
Cinta lebih kuat dari kematian, meski itu tidak dapat menghentikan kematian terjadi. Namun, tidak peduli seberapa keras kematian mencoba, itu tidak dapat memisahkan orang dari cinta. Itu juga tidak bisa menghilangkan ingatan kita. Pada akhirnya, hidup lebih kuat dari kematian.
"Lala."
Aku memeluk anakku yang sebentar lagi akan menghembuskan napas terakhirnya. Dokter sudah angkat tangan dan pasrah. Bagian pembuluh darah Lala pecah dan seketika semua alat-alat medis di tubuhnya seolah tak berfungsi sama sekali.
"Lala, kalau memang kamu sudah tidak bisa bertahan lagi, Mama ikhlas melepaskan kamu," ucapku pasrah.
Tubuh Lala seketika kejang-kejang dengan mata yang melotot ke atas. Napasnya seperti tercekat dan tidak bisa lagi diselamatkan.
"Tata."
Mas Rey ikut memeluk aku dan Lala. "Mari kita serahkan Lala ke dalam tangan Tuhan," bisik Mas Rey.
Perlahan badan Lala mulai kaku dan pucat. Setelahnya dia menghembuskan napas terakhir di dalam dekapanku. Aku masih terdiam membeku seperti tersambar petir di siang bolong. Air mata tak mampu lagi keluar dan aku bahkan tak merasakan tubuhku memiliki jiwa. Lenyap, hilang dan terlupakan.
"Lala!"
"Lala!"
Mas Rey segera menarik tubuhku dan membiarkan para dokter memandikan jenazah Lala. Aku memberontak dan menolak takdir yang tega mempermainkan hidupku.
"Lala!"
Mas Rey sekuat tenaga memeluk aku yang memberontak hendak menolak para perawat yang membawa Lala ke dalam ruangan jenazah untuk dimandikan.
"Kamu harus ikhlas, Lala sudah bahagia di sana," ucap Mas Rey menenangkanku.
Anggota keluarga berbondong-bondong berdatangan ke rumah sakit termasuk mantan mertuaku. Lala adalah cucu kesayangan mereka karena hanya Lala satu-satunya perempuan, sementara cucu yang lain semuanya laki-laki.
"Lala, jangan tinggalkan Mama."
Aku pikir kehilangan suami akan sangat menyakitkan. Namun, kehilangan seorang anak jauh lebih menyakitkan. Rasanya partikel-partikel dalam tubuh seolah hilang dan pergi tak tersematkan.
__ADS_1
Aku tidak tahu bagaimana cara aku menghadapi hidup setelah ini. Mas Gevan dan Lala telah pergi meninggalkan aku untuk selamanya dan sekarang aku benar-benar hidup dalam kesendirian dan kepatahhatian. Aku bahkan tak bisa bayangkan hidupku setelah ini. Semua partikel-partikel itu hancur dan hilang entah ke mana.
"Lala, Mama tidak bisa hidup tanpa kamu. Jangan tinggalkan Mama, Nak."
* * *
Demi Tuhan, sungguh berat aku lalui. Tanpa kamu bersama denganmu. Sungguh sulit ku menolak untuk tak mengingat lagi, semua kenangan yang kita lalui. Bersama.
Dan aku di sini patah hati tak bisa terima. Kepergianmu dan semua kenyataan ini. Aku tak bisa hidup begini terus, kan ku jalani hidup tanpa kamu.
Perpisahan abadi adalah kematian, tak peduli seberapa hebat jabatan yang kau duduki, seberapa banyak uang yang kau miliki dan takkan ada satu orang pun yang bisa menghindari nya.
#seventeenvsarmada.
Jenazah anakku di kebumikan di Pontianak berdekatan dengan kuburan Mas Gevan.
Jenazah Lala di bawa ke Tempat Pemakaman Umum, di tengah kota. Pemakaman Lala di samping pemakaman mantan suamiku. Aku berjalan dengan hampa, sedangkan bahuku di rangkul oleh Mas Rey yang sedari kemarin tidak pernah meninggalkan aku.
Di pemakaman peti mati Lala, dibuka kembali sebelum dimasukkan ke dalam tanah yang sudah digali oleh petugas pemakaman.
"Selamat jalan, Sayang. Sampai bertemu di kehidupan kedua," lirihku mencoba tersenyum di akhir luka.
Peti mati Lala dimasukkan ke dalam tanah, dan saat itu aku menangis histeris, padahal aku sudah berjanji untuk kuat dan ikhlas namun pada kenyataannya aku sendiri yang ingkar janji.
"Lala!" teriakku.
"Lala!" panggil Mama Meysa
"Lala!" teriak Mama Ara.
Dan teriak-teriak itu mengiring peti mati putri kecilku masuk ke dalam tanah. Tanah-tanah yang dingin itu membungkus anak yang aku cintai. Memeluknya dengan erat dan bahkan menghalang pandangan mataku.
Sumpah demi langit dan bumi, aku benar-benar belum siap kehilangan. Aku tidak akan sanggup hidup tanpa Lala-ku, entah bagaimana cerita hidupku setelah ini. Apakah aku mampu bertahan atau justru menyerah pada keadaan?
__ADS_1
Semua kenangan bersama Lala masih melekat di sini tetapi dia sudah pergi dan takkan kembali. Aku terus saja menangis, hingga mataku membengkak dan tak peduli lagi dengan kondisi tubuhku.
Lala dan Mas Gevan pergi hampir dalam waktu yang sama. Mereka sama-sama meninggalkan luka dan kesepian yang membuat aku meratap sepanjang masa.
Jika menangis bisa membuat yang mati hidup lagi, yang hilang muncul lagi dan yang pergi datang kembali. Maka aku ingin menangis sejadi-jadinya, tak peduli dengan air mata yang akan mengering aku ingin dia kembali.
Rindu paling menyakitkan adalah merindukkan seseorang yang telah tiada. Tak peduli seberapa lama kau menangis memanggil namanya agar dia kembali, tak peduli seberapa hebat tangis mu yang menggema dia takkan mendengar. Karena dia takkan pernah kambali sekalipun dia terbaik lima ratus juta kali dan sekali pun menunggu beratus-ratus tahun lamanya.
Aku merasakan usapan hangat di pundakku, usapan dari seseorang yang memiliki tangan kekar dari pria yang mendukungku dalam segala hal.
"Mencoba lah untuk ikhlas, Sayang. Kamu harus tetap hidup untuk melanjutkan impian Lala," ucap Mas Rey
Aku menatap Mas Rey dengan tatapan sendu dan pengaduan. Andai saja uang bisa menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal, maka aku akan bayar berapapun harga yang akan aku keluarkan.
Kupeluk batu nisan yang bertuliskan nama anakku di sana. Kupeluk seerat mungkin dan mencoba merasakan kehadirannya di sini.
Ingin, rasanya aku marah dan berteriak di depan wajahnya tetapi semua percuma toh Mas Gevan dan Lala takkan kembali lagi padaku. Dia sudah pergi untuk selamanya, bukankah sudah cukup aku menangis dan untuk apa lagi aku marah?
Rasanya seperti mimpi yang benar-benar terasa nyata, baru saja kemarin malam aku memeluk hangat tubuh rapuhnya.
Dan kini, dia juga justru memilih pergi dan membiarkanku hidup sendiri. Masih terngiang di kepalaku ketika Lala merenggek ingin bertemu papanya. Kini mereka benar-benar hidup bahagia di surga tanpa mengajakku yang masih meratap di bumi.
Seluruh aliran dalam tubuhku seakan berhenti dan membuat ku hanya diam mematung tanpa bergerak dalam pelukkan Mas Rey.
"Lala, Mas Gevan!"
Aku menatap kedua makam itu dengan hati bagai teriris kedua orang ini pergi meninggalkan aku. Belum juga aku bangkit dari patah hati karena kehilangan Mas Gevan beberapa Minggu yang lalu dan kini anakku yang aku sayangi menyusul dan meninggalkan luka di hati.
Kenapa Tuhan, sangat suka menyiksa jati diri ini? Setelah dipatahkan oleh pengkhianatan Mas yang meninggalkan aku. Kini aku harus dihadapkan dengan perpisahan abadi perpisahan yang takkan pernah menemukan titik temunya dan bahkan perpisahan yang takkan ada ujungnya, sekalipun dunia terbalik lima ratus juta kali dan sekalipun menunggu beratus-ratus tahun lamanya.
Kepalaku benar-benar terasa sakit, selama dua Minggu ini aku rutin menangis. Setiap hari bermandikan air mata dalam seni merayu Tuhan. Berharap akan ada keajaiban yang terjadi. Namun, siapa sangka aku justru kalah dengan fakta yang menyiksa.
Aku memejamkan mataku, menikmati setiap rasa sakit yang ada di hati dan hidup. Aku tidak bisa menghindar dari semua ini, aku hanya terus harus mengikuti arus cerita hidup ini.
__ADS_1
"Selamat jalan anak Mama. Maaf karena gagal menjagamu. Ketahuilah, Mama mencintai kamu sampai nanti."