Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Ketika istriku mulai tak peduli


__ADS_3

"Kita mau masuk?" tanya Betrand tampak celingak-celinguk dari dalam mobil.


"Iya," sahutku keluar dari mobil.


"Apakah benar ini cafe milik Nara?" tanya Betrand yang menyusul keluar dari mobil.


Aku mengangguk seraya menghempaskan nafas dalam. Ku tatap bangunan yang di kunjungi banyak orang ini. Jujur saja aku masih syok jika cafe ini milik istriku.


"Ayo masuk."


Kami berdua masuk. Tampak pengunjung berlalu lalang, ada yang datang ada yang pulang. Setiap sudut meja di huni oleh orang. Hampir tidak ada yang kosong, hanya beberapa meja paling pojok.


"Ehh, Pak Bintang," sapa seorang wanita berambut sebahu.


Keningku mengerut. Bagaimana wanita ini bisa mengenalmu?


"Bapak, mau ketemu Ibu ya?" ujarnya sambil tersenyum. Apa mungkin dia tahu kalau aku suami Nara?


"Iya. Sayang ingin bertemu Nara," jawabku.


"Silahkan duduk sebentar ya, Pak. Ibu sedang ada tamu," ucap wanita itu meminta aku dan Betrand duduk di kursi yang mereka sediakan.


"Tamu siapa?" tanyaku penasaran.


"Pak Rimba, Pak."


Aku dan Betrand langsung diam. Apa sedekat itu Nara dan Rimba?


"Iya," sahut Betrand mewakili.


Nara seperti sudah tak peduli padaku. Apa dia baik-baik saja? Apa semuanya berjalan dengan semestinya? Aku tahu Nara mulai membiasakan diri tanpa aku. Dia mulai menikmati hidupnya yang baru dan tak lagi menjadikan aku sebagai salah satu kenangan yang terlupakan. Sementara aku mulai menyadari jika dengan sikapnya itu membuatku serasa kehilangan sesuatu yang tak biasa. Nara tak lagi ada di sisiku. Nara bukan wanita cerewet lagi yang memaksaku memakan masakannya walau harus merenggek beberapa kali. Dia juga bukan orang yang peduli lagi jika aku pulang malam atau saat aku tak pulang sama sekali. Dia mulai membiasakan diri untuk tidak menjadi kebiasaanku lagi.


Namun, sayang. Tahukah Nara? Hal-hal kecil seringkali membunuh dengan cara yang lebih besar, pelan-pelan, dalam jangka waktu yang panjang. Semua kebiasaan itu membuatku dihantam kehilangan. Tak usah dia tanya bagaimana sesaknya. Kehilangan Mona tak membuatku meratap lama meski menjalin hubungan dalam waktu yang lama. Namun, saat Nara mulai tak peduli. Aku justru merasakan ada yang hilang dari partikel-partikel hatiku. Aku tak tahu bagaimana rasanya menjabarkan sedih, tidak akan cukup jika hanya sekedar pedih. Kehilangan tak ingin mengenali diriku sendiri. Aku berusaha untuk menjadi orang lain. Aku mencoba menikmati hari-hari yang bukan diriku lagi.


"Tang."

__ADS_1


Panggilan Betrand berhasil membangunkanku dari lamunan panjang yang sedari tadi membicarakan tentang Nara.


"Ehh."


"Itu Nara," bisik Betrand.


Aku langsung mengarahkan pandangan kearah dua orang yang berjalan keluar dari ruangan Nara. Tangan keduanya saling menggenggam dan terlihat bahagia. Senyuman Nara seolah menjadi salah satu bukti bahwa aku telah menyia-nyiakan permata berharga saat ini.


"Nara."


Tanpa sadar aku berdiri dari dudukku dan menatap wanita itu dengan sendu. Sakit, sangat sakit. Hatiku hancur berkeping-keping ketika melihat dia tersenyum karena pria lain. Apakah begini dulu perasaan Nara saat aku dan Mona bermesraan di depannya? Dan bahkan aku dengan teganya mengatakan bahwa istriku adalah adikku.


"Ehh Mas Bintang," sapanya tersenyum biasa seolah tak terjadi sesuatu padanya.


"N-ara." Mulutku terasa kaku untuk mengeluarkan kata-kata.


"Hai, Bintang." Rimba menyalami aku dan Bertrand secara bergantian.


Aku membalas uluran tangan Rimba. Ku tatap lelaki yang dulu pernah menjadi sainganku di sekolah dan sekarang dia malah menggandeng istriku.


Darahku berdesir hebat. Tangan yang mengepal sangat kuat menandakan bahwa aku sedang marah. Pria mana yang takkan sakit hati saat istrinya di jamah oleh pria lain di depan mata sendiri.


"Iya, Kak. Kakak juga hati-hati ya," pesan Nara.


Rimba berpamitan pada kami semua. Sebelum akhirnya melenggang pergi meninggalkan cafe milik istriku.


"Mas, ada apa ke sini?" tanya Nara heran sembari menatapku penuh selidik. Mungkin Nara heran karena ini pertama kalinya aku ke sini dan bertemu dengannya.


"Aku ingin bicara," sahutku.


Nara nengangguk dan tak bertanya apa yang ingin aku bicarakan. Sepertinya kepedulian istriku sudah tak ada lagi.


"Kamu sudah makan, Mas?" tanyanya


Aku menggeleng karena memang belum makan siang. Aku datang ke sini karena penasaran atas apa yang di ucapkan Bee dan Betrand. Tetapi pertanyaan sederhana itu berhasil membuatk hatiku menghangat. Apa sebenarnya aku sudah mencintai istriku hanya saja karena aku terlalu mencintai Mona hingga tak sadar ada nama istriku tersemat dengan rapi di dalam dada.

__ADS_1


"Mas ajak temannya duduk. Aku siapkan makan siang untuk kalian," ucap Nara.


Aku dan Betrand kembali duduk setelah tadi berdiri karena menyambut kedatangan Rimba.


"Kalian tunggu sebentar ya, Mas," ujar Nara lagi.


"Iya, Ra."


Nara berlalu meninggalkan kami dan menyiapkan makanan untuk aku dan Betrand. Perhatian kecil ini membuat hatiku sedikit terobati.


"Tang, istri kamu baik banget," puji Betrand.


Ini kali keduanya Betrand bertemu Nara setelah resepsi pernikahan kami.


"Jangan sampai di lepaskan. Kamu akan rugi kehilangan dia," ujar Betrand.


Aku mengangguk. Aku tidak akan pernah melepaskan Nara. Aku akan kembalikan rasa cintanya yang dulu. Aku yakin Nara masih mencintaiku, contohnya dia masih peduli dan perhatian walau dalam hal kecil.


"Tapi aku lihat Rimba tadi seperti suka sama Nara," sambung Betrand yang berhasil membuatku melihat sahabatku ini.


"Rimba tidak akan bisa merebut Nara dari aku," tukasku. Ku pastikan tidak akan ada yang bisa merebut istriku begitu saja. Walau itu Rimba sekalipun.


"Kamu yakin, Tang?" Betrand terlihat tersenyum mengejek.


"Nara mencintaiku," ucapku yakin. Aku masih ingat jika istriku itu mengatakan dia mencintaiku. Dan bahkan meminta aku mencintainya juga.


Betrand menggeleng, "Perasaan cinta itu bisa saja hilang karena kamu yang dulu menyakiti hati Nara," ucap Betrand lagi.


Aku sontak terdiam. Selama ini Nara seperti tak mempermasalahkan hubunganku dan Mona. Walau aku tahu bahwa dia sakit hati dan terluka karena perbuatanku. Tetapi aku yakin cinta di hati Nara tidak akan luntur padaku.


"Tidak mungkin. Nara sangat mencintai aku. Dia dan Rimba hanya berteman saja. Mereka dekat sejak kecil," tegasku. Aku tidak akan biarkan hal itu terjadi. Rimba tidak akan bisa merebut apa yang sudah menjadi milikku. Nara adalah milikku dan hanya aku yang boleh memilikinya.


"Iya itu terserahmu. Percaya diri itu boleh. Tetapi jangan terlalu percaya. Kalau kamu pada akhirnya akan kecewa," ucap Betrand memperingatkan. "Sejak awal aku sudah bilang sama kamu. Nara adalah wanita baik tetapi kamu masih saja termakan omongan Mona. Ya semoga apa yang kamu bilang benar kalau Nara masih mencintai kamu seperti yang kamu harapkan."


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2