Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 04. Chapter 06.


__ADS_3

Aku turun dari mobil karena di antar oleh Kak Galaksi.


"Kak, terima kasih sudah mengantar Arin," ucapku.


"Sama-sama, Rin. Kamu tetap semangat ya, jangan lupa besok kamu harus check lagi, sampai kita menemukan obat untuk penyakit kamu," ucap Kak Galaksi seraya tersenyum padaku.


Tak kusangka ternyata dia memiliki sifat yang hangat walau kata Kak Nara dia playboy dan sering gonta-ganti pacar. Tetapi beberapa bulan lalu dia di selingkuhi oleh kekasihnya. Hal tersebut membuat dia bertobat dan berhenti menjadi playboy.


"Iya, Kak," sahutku. "Kak, tolong jangan katakan pada siapapun tentang penyakitku," pintaku.


Kak Galaksi tampak menghela napas panjang. Lalu melihatku sambil tersenyum hangat.


"Iya," sahutnya kemudian. "Kalau begitu saya pamit dulu," pamitnya.


"Iya, Kak."


Aku melambaikan tangan saat mobil Kak Galaksi menjauh dari rumah mewah Kak Naro. Kuhela napas sepanjang mungkin, lalu tersenyum kecut memikirkan masalah penyakit dan rumah tanggaku. Rasanya aku lelah, aku ingin menyerah. Tetapi bagaimana dengan nyawa yang hidup di rahimku, dia tidak akan baik-baik saja jika aku memilih berhenti memperjuangkannya.


Aku berjalan masuk dengan langkah pelan. Jujur saja aku lelah, apalagi begitu banyak emosi yang aku keluarkan hari ini.


"Darimana saja?"


Langkahku terhenti ketika mendengar suara yang begitu familiar di telingaku.


"Kak."


Aku menunduk saat melihat Kak Naro yang berdiri di depan pintu sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Ada hubungan apa sama Galaksi?" tanyanya penuh selidik.


"Tidak ada hubungan apa-apa, Kak. Tadi kebetulan bertemu dia," jawabku jujur.


Dia menatapku sinis seolah aku salah hama yang tak pantas berada di depan matanya.


"Sayang."

__ADS_1


Aku mengangkat kepala ketika mendengar suara wanita. Keningku mengerut melihat wanita tersebut berjalan kearah kami, siapa dia?


"Sini, Sayang!"


Kak Naro tampak menyambut wanita tersebut dengan hangat lalu memeluk pinggang wanita tersebut.


"Sayang, perkenalkan. Ini istri yang aku ceritakan padamu," ucap Kak Naro.


Aku menatap wanita itu penuh selidik. Siapa dia? Kenapa dia ada di sini?


"Hai, aku Sherly, pacar Naro."


Deg


Jantungku seperti berhenti berdebar. Apa tadi katanya, pacar Kak Naro? Setahu aku Kak Naro ini pria dingin yang bahkan hampir tak pernah dekat dengan wanita manapun, kenapa sekarang dia malah memiliki pacar? Dan apa maksudnya membawa wanita ini dalam kehidupan rumah tangga kami?


"Ariana."


Aku membalas sambutan tangan wanita cantik tersebut. Dia sangat cantik dengan gaun warna merah yang membelut tubuh seksinya.


Kak Naro setengah mendorong tubuhku agar aku segera ke dapur dan memasak mereka.


"Baik, Kak."


Aku membungkuk hormat lalu berjalan kearah dapur seraya menahan pipiku yang mulai panas. Tidak, aku tidak boleh menangis. Hari ini sudah terlalu banyak air mata yang aku keluarkan. Entah kenapa hatiku mencelos sakit ketika melihat betapa mesranya Kak Naro dengan wanita tersebut? Apa aku mulai menyukai suamiku? Aku tak bisa bohong, bahwa Kak Naro memiliki pesona yang sulit di tolak oleh kaum hawa, mungkin aku salah satunya.


Aku mengambil sayuran di dalam kulkas. Jujur saja badanku serasa remuk redam dan aku lelah sekali. Namun, aku tak bisa meninggalkan tugas dan tanggungjawabku.


Aku berkutat dengan alat-alat dapur. Aku harus fokus, jangan sampai nanti asin atau kekurangan garam.


Aku menyajikan makanan tersebut di atas meja. Tampak Kak Naro dan wanita bersama Sherly itu berjalan kearah meja makan. Aku tersenyum kecut ketika melihat wajah bahagia Kak Naro.


"Silakan dimakan, Kak," ucapku.


"Hem." Dia membalas dengan deheman.

__ADS_1


Kak Naro menarik kursi agar Sherly bisa duduk. Perhatian yang tak pernah aku dapatkan dari suaraku.


"Kenapa kamu berdiri di situ? Masuk kamar sana! Menganggu saja, dasar perempuan bekas," usir Sherly menatapku jijik.


"Kenapa belum pergi?" sambung Kak Naro.


"Baik, Kak."


Aku membungkuk hormat dan berjalan masuk ke dalam kamarku. Aku duduk di bibir ranjang tipis ini, kejam. Kenapa takdir kejam sekali? Apakah tidak ada kesempatan untuk aku memperbaiki diri.


"Tuhan, apa yang Engkau inginkan dariku? Apakah sebegitu berdosa aku di mata-Mu, sehingga Kau berikan aku cobaan seberat ini. Tidak apa aku di benci oleh suamiku sendiri, tetapi kenapa Kau tambah dengan penyakit mematikan ini?"


Kupejamkan mata sejenak. Lagi, rasa sakit menjalar dari bagian perut hingga kepala. Segera aku meronggoh obat yang tadi sempat aku beli di apotik, kata Dokter Novi obat ini hanya menghilangkan rasa sakit dan bukan untuk menyembuhkan penyakit. Setelah kuminum obat tersebut, kubaringkan tubuhku di atas kasur tipis kamar pembantu ini, siapa tahu rasa sakitnya bisa hilang.


Ketika ku beranjak tidur, kadang kutakut tak bangun lagi dan berada di tempat yang lain, sepi sendiri ku kedinginan. Sejak aku tahu ada tumor yang tumbuh di dinding rahimku, aku sedikit pesimis dalam menjalani kehidupan ini. Bagaimana jika aku benar-benar pergi meninggalkan dunia ini nanti? Aku tak bisa bayangkan kehidupan anakku tanpa ibunya. Aku saja yang masih memiliki orang tua lengkap merasa tak memiliki orang tua. Apalagi anakku, ayahnya entah kemana dan ibunya meninggal?


"Nak, jika kamu lahir nanti dan tidak melihat wajah Bunda. Ketahuilah, Nak. Bahwa Bunda sangat menyayangimu. Maafkan Bunda yang belum bisa menyiapkan masa depan kebahagiaan buat kamu. Bukan Bunda menyerah, Nak. Tetapi rasa sakit ini seakan tak mengizinkan kita bersama. Walau Bunda tidak ada, kamu harus tetap bahagia."


Kuusap perut rataku seraya menahan sakit yang seperti membuat tubuhku berhenti bekerja.


"Maafkan, Bunda. Kamu harus lahir dari rahim wanita murahan."


Aku adalah wanita murahan dan bisa di bilang pelacur. Mana ada pelacur akan menemukan lelaki yang menerima dia apa adanya, kalaupun ada itu hanya di dunia film dan novel. Sedangkan aku, suami yang bukan ayah dari anakku benar-benar menatap aku seperti kotoran. Aku sungguh tak berarti dan berharga di matanya. Baginya, aku adalah pendosa yang tak layak mengucapkan doa.


Drt drt drt drt


Ponselku berbunyi. Kuraba tas kecil yang berada di atas nakas. Aku memaksakan senyum tipis ketika melihat nama siapa yang tertera di sana.


Setelah menikah, baru kali ini Mama menelepon. Aku tahu, Papa yang melarangnya menghubungiku.


"Arin baik-baik saja, Ma. Mama jangan khawatir, Arin bahagia bersama Kak Naro. Dia sudah menerima Arin sebagai istrinya."


Kebohongan hanya menyelamatkan sementara tetapi melenyapkan untuk selamanya. Tetapi aku berharap, walau aku berbohong tidak menyakiti siapapun, aku hanya tak mau akan banyak orang yang terluka karena aku.


"Papa, setelah ini Arin tidak akan membuat Papa malu lagi. Terima kasih sudah menjadi cinta pertama Arin, Pa. Walau pada akhirnya Arin lah yang merusak dan meruntuhkan cinta Papa. Arin sayang banget sama Papa. Arin minta maaf, Pa."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2