
"Selamat pagi, Om Suami," sapanya yang sudah menyetorkan wajah manis.
Aku melihat gadis berseragam SMA itu. Dia lebih cocok jadi anakku daripada istri. Namun, itulah realitanya aku menikahi gadis bau kencur.
"Pagi," jawabku ketus.
Dia duduk di kursi meja makan. Bi Atiek tampak sibuk menyiapkan sarapan untuk kami berdua.
"Om, sibuk gak?" tanyanya.
"Kenapa?" tanyaku ketus. Bukan begitu, dia cantik sekali pagi ini. Tubuhnya tinggi semampai dengan rok span sampai lutut. Walau dia tomboi, tetapi cara berpakaiannya tetap saja sopan.
"Dih, ketus amat sih sama istrinya. Entar di cap suami durhaka lho," celetuknya sambil mengoleskan selai pada roti yang ada di tangannya.
"Kamu mau apa?"
"Hari ini Lea ambil amplop kelulusan, Om. Kebetulan Papa sama Mama lagi keluar kota dan kayaknya enggak sempat. Lea mau minta Om yang ambil, Om tenang aja. Lea bisa jaga rahasia kok." Dia menunjukkan jari v nya tanda sumpah tidak akan membocorkan rahasia pernikahan kami.
Aku terdiam sejenak. Hari ini aku ada pertemuan dengan kedua orang tua Felly masalah pernikahan itu. Aku masih belum menjawab, katanya ada yang ingin mereka sampaikan masalah Felly padaku.
"Tapi kalau Om enggak bisa juga enggak apa-apa kok," ujarnya sambil mengigit roti tersebut. "Nanti Lea minta tolong Kak Zico aja."
Raut wajahku langsung berubah ketika mendengar nama pria itu. Aku masih ingat namanya karena Felly pernah mengatakannya.
"Dia siapa kamu?" tanyaku penasaran. "Pacar?" Ah kenapa hatiku langsung panas.
"Umm, calon pacar!" jawabnya dengan penuh percaya diri.
"Dih, mana mau dia sama bocah ingusan kayak kamu!" Aku mendorong keningnya gemas.
"Om, jahat amat sih sama istrinya sendiri," gerutunya sambil mengusap dahinya bekas toyoran jariku.
"Jangan dekat sama orang sembarangan!" tegasku memperingatkan.
"Dih, emangnya kenapa? Sejak kapan Om ngatur-ngatur Lea? Katanya enggak boleh ikut campur urusan pribadi. Kenapa Om malah kayak enggak suka gitu? Om mulai suka ya sama Lea?" godanya sambil mengedipkan mata jahil lalu menaikan kedua alis dengan senyuman menggoda.
"Jangan ngadi-ngadi kamu. Kamu tuh bukan selera saya," ketusku.
"Emang indomie pakai acara selera segala," ujarnya. "Udah ah, Om mau apa enggak ambil amplop kelulusan Lea?"
__ADS_1
Entah kenapa kepalaku sontak mengangguk setuju. Tatapan matanya membuatku selalu terpesona.
"Iya, ayo!" ajakku sambil berdiri.
"Yess, terima kasih, Om Suami!"
Aku menggeleng saat dia lompat-lompat seperti anak kecil yang diberikan mainan. Aku masuk ke dalam mobil.
"Om," panggilnya.
"Apa lagi? Kenapa belum masuk?" tanyaku geram melihatnya yang masih berdiri di depan pintu mobil.
"Om itu gimana sih? Enggak ada romantis-romantisnya sama sekali. Bukain dong pintu buat istri kecilnya!" Dia melipat kedua tangan di dada.
Ingin rasanya aku meremas wajah gadis ini. Ah, tetapi dia istriku dan aku tak bisa bersikap kasar. Aku turun sambil membanting pintu mobil dengan kuat. Benar dugaanku, hidupku akan benar-benar terusik karena menikahi gadis menyebalkan ini.
"Silakan masuk, Istri Kecil!" tekanku sambil membuka pintu mobil.
"Terima kasih, Om Suami. Baik banget deh!" Dia mencolek daguku.
Aku ikut masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan aku tidak mengeluarkan sepatah katapun. Sementara gadis yang duduk di sampingku ini malah terus mengoceh. Aku bingung dan penasaran, ada berapa kosa kata dalam kepalanya itu sehingga dia bicara terus seperti itu.
"Enggak usah melamun, Om! Entar kesambek lho," sindir Lea yang sibuk fndbsm ponsel di tangannya.
Aku tak menanggapi dan hanya memasang wajah cuek bebek dengan mulut komat-kamit seperti dukun baca mantra.
"Oh ya, Om. Gimana hubungan Om sama kakak dokter itu?" tanyanya.
"Buat apa kamu tahu? Kamu cemburu?" tanyaku serius. Kalau dia benar-benar cemburu, kenapa rasanya aku sangat senang kalau memang hal itu terjadi?
Lea malah menguap beberapa kali. Lalu memasukan ponselnya ke dalam tas.
"Percaya diri itu boleh, Om. Tapi terlalu percaya diri entar jatuh dan tergeletak mati sendiri!" Dia tertawa lebar tanpa dosa.
"Dasar istri durhaka!"
Mobilku memasuki gerbang sekolah Lea. Tampak orang tua wali sudah berdatangan untuk mengambil amplop kelulusan para anak-anak mereka.
"Ayo, Om."
__ADS_1
Aku terkejut saat dia menarik tanganku. Lagi, kenapa jantungku berdebar saat kulitnya menyentuhku? Ada rasa aneh yang menjalar di dalam sana. Rasa ini belum pernah aku rasakan pada Felly meski sudah menjalin hubungan selama lima tahun.
"Cepetan, Om. Lama amat sih jalannya, entar telat lagi!" desaknya.
"Iya sabar."
Kami masuk ke dalam aula sekolah. Tampak semua bangku sudah dipenuhi oleh para orang tua siswa. Lea memilihkan bangku paling depan.
"Om duduk di dekat Lea aja. Takut ada yang nyulik, maklum oppa-oppa Korea banyak ngelirik."
Aku tersenyum saat dia mengatakan aku oppa-oppa Korea. Ada-ada saja istri kecilku ini. Saat bersama Lea rasanya semua masalahku lepas begitu saja. Namun, setelah ini aku benar-benar akan menghadapi masalah serius.
Acara dimulai, pembawa acara membacakan susunan acara sebelum pembagian amplop kelulusan.
"Baiklah kita akan umumkan untuk ranking umum 1 dengan nilai..."
"Semoga Lea. Semoga Lea. Semoga Lea."
Istri kecilku komat-kamit merapalkan doa. Aku tersenyum gemas mendengarnya. Aku tidak tahu jika dia pintar atau memiliki prestasi karena selama ini aku memang tidak mau tahu sama sekali apapun yang dia miliki.
"Nilai tertinggi diraih oleh Leania Barack...."
"Oh yess!"
Gadis itu berjalan menuju panggung dengan gaya lenggak-lenggok sambil melambaikan tangannya seperti seorang model. Aku menggeleng sambil tersenyum. Tak hanya cantik tetapi dia juga berprestasi hanya saja sayang manja luar biasa. Dia sama sekali tidak bisa masak, bagaimana bisa mengurusku?
Entah kenapa melihat Lea yang tersenyum seperti itu mampu mengobati luka di hatiku. Namun, ada perasaan perih yang terasa menyayat. Bagaimana jika aku memang harus menikahi Felly? Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya pada Lea. Aku rasanya pria jahat.
Setelah menerima penghargaan dia kembali ke kursi dan duduk.
"Om–"
Drt drt drt drt
"Sebentar!" Aku segera meronggoh ponsel dan nama Felly tertera di sana.
"Lea, kamu pulang sendiri ya. Saya urusan penting." Aku berdiri dari dudukku.
"Eh Om–"
__ADS_1