
Air mataku luruh mendengar pengaduannya. Bisa kulihat jika dia benar-benar merasakan sakit di setiap bagian tubuhnya.
"Arin." Aku menggeleng. "Di mana yang sakit, Sayang?" Aku mengusap punggung tangannya dengan lembut.
"Arin."
Kami berdua menoleh ke arah pintu masuk. Tampak Mama Tari, Om Divta, El dan Al di sana.
Mereka semua berhambur ke arah ranjang Ariana sambil menangis hebat dan histeris mengungkapkan segala rasa yang ada di dalam hati.
"Arin, maafkan Papa."
"Maafkan Kakak, Arin."
"Mama kangen sama kamu."
Dia hanya tersenyum sekilas. Lidahnya terasa kelu mengeluarkan kata-kata karena terlihat dari tatapan mata sendunya.
Suara tangis biru dan ketakutan terdengar menggema di dalam ruangan rawat inap istriku. Tangisan perih dan ketidakberdayaan itu.
Sebuah keluarga yang terpisah karena keegoisan kini kembali dipertemukan dengan putri kesayangan mereka yang tidak lain adalah istriku sendiri. Penyesalan yang di rasakan oleh keluarga istriku begitu menyayat hati dengan tangisan yang terasa mencekik leher dan nadi.
"Arin."
"Mas Angga."
Mas Angga berjalan pelan masuk dan duduk di kursi samping ranjang istriku. Tatapan matanya terlihat hancur dan rapuh ketika melihat wajah wanita yang dia cintai tampak pucat seperti tak memiliki darah.
"Maafkan, Mas "
Mungkin jika kata maaf bisa menjadi uang mungkin sudah menumpuk dan jadi sebuah rumah. Kata maaf itu terdengar jelas di telinga Ariana. Entahlah, mungkin dia sendiri bosan.
*
*
Aku naik ke atas ranjang rumah sakit lalu memeluk istriku. Aku sengaja meminta Galaksi menyiapkan ranjang dengan ukuran besar agar aku bisa tidur bersama istriku.
__ADS_1
"Sayang." Aku menarik Arin ke dalam pelukanku. Masih seperti biasa, dia berbaring dengan menyamping.
"Tidurlah." Aku mengusap kepala plontosnya.
"Kak," panggilnya.
"Iya, Sayang?"
"Kalau misalnya Arin pergi dan tidak bisa bertahan. Arin titip si kembar ya, Kak. Sayangi dia seperti anak Kakak sendiri."
Aku memeluknya kian erat sambil berdoa dan berharap Tuhan masih memanjangkan usia Ariana setidaknya beberapa tahun lagi untuk melihat anaknya tumbuh
"Tidak, Sayang. Kamu tidak boleh pergi. Kamu harus bertahan demi kami semua."
Mas Angga akhirnya mengikhlaskan Ariana bersama aku. Dia tidak lagi memaksa istriku mencintainya dari dulu. Sementara masalah anak, kami sepakat untuk merawatnya bersama.
"Tapi Arin tidak kuat lagi, Kak," renggeknya.
Besok Ariana akan di operasi dan malam ini dia sudah mulai puasa untuk tidak minum dan makan apapun. Tuhan, jujur saja aku takut. Bagaimana kalau ini malam terakhir kami berdua. Tidak, aku tidak mau kehilangan Ariana. Kalau dia pergi, aku juga akan pergi. Aku tidak akan sanggup kehilangan istri yang aku cintai sepenuh hati.
"Kak, boleh Arin minta sesuatu?" Dia mengangkat kepalanya lalu menatapku.
"Boleh, Sayang. Kamu boleh minta apapun sama aku," ucapku mengusap kepala plontosnya.
"Kak, Arin minta di cium sama Kakak."
Aku mengangguk dengan cepat. Lalu kukecup bibir manis nan ranum itu. Sedikit kulumat bibir manisnya, sayang oksigen yang menempel di lubang hidungnya membuatku sedikit susah untuk menyesap rasa di sana.
"Terima kasih, Kak. Arin sayang banget sama Kakak."
"Aku juga sayang sama kamu, Arin. Sayang banget," balasku mengeratkan pelukanku.
"Kak, waktu itu Arin pernah bermimpi sebelum Arin pergi dan tak kembali. Arin ingin di peluk sama Kakak. Jujur Arin takut menghadapi kematian. Arin, takut berada di tempat yang asing dan sepi serta dingin," ucapnya. Aku menangis dalam diam membiarkan dia mencari kenyamanan di dalam dadaku.
"Tapi Arin bersyukur sekarang di detik-detik kepergian Arin. Semua orang yang Arin sayang mau memaafkan Arin dalam menyayangi Arin."
Kami berdua adalah pameran utama di dalam cerita ini. Sebab itu aku tahu bahwa pameran utama akan berakhir bahagia sesuai dengan skenario yang di tulis oleh sang sutradara. Semoga saja nanti seperti itu.
__ADS_1
"Kak," panggilnya.
"Iya, Sayang?"
"Maafkan Arin ya, kalau selama menjadi istri Kakak. Arin belum bisa jadi yajg terbaik."
Aku menggeleng. Dia sudah menjadi istri yang baik hanya aku saja yang belum bisa memberikan hakku sebagai suami.
"Sayang, kamu sudah membuat aku bahagia. Hanya aku saja yang belum memberikan hak kamu," sarkasku. Hal tersebut memang benar bahwa aku tidak membuat istriku bahagia.
"Ayo tidur, Sayang. Besok kamu mau operasi."
"Jangan lepasin pelukkannya ya, Kak. Arin takut tidak bisa peluk Kakak lagi," pintanya.
"Aku tidak akan melepaskan kamu, Sayang. Aku akan peluk kamu setiap detik. Tidurlah."
Aku memeluk Ariana dengan erat. Terkadang aku takut dia tak bangun lagi. Sesekali kulihat bagian perut istriku, apakah dia masih bernapas? Apakah dia masih bersamaku? Aku takut dia tidak bangun lagi.
"Maafkan aku, Sayang. Kumohon, apapun yang terjadi esok hari. Kamu tidak boleh menyerah. Kamu harus bertahan bersama aku. Bertahan demi anak kita. Aku berjanji akan menyayangi mereka seperti aku menyayangi diriku sendiri. Maaf jika semua terasa terlambat."
Mengikhlaskan sesuatu itu butuh waktu, tidak bisa instan. Apalagi untuk melepaskan seseorang yang begitu di sayang. Tidak mudah, sama sekali tidak mudah. Hanya saja, sesuatu yang memaksakan diri untuk lepas, sekeras apapun mempertahankannya akan terlepas juga.
Namun, bolehkah Ariana bertahan bersamaku? Aku akan berjuang dengan mempertaruhkan nyawa dia tetap berdiri di sampingku seperti saat ini. Aku ingin merayu Tuhan agar memanjangkan umur istriku. Aku, aku tidak bisa hidup tanpanya. Dia jantung hatiku dan segala sesuatu yang ingin aku perjuangkan bersama segala perasaan yang membuncah dada.
"Impianku bersamamu masih panjang, Arin. Aku tidak tahu akan seperti apa hidupku tanpa kamu. Saat kamu Gilang beberapa bulan yang lalu, hidupku tanpa arah dan tujuan. Jika kamu pergi lagi, mungkin aku tidak akan pernah bisa hidup layaknya manusia pada umumnya."
Saat ini impianku hanya ingin hidup bersama istri dan anak-anakku. Menjadi suami yang menafkahi keluarga kecilku kelak. Walau impian itu terdengar mustahil.
Kutatap wajah Ariana yang terlelap. Beberapa selang mengalir di tangan hidung dan ada juga di dadanya. Betapa kejamnya jarum-jarum suntik itu menyiksa bagian tubuh Ariana yang lainnya. Tetapi aku berharap, rasa sakit di tubuhnya bisa hilang setelah operasi nanti.
"Arin, terima kasih pernah ada. Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan kedua untuk memperbaiki hubungan kita. Terima kasih tidak mengingat dan mengungkit kesalahan aku, Sayang. Kamu benar-benar perempuan hebat. Aku menyesal karena sudah menyia-nyiakan kamu."
Kukecup ujung kepala plontos istriku sangat lama dan meresapi ciuman hangat yang ku tanamkan di kepalanya. Air mataku jatuh membasahi kepalanya yang tanpa rambut itu.
"Tuhan, kali ini biarkan aku bahagia bersama istri dan anak-anakku."
Bersambung..
__ADS_1