju, menjadi orang pengangguran itu membosankan. Om Shaka pasti tidak akan mengizinkan aku bekerja.


"Iya sih, Ma. Sebenarnya capek banget pengangguran begini," keluhku bersandar di bahu mama mertua.


"Istri itu emang seharusnya melayani suami. Untuk pendidikan kamu belum terlambat, jalani aja dulu selama setahun ini ya," nasehat Mama.


Aku mengangguk. Apakah aku dan Om Shaka masih bersama tahun depan? Andai saja keluarga besar tahu jika kami berdua telah membuat kesepakatan terkait pernikahan ini. Pasti mereka akan kecewa. Tahun depan kami akan berpisah, bisa dikatakan ini pernikahan singkat yang pernah ada.


"Nak, kalau ada masalah apapun dalam rumah tangga jangan pernah ceritakan pada orang lain. Kalian selesaikan dengan baik ya?" pesan Mama lagi.


"Iya, Ma."


Ada rasa bersalah yang terselip di antara rongga dada ketika melihat wajah mertuaku yang penuh harap atas pernikahan kami ini. Aku merasa berdosa karena telah membohongi orang tua.


Mobil kami sampai di mall. Segera aku dan Mama keluar dari mobil.


"Ayo, Nak."


Aku sekilas melihat Om Shaka bersama Kak Felly yang jalan-jalan di area mall. Aku segera mengajak Mama ke tempat lain, aku takut Mama melihat Om Shaka dan nanti bisa ketahuan bahwa pernikahan kami memang hanya di atas kerja.


"Nak, kamu mau tas yang mana?" Weh, istri sultan pasti beli barang yang mahal-mahal.

__ADS_1


"Enggak usah, Ma. Tas Lea masih bagus!" tolakku halus.


__ADS_2