Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Siapa wanita itu, Kak?


__ADS_3

"Kemarin Shaka juga melihatnya dan sudah lapor pada Kakak," sambung Shaka.


"Siapa wanita itu, Kak? Mereka tampak mesra sekali," timpal Tata.


Aku terdiam dan mematung di tempatku. Apa yang harus aku jawab? Tidak mungkin aku menceritakan masalah rumah tanggaku pada Tata dan Shaka. Mereka masih muda dan belum mengerti apa-apa tentang masalah orang dewasa.


Tata masih duduk di bangku kuliah. Sedangkan Shaka masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Usia mereka beda lima tahun. Shaka berusia 15 tahun. Sedangkan Tata 20 tahun dan aku 25 tahun.


"Kak, ayo jawab. Jangan diam saja," desak Tata menggoyangkan tanganku.


"Sebenarnya sejak awal, Shaka tidak setuju Kakak menikah dengan Mas Bintang," ucap Shaka memasang wajah cemberutnya. Shaka ini memang paling dekat dan peduli padaku.


"Mungkin itu temannya," jawabku asal. Tidak mungkin aku menjawab, jika wanita itu adalah kekasih dari suamiku.


"Teman?" Kening Tata mengerut. "Ck, Tata tidak percaya, Kak. Mana ada teman semesra itu?" ucap Tata yang seperti tak puas dengan jawabanku.


"Sudahlah, kalian ini pagi-pagi sudah bergosip." Aku mengalihkan pembicaraan.


Aku duduk di kursi kebesaranku. Setelah ini aku harus menyiapkan beberapa materi untuk kerjasama pembangunan cabang cafeku yang baru.


"Kakak," renggek Tata.


"Ada apalagi, Ta. Minta jajan?" Aku geleng-geleng kepala sambil tersenyum gemes melihat adikku yang merenggek.


"Bukan itu, Tata masih penasaran siapa wanita itu, Kak?" tanya Tata sekali lagi. Tata ini memang memiliki jiwa keinginan tahu yang lebih besar. Dia tidak akan berhenti bertanya sebelum pertanyaannya itu terjawab.


"Bukan siapa-siapa. Mungkin dia teman dekat atau sepupu Mas Bintang," jawabku asal.


Tata terlihat mendesah pelan. Adikku yang satu ini memang sangat cerewet dan bawel. Tak kala aku harus menjadi pendengar setianya saat dia didekati oleh banyak pria di kampusnya.


"Sudah kalian berangkat sana," usirku.


"Iya sudahlah," ketus Tata mengalah.


"Kak, Shaka berangkat dulu," pamit Shaka menyalami tanganku.

__ADS_1


"Tata juga, Kak," sambung Tata melakukan hal yang sama.


"Iya sudah kalian hati-hati. Ada uang jajan 'kan?"


"Ada, Kak," jawab mereka kompak.


Aku tersenyum melihat kearah punggung kedua adikku yang keluar dan menghilang di balik pintu. Aku bersyukur memiliki adik-adik yang begitu peduli. Belum lagi Naro, dia adik yang selalu ada di saat akh butuhkan. Hanya saja saat ini dirinya sedang fokus menjadi CEO muda menggantikan Daddy yang sudah pensiun.


Daddy menyayangi aku dan Naro seperti dia menyayangi Tata dan Shaka. Walau dia bukan ayah kandung kami tetapi dia tak pernah membeda-bedakan kami. Bahkan perusahaannya saja di pegang sepenuhnya oleh adikku, Naro. Begitu juga dengan Mama yang sangat menyayangi Tata, malah adik bawelku itu lebih manja pada Mama daripada pada Daddy.


"Kalian tidak boleh tahu apa yang Kakak rasakan, Dek. Kalian masih terlalu muda untuk memahami sakitnya pengkhianatan," gumamku.


Aku berjanji akan menjadi kakak terbaik untuk ketiga adikku. Sebagai anak sulung, aku harus mengayomi mereka ke jalan yang lebih baik. Walau aku tahu jika Naro lebih dewasa dari aku. Tetapi dia adalah sosok yang sebenarnya begitu butuh figure seorang kakak untuk memahami dirinya yang dingin tak tersentuh itu.


Tok.. tok... tok!!!


"Masuk."


Lidya masuk ke dalam ruanganku seraya membawa beberapa berkas di dalam pelukannya.


"Ini data yang Ibu minta. Jam 10 Ibu ada peninjauan lokasi bersama Pak Rimba," jelas Lidya.


"Oh iya terima kasih, Lid." Aku mengambil berkas-berkas tersebut. Menyibukkan diri dengan banyak pekerjaan adalah cara aku mengalihkan rasa sakit atas luka yang Mas Bintang turihkan.


"Bu," panggil Lidya


"Iya, Lid. Ada apa? Apa masih ada yang ingin kamu sampaikan?" tanyaku.


"Bu, kemarin saya tidak sengaja melihat Dokter Bintang sama seorang perempuan di rumah sakit," jelas Lidya.


Lidya adalah orang ketiga yang mengatakan pernah melihat Mas Bintang bersama Mbak Mona. Lama-lama apa yang Mas Bintang tutupi pasti akan terbongkar dengan sendirinya jika dia tidak berhati-hati dalam hubungannya dan Mbak Mona.


"Oh." Aku hanya beroh-ria saja dan malas menjelaskan yang sebenarnya.


"Memangnya Ibu sudah tahu? Kok kelihatan santai begitu?" tanya Lidya penasaran.

__ADS_1


"Itu hanya temannya, Lid. Namanya Mbak Mona, dia dokter juga dan bekerja di rumah sakit Mas Bintang," jelasku. Seburuk apapun suamiku, aku tak berniat menceritakan aibnya pada orang lain.


"Masa sih, Bu. Kok mesra banget? Ibu tidak curiga. Hati-hati lho, Bu. Zaman seorang pelakor sedang berkeliaran. Bisa jadi wnaita itu nanti masuk ke dalam rumah tangga Ibu dan merusaknya," ujar Lidya.


Andai Lidya tahu jika perempuan itu memang sudah merusak rumah tangga kami.


"Sudahlah, kamu ini. Tidak boleh berpikiran yang tidak-tidak," sanggahku. Walau ucapan Lidya memang benar adanya.


"Iya deh, Bu. Tapi Ibu harus hati-hati. Soalnya rumah tangga saya rusak gara-gara pelakor juga, Bu. Saya tidak mau Ibu merasakan seperti saya. Hidup menjadi janda itu tidak enak, Bu. Belum lagi gosip para tetangga yang menuduh menggoda suami orang," celoteh Lidya memperingatkanku.


"Iya. Iya, saya mengerti. Sudah-sudah kamu keluar sana," usirku.


"Ya sudah, Bu. Saya permisi dulu. Sebentar lagi jam 10, Bu. Ibu siap-siap ya," pamit Lidya dan tak lupa memperingatkan aku tentang meeting hari ini.


Aku membalas dengan anggukan. Lalu terdiam sejenak seraya menarik nafas sedalam mungkin dan aku hembuskan perlahan.


Tak mau memikirkan hal-hal yang menyakitkan. Aku memfokuskan diri pada berkas dan proyek kerja sama dengan perusahaan Putra Group, perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan dan pariwisata. Aku juga sedikit bingung, karena tiba-tiba mendapat email bahwa perusahaan ini mengajakku bekerja sama.


Nilai investasi yang mereka tanamkan tidak sedikit dan aku penasaran sekaya apa pemilik perusahaan Putra Group ini. Sehingga berani menawarkan harga mahal hanya untuk membangun cabang cafe kecil.


Aku menutup berkas di tanganku setelah paham syarat-syarat kerjasama tersebut. Namun, sejenak aku terdiam. Aku kembali teringat pada ucapan Lidya, Tata dan Shaka. Apa saat di luar Mas Bintang dan Mbak Mona benar-benar semesra yang kulihat ketika di rumah?


Aku beranjak dari dudukku sambil membawa berkas di tanganku. Sebenarnya aku butuh asisten untuk membantu menyelesaikan beberapa pekerjaan yang menumpuk ini. Nantilah, aku minta Lidya yang carikan saja.


"Sudah mau berangkat, Bu?" tanya Lidya yang kebetulan berpapasan dengan aku.


"Iya, Lid," jawabku.


"Oh ya, Bu. Jam makan siang saya izin sebentar ya. Mau antar Arsya ke rumah sakit. Dia kurang sehat, Bu. Barusan Mama saya telepon," jelas Lidya dengan wajah sendunya.


"Sekarang saja, Lid. Urus dulu anak kamu. Masalah cafe nanti saya minta Dhika yang handle semuanya," ucapku. Walau belum memiliki anak, aku paham perasaan khawatir Lidya.


"Baik, Bu. Terima kasih," sahut Lidya membungkuk hormat.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2