
Aku membuka mata pelan. Kepalaku masih terasa berat dan berdenyut sakit. Ku telisik kamar yang terasa familiar ini.
"Aku di mana?"
Aku berusaha mengumpulkan sejuta nyawa yang terasa melayang entah kemana? Aku menyandarkan punggungku ke headbord ranjang king size ini. Entah apa yang terjadi semalam? Kenapa aku bisa ada di kamar lamaku?
Seketika aku terdiam ketika teringat pada Nara, istriku. Di mana istriku? Kenapa aku ada di sini? Apa aku tidak pulang ke rumah semalam?
"Son."
Aku lihat Bunda masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan entah berisi apa?
"Bunda." Aku memaksakan senyum melihat wanita paruh baya yang berjalan kearah ranjangku.
Bunda meletakkan nampan tersebut. Lalu duduk di bibir ranjang. Senyum ayunya seakan menyadarkan aku dari mimpi burukku. Wanita ini tak melahirkanku, tetapi aku merasa nyaman saat berada di dekatnya. Apalagi dia menyanyangi aku tanpa membedakan antara aku dan Bee. Dia memberikan kasih sayang yang sebelumnya tak pernah aku dapatkan dari seorang ibu. Dia merawat dan membesarkan aku dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Masih pusing?" tebaknya mengurut bagian kepalaku.
"Sedikit, Bunda." Aku meringgis kesakitan. Kepalaku memang masih terasa sangat pusing.
"Kamu mandi dulu ya. Masih bau alkohol. Nanti langsung makan," ucapnya lembut. Wanita ini selalu mampu membuat jiwa resahku hilang. Tutur bahasa lembutnya membuat aku seperti menyadari hidup yang seharusnya.
"Iya, Bunda." Aku menyimak selimutku.
__ADS_1
"Setelah mandi dan sarapan, segera temui Ayah di ruang tamu. Ada yang ingin Ayah bicarakan," jelas Bunda.
Aku mengangguk. Lalu Bunda keluar dari kamarku. Sementara aku berjalan pelan menuju kamar mandi. Kepalaku memang masih berdenyut sakit seperti sedang di remas-remas. Entah berapa banyak wine yang masuk ke dalam mulutku semalam. Aku menghindari minuman itu tetapi sekarang minuman itu seperti pelampiasan rasa marah dan kecewa.
Ku biarkan air yang keluar dari shower ini membahasi tubuh rapuhku.
Dan kini sudah saatnya aku menyadari satu hal. Aku ternyata benar-benar kehilangan Nara. Nara seperti bukan lagi bagian terpenting dalam hidupku. Semua yang pernah aku harapkan dan impikan, sudah menjadi sia-sia. Kini rasa itu menjelma pergi dan tak kembali. Aku tak ingin istriku menjadi asing untuk sesuatu yang aku impikan.
Bagaimanapun aku tidak pernah memungkiri, Nara menjadi satu orang yang begitu penting bagi perjalanan hidupku. Dia wanita yang takkan bisa aku lepaskan. Dia adalah semesta yang tak pernah aku perjuangkan walau pada akhirnya aku bersikeras mempertahankan dia tetap berada di sisiku. Dia wanita yang takkan bisa aku lupakan, tidak akan bisa. Sebab perasaanku pada Nara lebih besar dari perasaanku pada Mona. Banyak sesal yang kini menjelma menjadi rasa penyesalan meski pedih rasanya mendengar penuturan Nara yang ingin berpisah denganku. Nara harus tahu, jantungku tak akan tenang saat rindu menghampiri aku. Tak ada tenang dari perjalanan sulit ini.
"Aku mohon jangan tinggalkan aku, Nara. Aku mohon jangan pergi. Maafkan aku."
Aku tahu permintaanku egois. Aku sudah menyakiti dan menurihkan luka di dalam hati istriku. Tetapi aku juga yang menolak untuk berpisah dengannya. Aku ingin menjadi penyembuh luka walau Nara mungkin tidak akan pernah mau memberikan satu kesempatan untuk aku memperbaiki segala kesalahan itu.
Setelah cukup lama menguyur tubuhku. Aku melilitkan handuk di pinggang dan keluar dari kamar mandi. Kupikir setelah mandi pikiran gelisah ini akan terkikis. Nyatanya tidak, hatiku semakin hancur lebur dan berantakkan ketika mengingat ucapan Nara yang meminta berpisah denganku.
Aku mengambil pakaian di dalam lemari. Lalu memilih salah satu pakaian yang ada di dalam sana.
Ku lihat makanan yang di bawakan Bunda tadi. Netraku kembali berkaca-kaca hingga mengeluarkan buliran bening yang lolos. Teringat pada Nara yang hari itu bersusah payah bangun pagi hanya demi membuatkan sarapan untuk. Tetapi dengan mudah aku mengatakan bahwa akan sarapan bersama kekasihku. Tak dapat ku bayangkan bagaimana sakitnya hati Nara.
Aku duduk dan mengambil nampan tersebut lalu memangkunya sambil menangis. Penyesalan yang kian menyeruak masuk memenuhi dadaku. Rasanya tak sanggup ku jalani hidup ini jika benar-benar berpisah dari Nara. Terbiasa dengannya membuat perasaanku tak bisa berpaling. Apalagi saat ini aku sudah mencintai istriku sendiri.
"Berikan aku satu kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita, Nara. Maafkan aku. Maafkan aku. Aku mencintaimu, sangat. Aku tahu ini terlambat. Tetapi bolehlah aku meminta agar jangan pergi."
__ADS_1
Aku tak hanya merayu Nara tetapi juga merayu Tuhan. Agar Tuhan memihakku hidup bahagia bersama istriku. Aku tahu, kesalahanku memang tak bisa di maafkan dan di ampuni. Tetapi bukankah semua orang pernah bersalah? Bukankah semua orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya? Apakah itu tidak berlaku untukku?
"Aku pikir setelah berpisah denganmu semua akan baik-baik saja, Ra. Ternyata kehilanganmu tak semudah yang aku bayangkan. Rasa sakit yang kuciptakan kini malah memakanku perlahan."
Ku masukkan nasi ini ke dalam mulut sambil menangis terisak. Kata orang-orang patah hati terhebat adalah ketika makan sambil menangis. Walau rasanya sesak tetapi tanpa terasa makanan ini menjadi penguat walau bukan penyembuh.
"Hiks hiks hiks hiks hiks."
Ini tentang anak lelaki yang patah hati dan anak lelaki itu adalah aku. Sebenarnya aku yang membiarkan luka ini mengangga hingga mengeluarkan darah. Andai saja aku menerima Nara sejak kami menikah semua tidak akan seperti ini. Aku dan Nara pasti akan hidup bahagia. Tetapi perasaanku sudah di bekukan dengan cinta palsu Mona dan akhirnya cinta yang semu tersebut berhasil menjadi aku babu di istana cinta yang kami ramu.
"Nara."
Aku meraung, merintih, menangis sahabat mungkin. Tak peduli jika citraku sebagai dokter tercoreng hanya karena kepatahhatianku. Aku tak peduli berapa banyak air mata yang keluar dan mungkin saja mataku sudah membengkak karena kebanyakan menangis.
"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks."
Aku menolak berpisah. Aku sangat menolak. Bisakah Nara memahami perasaanku? Bisakah Nara tahu betapa rasa ini kian menggebu dan melebur memenuhi dadaku? Aku tak peduli jika terlihat seperti pengemis asal Nara kembali padaku dan membiarkan aku satu kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Aku menyesal. Aku menyesal. Apakah orang tahu bahwa rasa penasaran ini takkan bisa hilang sampai nanti?
"Mas."
Aku menoleh ketika mendengar seseorang memanggil namaku.
Bersambung...
__ADS_1