Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 04. Chapter 36.


__ADS_3

Hilangnya cintamu menusuk jantungku. Hingga ku memilih, cinta yang fana.


Perginya dirimu, merobek jantungku


Hingga ku terjatuh dalam harapan.


#OstBudakSetan.


"Cepat selesaikan jahitannya!" perintah Galaksi.


"Baik, Dok."


Aku menggeleng, tidak. Ariana tidak boleh pergi dia tidak bisa meninggalkan aku begitu saja. Katanya dia mencintaiku tetapi kenapa malah tega pergi tanpa permisi?


Kutatap wajah pucat istriku. Aku langsung terduduk di kursi yang memang sengaja di sediakan oleh para dokter supaya aku bisa duduk dan tidak terlalu lama berdiri. Seketika tubuhku terasa tak memiliki roh. Aliran seperti tersekat di antara pembuluh darah.


"Ambilkan CPR!" perintah Dokter Husein.


Tit tit tit tit tit


Para perawat menurut dan memberikan alat tersebut pada Dokter Husein.


Aku hanya diam seperti mati pikiran. Tak bisa berpikiran apa. Seketika gengaman tangan yang tadinya erat terlepas begitu saja.


"Biar saya, Dok!" pinta Galaksi.


"Iya, Dok." Dokter Husein memberikan alih pada Galaksi untuk menekan benda tersebut di dada istriku.


"Ayo, Arin. Kamu harus bertahan. Anak-anakmu sudah lahir, mereka butuh kamu. Mereka ingin melihat kamu," ucap Galaksi dengan napas memburu dan keringat yang mengucur deras membasahi dahinya.


Hingga Galaksi terhenti dan menunduk dengan air mata berderai membasahi pipinya. Aku, aku mematung seketika membeku dalam kepatahhatianku yang tak pernah terbayangkan. Ini, akan menjadi patah hati sepanjang masa yang tidak pernah aku bayangkan sama sekali. Istriku, Ariana-ku, perempuan yang paling aku cintai. Tidak, tidak. Ini pasti hanya bermimpi, bagaimana bisa dia hilang dan pergi di saat raga ini masih menginginkan dia ada di dunia.


"Bagaimana, Dokter?" tanya Dokter Novi.


Galaksi menggeleng dengan wajah lemas dan lesunya. Tanpa di tanya, aku juga sudah tahu jawabannya.


"Kita tidak bisa menyelamatkannya, Dok. Bu Arin mengalami pendarahan hebat."


Deg.

__ADS_1


Bagai tersambar jantung terasa meledak. Apakah ini yang Ariana katakan sebagai takdir? Kenapa takdir kejam? Kenapa takdir begitu jahat? Tidakkah dia kasihan padaku yang rapuh dan tak berdaya ini? Kenapa takdir suka mempermainkan hati yang sudah memiliki penghuni ini?


"Naro." Galaksi menatapku dengan sendu. "Maaf, aku gagal. Aku, aku tidak bisa menyelamatkan dia."


Aku tak menanggapi. Kuperhatikan para perawat melepaskan selang-selang yang mengalir di tubuh istriku. Wajah kaku, pucat dan tanpa darah.


"Arin sudah bahagia di sana. Kita harus ikhlas."


Aku tak tertarik sama sekali mendengar ucapan Galaksi. Aku tidak tahu, ada apa denganku? Apa jiwa masih melekat dalam raga? Atau jiwa juga pergi bersama wanita yang aku cinta? Aku bahkan tak merasakan apapun.


"Kami sudah melepaskan selang-selang di tubuh Ibu Arin, Dok," lapor salah satu perawat.


"Arin."


Setelah sekian lama mematung. Akhirnya aku baru sadar bahwa wanita yang aku lihat kini sudah tidak ada.


"Tidak. Tidak, kamu pasti bohong, Galaksi. Arin tidak mungkin meninggal. Dia pasti masih hidup," tolakku dengan keras.


Jantungku serasa berhenti berdetak, duniaku sekilas runtuh dan seluruh tubuhku mematung. Aku merasakan tubuhku mati rasa dalam sekejap.


"Tidak, Kamu pasti bohong 'kan, Galaksi?" sarkasku.


"Naro."


"Galaksi, katakan bahwa semua yang kamu katakan bohong." Aku menepis tangan Galaksi lalu menarik kerah baju sepupuku tersebut.


"Arin memang sudah meninggal, Naro. Dia pergi meninggalkan kita dan aku tidak menyelamatkan!" sentak Galaksi menatapku marah. "Kamu harus bisa terima kenyataan ini!"


Di ruangan operasi suaraku dan Galaksi terdengar menggema dan saling bersahutan satu sama lain.


"Tolong hidupkan dia! Aku akan membayar berapa saja yang kamu mau. Kumohon hidupkan istriku, Galaksi. Tolong!" Aku memukul pelan dada Galaksi sambil meminta agar istriku kembali hidup dan menatapku dengan senyum.


"Naro." Galaksi memelukku dengan erat. "Dengarkan aku, aku hanya manusia biasa. Aku tidak bisa membuat orang yang sudah mati hidup kembali!" tegas Galaksi memegang kedua bahuku.


"Kamu harus ikhlas, biarkan Arin tenang di sana, semua kita akan kembali hanya beda waktu dan tempat nya saja," jelas Galaksi.


"Ingat ketiga anakmu. Mereka butuh kamu. Jadilah, ayah dan ibu untuk mereka bertiga. Aku yakin kamu bisa."


Aku menatap Galaksi dengan sendu. Aku berharap ini benar-benar mimpi dan bukan kenyataan. Entah akan seperti apa hidupku tanpa Ariana.

__ADS_1


*


*


Ariana di pindahkan dari ruangan karena tidak banyak orang yang boleh masuk ke dalam ruangan operasi.


Aku berdiri menatap wajah pucat tanpa darah tersebut. Wajah yang kini takkan bisa kulihat lagi senyumnya. Wajah yang takkan kudengar lagi kecerewatannya. Wajah yang takkan bisa memanggilku dengan manja lagi. Wajah yang akan menghilang selamanya dari pandangan mataku.


"Pak Naro, ini bayi Anda."


Aku menyambut kedua putra kembarku. Sedangkan putri kecilku di gendong oleh Galaksi. Harusnya mereka lahir prematur dengan kondisi mengenaskan. Tetapi mereka tampak sehat dan menangis normal seperti bayi pada umumnya.


Kuletakan kedua putraku di atas dada istriku. Lalu kuambil putriku dari tangan Galaksi dan ku baringkan di dekat kedua kakaknya. Tangis mereka menggema di dalam ruangan seolah hendak membangunkan istriku yang tertidur selamanya.


Aku mengelus lembut kepala istriku, aku menatap dengan lekat wajah cantik ini, untuk terakhir kalinya. Karena setelah ini aku benar-benar takkan melihat dia lagi selamanya.


"Sayang, kenapa kamu meninggalkan aku secepat ini? Apa kamu sudah tidak menyanyangi aku lagi? Apa kamu tidak mau memasak untukku lagi?"


Ku peluk tubuh istriku dengan tangis. Tak peduli lagi dengan suara perawat yang menyuruhku menyingkir karena ingin memandikan jenazah istriku. sebelum dibawa pulang kerumah.


Tangisku dan ketiga anak kembarku saling bersahutan satu sama lain. Belum lagi nanti masuk keluarga besar istriku di dalam ruangan.


"Aku mohon buka matamu, Sayang. Jangan pergi, jangan tinggalkan aku. Aku, aku tidak bisa tanpa kamu." Aku memohon serta meminta agar dia kembali lagi ke dunia ini. Aku tidak sanggup aku tidak bisa.


Tangisan ketiga bayi itu bersahutan dengan teriakanku yang memanggil nama istriku. Berharap semua ini hanya mimpiku saja. Siapa tahu istriku hanya pingsan atau tertidur. Dia tidak mungkin pergi meninggalkan aku.


"Arin!"


"Arin!"


"Arin!"


Aku menangis kian hebat seraya berteriak. Barangkali dia mau kembali dan memelukku lagi. Barangkali dia merenggek dan memberi kesempatan padaku untuk memperbaiki semaunya. Aku, aku tidak bisa tanpa dia. Bagaimana aku bisa hidup? Bernapas saja rasanya sudah.


"Kamu tidak boleh pergi, Arin. Bagaimana kami bisa hidup tanpa kamu. Kamu, kamu segalanya."


Saat berpisah beberapa bulan yang lalu saja aku sudah seperti orang gila. Lalu bagaimana sekarang, apakah ini terakhir kali melihat wajah dingin dan kaku ini. Wajah yang takkan pernah menyambutku dengan senyum lagi.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2