
Namun, waktu tidak pernah bisa ditebak. Terkadang perasaan diuji oleh hal-hal yang tak pernah terbayangkan. Hal-hal yang membuat menjadi lemah seolah tidak kuat untuk saling mempertahankan. Padahal tidak selemah itu. Namun, hidup selalu punya hal-hal tak terduga. Kadang hati merasa di ragukan oleh kondisi dan keadaan. Aku mengerti, banyak hal yang tak pernah bisa kubuat pasti. Yang aku tahu, aku hanya berusaha sekuat-kuatnya aku.
"Mas."
Nara masih mengusap punggungku dengan usapan lembut di tangannya. Badanku bergetar hebat menahan tangis yang seolah ingin pecah. Inilah saatnya anak lelaki sepertiku mengalami patah hati terhebat ketika ia gagal menjadi sosok penjaga untuk keluarganya.
"Mas, pasti bisa melewati ini semua."
Nara merengkuh tubuh lemahku ke dalam pelukannya. Pelukan hangat yang sudah lama aku rindukan sejak dulu. Pelukan aku sia-siakan kini menjelma menjadi sosok yang begitu hangat untukku pulang.
"Hiks hiks hiks."
Kupeluk tubuh Nara seerat mungkin seolah meluapkan semua rasa sakit dan kecewa yang membuncah di dalam dada. Bagaimana mungkin Mona tega merusak Bee dan bekerjasama dengan Ikmal hanya agar aku kembali padanya? Apa dia tidak tahu jika perbuatannya itu telah membuatku kehilangans segalanya.
"Aku paham perasaanmu, Mas. Tapi aku yakin kamu pasti bisa melewati ini. Kamu laki-laki yang kuat. Jadilah kekuatan untuk Ayah, Bee dan Bunda."
Naraku, wanita hebat yang telah kubuang demi barang tak berharga seperti Mona. Saat duniaku hancur dan rapuh Nara datang sebagai penyejuk hati yang kuinginkan berlama-lama mendiami ruang kosong di hatiku.
"Ra, aku tidak menyangka Mona setega ini. Dia menghancurkan hidupku, Ra," renggekku menggadu. Walau aku tahu semua tidak akan mengubah kondisi Bee kembali seperti semula.
"Inilah takdir hidup, Mas. Terkadang orang yang kita sayang, adalah orang yang pertama kali membuat kita terluka," sahut Nara. Bisa kurasakan air matanya jatuh di bahuku. Apa Nara juga menangis melihatku hancur begini atau dia malah mentertawakan aku.
__ADS_1
"Tapi kenapa harus Mona, Ra. Kenapa harus dia? Harusnya aku yang balas dendam. Bukan dia."
Entah untuk apa aku mengadukan perasaan ini, apakah aku berharap jika Nara berbalas kasihan lalu kembali lagi padaku? Oh itu tidak, Nara takkan mau memberikan kesempatan untuk aku pulang ke hatinya.
Mengikhlaskan sesuatu itu butuh waktu, tidak bisa instan. Apalagi melepaskan seseorang yang begitu di sayangi. Tidak mudah, sama sekali tidak mudah. Hanya saja, sesuatu yang memaksakan diri untuk di lepas, sekeras apapun mempertahankan tetap saja akan lepas. Begitu juga dengan aku dan Nara, sekuat apapun aku mengenggam tangan Nara dan menceritakan semua keluh kesahku saat aku mengeluh karena berpisah darinya. Dia tidak akan kembali lagi memelukku seperti saat ini.
"Itu karena Mas kuat. Mas sudah di pilih Tuhan untuk menghadapi ini semua. Terus jalani semuanya, Mas. Semua akan baik-baik saja. Aku tahu tidak mudah berada di posisimu tidak mudah tetapi kamu adalah insan yang kuat, Mas. Jangan rapuh, jangan terus meratapi. Hadapi semuanya."
Setiap tutur kata yang keluar dari mulut Nara seperti pedang bermata dua dan mampu menelusup masuk ke dalam rongga dadaku. Apakah aku sanggup melewati ini semua? Bagaimana kalau bayi Bee lahir tanpa seorang ayah? Orang-orang akan beranggapan bahwa keluargaku tidak benar.
Aku melepaskan pelukan Nara dan mengusap pipiku yang basah.
"Terima kasih, Ra. Kamu sudah mau menemani aku," ucapku sebenarnya malu. Aku yang menyakiti wanita ini tetapi dia datang sebagai penyembuh luka setelah aku melukainya.
Kenapa aku tidak suka mendengar kata teman dari mulut Nara? Aku tak ingin menjadi teman tetapi ingin menjadi sosok yang bisa selalu berada di sampingnya. Tetapi aku sadar diri bahwa semua keinginan itu tidak mungkin akan terjadi karena Nara telah memilih bahagia bersama Rimba daripada aku.
"Maaf dulu, aku pernah menyakiti kamu, Ra. Sekarang aku berada di posisi kamu. Rasanya karma ini tak berhenti mengejarku. Bolehkah aku menyerah, Ra?" Kutatap bola matanya. Tuhan, andai Engkau bisa mengembalikan wanita ini ke dalam pelukanku. Aku pasti mampu melewati apa saja badai yang menghadang di depanku.
Pelan-pelan saja, untuk melepaskan sesuatu yang teramat di cintai, tidak bisa dengan waktu seketika. Nikmatilah prosesnya. Jika harus cenggeng tidak apa-apa, itu tanda masih memiliki perasaan kata Nara. Karena setiap orang yang patah hati punya hak untuk cenggeng. Nanti kayu akan menjawab segalanya. Butuh berapa lama? Tidak ada yang tahu. Setiap luka punya waktu sendiri untuk sembuh. Setiap Cinta butuh waktu untuk kembali tumbuh.
"Mas, aku sudah hilang. Jangan katakan ini karma tetapi pelajaran untuk belajar hidup lebih baik. Semua yang terjadi atas kehendak Tuhan. Saat ini yang harus Mas lakukan adalah menghadapi semuanya dengan doa. Mas belum gagal menjadi anak dan juga kakak. Ayah dan Bee pasti bangga punya, Mas."
__ADS_1
Aku mengangguk seraya menyeka air mataku dengan kasar. Aku tak bisa bayangkan bagaimana bentuk kelopak mataku karena kebanyakan menangis. Sejak berpisah dengan Nara aku benar-benar tak memiliki tujuan hidup seperti dulu. Nara adalah sumber kebahagiaan, setelah dia pergi aku bahkan tak tahu caranya untuk bahagia.
"Ra," panggilku.
"Iya, Mas?" Dia menatapku dengan senyuman. Tangannya masih mengenggam tanganku seraya menepuk-nepuk punggung tanganku dan memberikan kekuatan.
"Apa kamu bahagia sama Rimba?" tanyaku.
Aku ingin sekali tahu apakah Nara bahagia? Dengan begitu aku bisa pergi dengan tenang dan meninggalkan Nara. Jika Nara tak bahagia, aku juga tak bisa bahagia. Sebab dia adalah sumber kebahagiaanku.
"Kenapa Mas bertanya begitu?" tanyanya menatapku. Nara, aku tahu jika kamu tak baik-baik saja. Katakan jika kamu tak bahagia, sebelum aku benar-benar pergi darimu.
"Aku ingin tahu jika kamu bahagia, Ra. Agar aku pergi dengan tenang. Setelah kasus Bee selesai aku dan keluargaku akan pergi dari kota ini. Sebelumnya aku ingin memastikan dulu, jika kamu sudah bahagia dengan laki-laki pilihan kamu," ucapku.
Nara tersenyum seolah dia baik-baik saja. Dan aku tahu dia akan selalu baik-baik saja tanpa aku di sisinya. Hanya aku saja yang tak baik-baik saja tanpa Nara di sampingku. Sepertinya setelah ini aku benar-benar harus mengubur impianku untuk kembali bersama Nara. Meski dalam hatiku, ingin selalu di berikan satu kesempatan untuk bahagia.
"Aku bahagia, Mas. Kamu tidak perlu khawatir. Kalaupun aku tidak bahagi, Mas harus bahagia. Jangan berpacu sama aku. Jalan hidup kita berbeda-beda," sahut Nara.
Yang Nara katakan memang beda. Jalan hidup kami memang berbeda-beda dan tidak ada manusia yang tahu seperti apa kehidupannya di depan.
"Apa kamu masih cinta sama aku, Ra?"
__ADS_1
"Nara."
Bersambung...