Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Nara ingin bertemu Papa


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


"Pelan-pelan, Sayang," ucap ku membantu Nara masuk kedalam kamar.


Kami baru pulang dari rumah sakit dan langsung kembali kerumah. Ayah dan Ibu juga memutuskan tinggal bersamaku. Aku ingin menghabiskan waktu dengan mereka. Sebab, hanya mereka kini yang ku miliki.


"Nara duduk saja Ma," pinta Nara.


"Iya Sayang. Mama siapkan makanan dulu buat kamu ya, nanti baru minum obat," ucap ku lembut.


"Mama, Nara mau bubur ayam," pinta nya.


"Iya Sayang, Mama buatkan yaa. Kamu istirahat dulu. Kalau butuh apa-apa, panggil Mama," ujarku.


Aku keluar dari kamar Nara. Aku menikmati peranku sekarang, menjadi orang tua tunggal untuk kedua anakku.


"Mama," panggil Naro.


"Iya Son, kenapa?" Aku tersenyum ramah.


"Kak Nara mana?" tanya Naro.


"Ada di kamar istirahat," jawabku.


"Naro masuk ya Ma, mau menemani Kakak," ucap Naro.


Aku mengangguk, lalu berjalan menuju area dapur. Cukup lama tinggal dirumah sakit, rumah ku pun tak terurus. Seperti nya setelah ini, aku harus beres beres-beres dulu.


"Mau apa, Nak?" tanya Ibu yang juga berada didapur membuatkan Ayah kopi.


"Mau buat bubur untuk Nara, Bu," jawab ku.


Ibu mengangguk dan tersenyum. Sekarang aku tahu, bahwa aku bukan anak Ayah dan Ibu. Kenyataan ini cukup mengagetkan ku karena selama ini aku tak pernah menyadari jika ada perbedaan antara kami. Apakah mungkin aku saudara kembar almarhum istri Pak Dante? Entahlah aku tidak tahu. Kata Ibu, mereka mengangkat ku sejak bayi saat didesa. Mereka tak sengaja menemukan ku didepan rumah berbalut lampin dan suara tangis yang menggema.


Aku penasaran, sebenarnya siapa orang tua ku? Jika aku tanya Ayah dan Ibu, mereka juga tidak tahu jawaban nya. Tetapi aku bersyukur walau bukan anak kandung mereka. Ayah dan Ibu tetap menyayangi aku seperti anaknya sendiri. Walau kami pernah menjadi orang asing beberapa waktu yang lalu karena satu kejadian yang mungkin saja tidak bisa diterima.


"Bu, Ara ke kamar Nara dulu," ucap ku membawa nampan berisi semangkuk bubur dan air putih.


"Iya Nak."

__ADS_1


Aku berjalan masuk kedalam kamar Nara dengan senyum yang mengembang. Begitulah caraku menutupi luka yang mulai mengangga didalam sana.


"Nara. Naro," sapaku.


"Mama," jawab mereka berdua.


Aku meletakkan nampan diatas ranjang dan tersenyum pada Nara.


"Makan dulu ya, Sayang. Setelah ini minum obat," ucap ku lembut.


Nara mengangguk. Aku menyuapi Nara dengan sabar dan telaten. Nara sangat suka bubur ayam. Kalau dia sakit atau kurang sehat pasti ingin nya makan bubur.


"Kakak, makan yang banyak biar cepat sembuh," ucap Naro.


"Kakak sudah sembuh," celetuk Nara


"Ck, kalau sudah sembuh kenapa makan masih disuapi?" sindir Naro.


Aku tersenyum gemes mendengar pertengkaran kedua anakku. Setidaknya senyuman mereka bisa mengobati luka di hatiku. Luka kehilangan Mas Galvin dan luka ternyata aku bukan anak kedua orang tua ku.


Sekarang aku sadar, sejak kecil saja hadirku seperti tak diinginkan. Bahkan saat sudah menikah pun kehidupan ku tetap berbeda dari orang lain.


"Minum obatnya, Nak," ucap ku mengangkat gelas berisi air dan beberapa bulir obat.


Senyuman Nara seolah mampu memberikan ketenangan didalam jiwa. Wajah polos nan lembut ini mengingatkan ku pada penderitaan nya. Diusia beli, Nara sudah harus merasakan pahitnya kehidupan yang dia jalani.


"Ma, Nara ingin ketemu Papa. Besok kita ke jengguk Papa ya Ma."


Deg


Aku dan Naro langsung terdiam lalu saling melihat satu sama lain. Tentu kami bingung harus jawab apa. Sudah kuduga Nara akan menanyakan tentang Mas Galvin. Apa yang harus ku jawab, apakah aku harus berbohong lagi? Tetapi sampai kapan. Kapanpun Nara akan tahu bahwa Papa-nya sudah pergi untuk selamanya.


"Ma, kenapa diam?" tanya Nara mengusap lenganku, seolah menyadarkan ku dari lamunan.


"Nara." Lidahku terasa kelu ingin mengatakan kenyataan sebenarnya.


Sementara Naro diam tanpa ekspresi. Aku tidak tahu apa di pikirkan oleh anak berusia 7 tahun itu.


"Mama, kenapa?" tanya Nara.


"Nara." Kuhela nafas panjang. "Maafkan Mama, Nak," ucap ku merasa bersalah.


Nara tampak bingung, "Minta maaf untuk apa, Ma?" tanya nya polos. Andai saja Nara tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Apakah dia akan terluka?

__ADS_1


"Mama tidak bisa mempertemukan kamu sama Papa," sahutku menyiksa.


Kening Nara berkerut, "Lho, memang nya kenapa Ma?" tanya Nara lagi. Jiwa ingin tahu nya sudah menggebu-gebu.


Aku menatap Nara dengan perasaan bersalah yang takkan bisa hilang dan pergi. Air mata mulai menganak dan lolos begitu saja dari pipiku. Rasanya sakit sekali, tetapi aku pun tak bisa mengulang waktu.


"Mama, kenapa menangis? Apa yang terjadi, Ma? Kenapa Nara tidak bisa bertemu Papa? Memang nya Papa, tidak diperbolehkan ketemu Nara?" cecar Nara seraya menggoyangkan tanganku.


"Papa sudah meninggal, Kak," ucap Naro mewakili.


Nara langsung terdiam. Tangannya langsung menjauh dari ku. Dia seperti kehilangan kesadaran.


"Papa mendonorkan jantungnya untuk Kakak," sambung Naro.


Aku tak bisa berkata apa-apa, aku hanya bisa menunduk seraya menangis dengan hebat. Aku tak mampu melihat wajah kecewa dan terluka Nara, itu akan membuat aku semakin sakit.


"P-pa-pa mendo-norkan jantung nya untuk Kakak?" ulang Nara.


Nara mengangguk dengan wajah dinginnya. Dia menatap kakak nya dengan kasihan.


"Papa," teriak Nara menangis.


"Hiks hiks Papa."


Aku memeluk tubuh kecil Nara yang memberontak. Andai dia bisa berjalan mungkin saja dia sudah berlari keluar mencari Papa-nya.


"PAPA. PAPA. PAPA."


Teriakkan Nara menggema didalam kamarnya. Aku dan Naro memeluk tubuh Nara sambil saling bertangsian. Inilah yang aku takutkan jika Nara tahu yang sebenarnya.


Nara menangis terisak didalam pelukkan ku dengan memanggil nama Papa-nya. Aku tahu, bagaimanapun tak ada anak perempuan yang baik-baik saja ketika harus kehilangan cinta pertama dalam hidupnya.


"Hiks hiks, Papa jangan tinggalkan Nara, Pa. Nara sayang Papa. Nara kangen sama Papa."


Rintihan dan raungan suara Nara menyayat hati. Aku dan Naro pun tak kuasa menahan sesak didalam dada. Kami yang seharusnya menjadi kekuatan untuk Nara, malah kami yang menagis paling keras.


"Papa."


"Mama, kenapa biarkan Papa pergi, Ma? Papa tidak boleh pergi, Ma. Nara sayang Papa. Nara sayang Papa. Nara ingin bertemu Papa," renggek Nara.


Entah apa yang harus ku jawab. Aku juga tidak ingin Mas Galvin pergi. Jika bisa mencegah kepergian nya mungkin aku tak akan membiarkan hal tersebut terjadi. Namun, aku manusia biasa yang juga rapuh ketika menerima kenyataan ini. Aku, aku manusia biasa yang tidak bisa menghindari perpisahan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2