
Apakah hubungan seperti ini membuatku sedih? Sama sekali tidak. Entah apa yang membuatku tak sedih? Aku hanya sekarang tidak ingin peduli dengan apa yang di lakukan Kak Rimba, mau dia peduli pada siapapun bukankah itu bukan urusanku? Aku tidak akan mengekang atau melarang apa yang ingin dia lakukan atau pergi ke mana dan dengan siapa?
"Iya sudah, Kak. Tidak apa-apa," sahutku.
Kak Rimba seperti menghela nafas panjang ketika aku mengatakan tidak apa-apa. Biasanya akan banyak drama yang kami lewati di mana aku merenggek karena tidak mau Kak Rimba tinggalkan. Namun, sekarang aku berusaha untuk tak peduli lagi.
"Kakak antar kamu sampai cafe ya?" ucap Kak Rimba menawarkan. Biasanya dia meninggalkan aku begitu saja di tengah jalan. Aku pikir hanya Mas Bintang yang tega tetapi ternyata lelaki yang ku anggap baik pun tega melakukan hal yang sama.
"Tidak usah, Kak. Aku di jemput Shaka saja nanti. Lagian aku pengen naik motor," tolakku membuka sealbeat.
"Sayang."
Aku menoleh dengan kening mengerut, "Kenapa, Kak?"
"Tidak apa-apa. Kamu hati-hati ya, nanti setelah dari rumah sakit. Kakak datang ke rumah. Kamu mau makan apa biar Kakak belikan?" tawarnya.
"Tidak perlu, Kak. Kaka hati-hati saja di jalan," tolakku sambil keluar dari mobil dan menutup pintu mobil.
Aku melambaikan tangan kearah mobil Kak Rimba yang menjauh meninggalkan aku dengan senyuman kecut. Dia ingin melakukan sapa saja, aku bahkan tidak peduli lagi. Rasa sedih yang dulu tertahan karena sikapnya yang mementingkan orang lain berubah menjadi rasa tak peduli. Entahlah, inilah fase aku tak ingin tahu lagi pada apa yang di katakan Kak Rimba padaku.
"Mas Bintang."
Entah kenapa aku malah mengingat nama mantan suamiku tersebut? Lelaki pertama setelah Papa yang membuatku jatuh cinta. Walau akhirnya aku menyerah memperjuangkan cinta yang ingin aku dapatkan tersebut. Aku sadar bahwa tak semua hal dalam dunia ini bisa aku sebut sebagai cinta.
Jika boleh jujur aku masih sangat mencintai Mas Bintang, sangat. Ketika dia bertanya apa aku mencintainya, aku mengatakan tidak. Aku tidak mau dia terbebani karena perasaan ini, aku tahu Mas Bintang sudah berubah dan itu adalah alasan kenapa dia pergi dari kota ini?
Motor Shaka berhenti tepat di depanku. Aku memang menelepon adikku ini agar menjemputku.
__ADS_1
"Kak," panggil Shaka sambil membuka helmnya.
"Hei," balasku.
"Maaf, apa Kakak sudah lama menunggu Shaka?" tanyanya seraya turun dari motor.
"Tidak," kilahku.
"Kak Rimba mana, Kak? Kok Kakak sendirian? Di jalan seperti ini lagi?" cecar Shaka sambil melirik sekitarku. Jalanan tampak padat dengan orang-orang yang sibuk karena jam makan siang.
"Dia ada urusan tadi," kataku yang tak ingin membahas tentang Kak Rimba.
Dari banyaknya kesedihan di dunia ini. Satu di antaranya adalah ditipu orang yang di cintai. Dan malangnya kesedihan itu malah menimpaku. Aku tidak ditipu tetapi dia lebih memilih orang lain daripada aku. Aku terlanjur dalam pelukan orang yang salah yang kupikir begitu serius memperjuangkan aku. Hingga kulakukan apa saja yang membuatnya bahagia. Aku bekerja lebih lama dari biasanya. Aku berusaha memahami segala kesibukan dan ketidakpeduliannya. Aku berusaha percaya bahwa dia sungguh-sungguh mencintaiku dengan utuh. Aku mengurangi jam tidutou setiap malam agar bisa berbincang-bincang dengannya walau hanya sebentar. Kumpulkan keberanian untuk menanam impian. Hingga saat semua rencana terasa dekat. Tiba-tiba seseorang yang kuanggap penyembuh luka dengan sungguh ternyata tak begitu menginginkan aku ada di dalam hidupnya. Walau dia tak mengatakannya tetapi aku bisa merasakan hal tersebut. Diurainya keseriusanku dengan segala pengkhianatan. Tak perlu di tanya sakitnya. Tak perlu kujelaskan sedihnya.
"Ada ya, Kak. Lelaki yang tega meninggalkan kekasihnya di tengah jalan hanya karena urusan mendadak?" Shaka geleng-geleng tak habis pikir.
Tak hanya lelaki, tetapi ada juga seorang suami yang tega meninggalkan istrinya demi kekasih hati. Shaka tidak tahu jika ini bukan pertama kali aku menghadapi hal seperti ini. Aku hanya tak menceritakan bagaimana dulu kehidupan rumah tanggaku yang berat sebelum akhirnya berpisah.
"Cih, sepenting apapun urusan. Meninggalkan orang yang di cintai itu sama saja lelaki pengundang," ucap Shaka dengan ketus dan emosi yang menggebu-gebu.
Aku terkekeh pelan dan membiarkan adikku memasang helm di kepala. Entah, kenapa aku selalu kesulitan memang helm di kepalaku?
"Sudah. Jangan mengomel. Kakak lapar," ajakku.
"Hem, perasaan tadi pagi Kakak makan banyak. Kok bisa lapar lagi?" tukas Shaka tak habis pikir.
Aku tak menjawab dan malah tertawa pelan untuk menutupi luka yang ada di hatiku.
__ADS_1
"Kita makan siang di cafe Kakak. Ada Kak Naro dan Kak Tata yang sudah menunggu di sana," ucap Shaka.
Aku mengangguk saja. Beberapa waktu terakhir sejak perceraianku dengan Mas Bintang bahkan sudah hampir berlangsung selama setahun lebih. Sikap ketiga adikku memang begitu peduli. Bukan berarti mereka dulu tidak peduli. Mereka sangat peduli dan menyayangiku. Tetapi kali ini mereka seperti berusaha menjadi penyembuh luka untuk hatiku yang sekarang tak baik-baik saja.
"Pelan-pelan, Kak."
Aku naik ke atas motor ninja adikku. Lalu kupeluk Shaka dari belakang sambil menyandarkan kepalaku lelah. Kurenungkan takdir hidup yang tak pernah aku inginkan ini. Aku tidak beruntung dalam hubungan asmara. Menikah tetapi akhirnya berpisah. Menjalin hubungan dengan pria baru malah di buat seperti tak berharga. Entalah, aku tak bisa mempercayai namanya cinta. Apakah cinta sejati itu masih ada?
"Kak, jangan tidur!" teriak Shaka.
"Ck, siapa juga yang tidur?" ketusku.
"Habisnya Kakak hanya diam saja. Bicara, Kak. Kalau melamun bisa tidur atau kemasukan nanti," celetuk Shaka.
Aku merenggut kesal dan malah memeluk pinggang Shaka dengan erat. Aku memang bukan kakak yang baik untuk ketiga adikku. Tetapi aku bersyukur mereka menyayangi dan mencintaiku dengan tulus dan apa adanya. Semoga saja hubungan kami nantinya selalu sedekat ini.
"Kak," panggil Shaka.
"Apa?" sahutku setengah berteriak.
"Kakak cinta sama Kak Rimba?"
Aku sontak terdiam mendengar ucapan Shaka. Aku memang sedang membuka hati untuk Kak Rimba tetapi untuk bisa mencintainya aku belum bisa berjanji.
"Kenapa kamu tanya begitu?" kilahku yang enggan menjawab pertanyaan dari Shaka. Dia tak boleh tahu bahwa hubungan kami sekarang tak baik-baik saja.
"Dih, jawab saja. Kenapa sudah sih, Kak? Shaka itu sedang bertanya bukan meminta pertanyaan," ketus Shaka yang malas karena aku tak kunjung menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
Apa aku mencintai Kak Rimba? Apa aku nyaman berada di dekatnya? Apa aku bisa menjadikan dia pengganti Mas Bintang?
Bersambung ....