Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Kita yang tertinggal.


__ADS_3

"Apa?" pekik Ve terkejut. "Serius Kak Nara mantan istri, Om?" tanya Ve sekali lagi. Gadis itu sepertinya terkejut ketika mengetahui bahwa Nara adalah mantan istriku.


Aku merespon dengan anggukan. Tatapan mataku tak beralih sedikit pun dari Nara. Baru beberapa hari berpisah dengannya, wanita itu sudah membuatku rindu setengah mati. Andai saja waktu bisa di ulang kembali aku berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakan dia.


"Kenapa bisa cerai, Om?"


Pertanyaan yang tidak bisa ku jawab. Walau memang aku yang salah karena sudah meretakkan kehidupan rumah tangga kami. Namun, entah kenapa aku enggan menceritakan semuanya pada Ve. Apalagi kami baru saling kenal dan dia masih anak-anak tentunya tidak akan paham arti sakit dari sebuah perpisahan.


"Padahal Kak Nara sepertinya orang baik, Om," sambung Ve.


Kami berdua sibuk membicarakan Nara seperti orang tengah bergosip. Seperti yang Ve katakan bahwa Nara adalah orang baik. Mantan istriku itu memang wanita baik dan lembut. Hanya saja aku yang bodoh karena melepaskan dirinya hanya karena egoku sendiri.


"Masalahnya apa, Om?" tanya Ve sekali lagi tanpa peduli pada aku yang hanya diam saja.


"Kamu masih kecil. Tidak paham urusan orang dewasa," sahutku. "Cepat makan, setelah itu minum obat kamu. Biar saya antar pulang dan kamu istirahat saja," ujarku mengambil makananku.


"Tidak perlu di antar, Om. Ve bisa pulang sendiri. Lagian kaki Ve sudah tidak sakit lagi," tolaknya.


Aku mengangguk. Aku memaksakan nasi itu masuk ke dalam mulutku. Kerongkonganku tercekat ketika melihat betapa bahagianya Nara di sana bersama Rimba dan juga Naro. Dulu senyum itu adalah milikku dan selalu menyambutku dengan hangat. Tetapi sekarang senyuman itu telah hilang.


Kami masih tertinggal di sini dnshsn sejuta perasaan yang belum terselesaikan oleh jawaban keegoisan. Bukan kami, maksudku aku, ya aku yang saat ini masih meninggalkan rasa pada Nara yang kini bahkan sudah tak mau menatapku lagi. Apa Nara tahu? Hal tersulit dalam hidup adalah melupakan dan menghapus semua tentangnya. Aku butuh waktu entah berapa lama?


"Om, masih cinta ya sama Kak Nara?" tanya Ve lagi setelah aku diam cukup lama.


Aku tak menjawab. Jika di tanya apakah aku masih mencintai Nara? Jelas aku masih mencintainya dan bahkan sangat mencintainya. Aku tak dapat mendeskripsikan perasaanku pada mantan istriku itu. Bagiku, Nara adalah sosok perempuan yang takkan bisa aku lupakan.


"Makanlah, jangan banyak bicara," ketusku.

__ADS_1


"Orang bertanya malah tidak di jawab," protes Ve makan dengan kesal.


Kami berdua melanjutkan makanan kami. Kata orang jika kamu belum pernah makan sambil menangis berarti luka di hatimu tidak seberapa. Jika seorang aku makan sambil menangis artinya luka di hatiku benar-benar parah. Sekuat tenaga ku tahan air mata yang hendak keluar dari kerling mataku.


Setelah selesai makan aku segera membawa Ve meninggalkan restaurant karena aku tidak sanggup melihat permandangan yang benar-benar meremukkan seluruh dada.


Pahamilah, aku tidak akan pernah bisa kepada dari sesuatu. Jikalau aku tak pernah benar-benar ingin melepaskan diri sepenuhnya. Aku hanya ingin Nara menjalani semua ini dengan hal yang baru. Biarlah semua yang telah lalu benar-benar tertinggal dan tertanggal. Jangan bawa apapun, karena aku sudah melakukan hal yang sama. Aku mencintainya dengan merelakan mati kisah di hari laluku. Namun, entah kenapa bayang-bayang wajah Nara masih terlintas dan terngiang di kepalaku.


"Nara."


Entah sampai kapan aku akan seperti ini? Entah sampai kapan aku akan terus meratapi kepergian Nara? Nyatanya berada di posisiku bukan hal yang mudah. Mungkin saja inilah hukum karma yang aku terima karena mengkhianati istriku sendiri.


"Argh!"


Kupukul stir mobil berulang kali untuk melampiaskan rasa amarah dan juga kecewa yang mengendap di dalam sana. Sampai kapan aku seperti ini? Sampai kapan aku bisa hidup tenang sebagaimana kehidupanku yang lalu? Kehilangan Nara sama seperti kehilangan partikel-partikel penting dalam hidupku.


Dalam doa dan asaku masih berharap jika Nara akan kembali padaku. Berharap dia masih mau menerima aku lagi. Walau kenyataannya sangat kecil.


Netra mataku berkaca-kaca dan air mata luruh membahasi pipi mengalir dengan deras seolah menandakan bahwa aku telah di kalahkan oleh takdir yang tega menghempaskannya. Aku membutuhkan waktu satu menit untuk jatuh cinta pada Nara tetapi aku memerlukan waktu seumur hidup untuk melupakan wanita yang ku cinta tersebut.


Lepaskanlah, katanya. Atau memang akhir aku akan semakin terluka. Nara mengatakan kalimat berkali-kali itu kepadaku saat aku memintanya agar memberikan aku satu kesempatan lagi. Seolah dia sudah mempersiapkan segalanya untukku. Aku yang akan terluka. Lalu, apakah selama ini hanya aku yang cinta sedangkan Nara tidak? Tetapi bagaimana bisa? Sejak awal Nara mengatakan bahwa dia jatuh cinta padaku di awal pertemuan kami saat itu. Aku tidak pernah ingin menyalahkannya. Meski seidh rasanya dipisahkan dengan cara seperti ini. Di mana aku mengetahui perasaan itu setelah pengkhianatan Mona.


"Nara, maaf. Aku tidak pernah tahu bagaimana penderitaanmu dulu. Maaf juga jika aku malah membuatmu semakin terluka di pernikahan kita."


Mendengar cerita Ve tadi aku memahami jika masa kecil Nara jauh menyakitkan dari yang aku bayangkan. Aku memang mengenalnya sejak kecil tetapi kami tidak dekat, apalagi saat aku memilih melanjutkan studiku di luar pulau. Nara itu wanita ceria yang jarang menceritakan suasana hatinya pada orang lain. Dia tampak kuat dan tegar menghadapi segala kenyataan dalam hidupnya.


Mobilku memasuki pekarangan rumah. Padahal niatnya tadi aku ingin menyelesaikan pekerjaanku. Namun, pertemuan dengan Nara di restaurant tadi membuat mood-ku hancur.

__ADS_1


"Mas," panggil Bee.


"Ada apa, Bee?" tanyaku menyeka air mataku dengan kasar. Jangan sampai Bee tahu jika aku baru selesai menangis.


"Mas, menangis?" tanya Bee menyelidik wajahku.


Aku menggeleng, "Tidak," kilahku.


"Pasti masih memikirkan Kak Nara?" tebak Bee lagi. "Iya sudah ayo duduk dulu, Mas. Kebetulan Ayah dan Bunda sedang ada pertemuan dengan Paman Zaenal," ajak Bee memapahku duduk di sofa.


"Kamu mau bicara apa?" tanyaku pada Bee.


Bee menghela nafas panjang. Lalu menatapku dengan berkaca-kaca. Ada apa dengan adikku ini.


"Bee, kamu kenapa?" tanyaku panik mengusap pipi Bee yang basah.


"Mas, Bee......"


Aku menatap adikku dengan dalam. Tak pernah kulihat Bee menangis seperti ini setelah berusia dewasa. Walau dia gadis yang manja dan keras kepala tetapi pantang mengeluarkan air mata. Jika dia sudah menangis seperti ini, pasti ada sesuatu yang benar-benar terjadi padanya.


"Ayo, katakan sama Mas kamu kenapa?" desakku. Melihat adikku menangis membuatku panik jika dia merasakan sakit atau terjadi sesuatu padanya.


"Bee hamil, Mas."


Deg


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2