Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Bertahan karena anak


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Aku masuk kedalam mobil. Sejenak aku memejamkan mataku meredakan semua kemarahan yang meruah didalam sana. Aku melirik kembali rumah yang menyimpan banyak kenangan tersebut. Ini adalah terakhir kalinya aku menginjakkan kaki di rumah ini.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Divta mengusap lengan ku.


Bohong jika aku tidak apa-apa, aku sedang menahan perih yang menghantam didalam dadaku. Perasaan yang dulu menggebu dalam dada kini terkikis bersama butiran air mata yang lolos dipelupuk mataku.


Bukan, aku tidak menangis karena Mas Galvin menampar pipiku, aku hanya sedih dan terluka. Bagaimana bisa lelaki yang dulu begitu mencintai ku berubah menjadi orang yang sangat aku benci?


"Hiks hiks hiks hiks hiks."


Aku memukul dadaku berulang kali, berusaha menghilangkan segala sesak yang berada didalam sana. Diperlakukan seperti tak berharga oleh manusia, membuat aku sadar bahwa hidup ini tidak akan selalu bisa membuat orang lain menyukai kita.


"Ra."


Divta merengkuh tubuhku kedalam pelukannya. Mengeratkan tangannya agar aku masuk didalam sana. Aku memang membutuhkan pelukkan. Aku butuh seseorang untuk tempat bersandar.


"Menangislah, Ra. Aku tahu kamu lelah," ucap Divta seraya mengelus punggung ku.


Aku tak merespon apapun, selain tangis yang menandakan bahwa selama ini aku benar-benar rapuh dan tak berdaya. Jika bukan demi Nara dan Naro, mungkin aku lebih memilih mengakhiri hidupku. Agar semua rasa sakit ini tak ada lagi.


Secepatnya aku melepaskan pelukan Divta dan menyeka air mataku dengan kasar. Aku tak boleh lemah. Aku harus kuat, demi kedua buah hatiku.


"Maaf Ta," ucapku memalingkan wajah.


"Sudah lebih baik?" Sambil menyedorkan botol berisi air mineral yang segar.

__ADS_1


Aku mengambil botol tersebut dan menunggak isinya hingga tandas.


"Aku sudah meminta bantuan beberapa temanku untuk menyelidiki kasus kecelakaan Nara dan Naro. Orang itu tidak akan bisa melarikan diri," ucap Divta.


Aku mengangguk, disaat-saat tak berdaya seperti ini terkadang pikiran ku blong dan tak bisa memikirkan apapun. Apalagi kalau melihat wajah kedua anakku, rasanya sakit sekali. Bagaimana bisa ada yang tega mencelakai anak belia seperti Nara dan Naro, mereka belum tahu kesalahan mereka di mana? Kalaupun, aku yang salah. Kenapa tidak aku saja yang di tabrak? Kenapa harus mereka yang belum tahu apa-apa?


"Kamu lapar?" tanya Divta menyalakan mesin mobilnya lalu meninggalkan kediaman Mas Galvin.


Aku menggeleng. Aku sama sekali tak nafsu untuk makan. Apalagi baru saja aku merasakan perih dan sakitnya di khianati oleh orang yang di cintai.


"Ra, bagaimana kalau makan siang ke rumah aku saja? Aku ingin makan masakan mu. Aku rindu masa-masa SMA kita dulu," ucap Divta melirik ku.


Aku membalas dengan anggukan. Rasanya lelah sekali mau mengeluarkan kata-kata lewat mulut. Masih saja terbayang di kepalaku bagaimana Mas Galvin menamparku hanya karena aku membentak ibu mertua. Aku tahu dia sayang ibu nya, tetapi apakah dia tidak bisa lihat siapa yang salah?


"Kamu jangan terlalu sedih. Lagian kamu sudah tak memiliki hubungan apapun sama Galvin. Biarkan saja, suatu saat dia akan menyesal karena sudah membuang wanita sebaik kamu," ucap Divta menghibur.


Aku tersenyum kecut, aku tak sebaik yang Divta katakan. Jika aku baik suami dan mertua ku tidak akan membuang aku seperti sampah yang tak berguna. Kalau aku baik, pasti aku juga mendapatkan laki-laki yang baik untuk menjadi suamiku. Tetapi kenyataannya, aku malah mendapatkan pengkhianatan dari cinta yang aku perjuangkan.


.


.


.


"Nak."


Air mataku luruh, apalagi ketika melihat kaki Nara yang tak bisa berjalan. Sejahat itukah manusia? Anak sekecil Nara harus mengalami penderitaan yang tak seharusnya dia rasakan. Anak sekecil Nara harus duduk dikursi roda dalam waktu yang lama. Meski dokter mengatakan bahwa kemungkinan untuk sembuh masih ada. Tetapi kenapa hatiku hancur melihat Nara yang kemana-mana harus menggunakan kursi roda.


"Maafkan Mama."


Aku mengecup kening anakku dengan sayang. Mencoba mentransfer segala rasa sakit dan gundah yang membuncah didalam sana. Ya, setiap kali melihat kedua anakku, rasa sakit itu seperti menusuk-nusuk didalam dada. Aku merasa bersalah, karena belum bisa memberikan yang terbaik untuk kedua anakku. Aku belum bisa membuat mereka bahagia dengan caraku sendiri.

__ADS_1


"Kalian adalah alasan Mama bertahan sampai saat ini."


Ya Nara dan Naro adalah alasan kenapa aku bertahan menghadapi pahitnya hidup ku. Saat aku ingin menyerah, aku selalu dikuatkan dengan senyum yang terukir diwajah mereka.


Aku juga minta maaf, anak-anak ku sudah harus kehilangan figure seorang ayah di usia dini. Usia yang seharusnya masih dalam masa pertumbuhan. Usia yang membutuhkan kasih sayang dari orang tua. Namun, mereka justru kehilangan sosok itu dengan paksa.


"Mama berjanji Sayang, Mama akan membuat kalian berdua bahagia. Kita akan baik-baik saja tanpa Papa," ucapku lirih.


Semua rasa sakit yang dulu nya tertahan berbulan-bulan karena kehilangan, kini perlahan menghilang setelah sebuah pengkhianatan. Setelah ini, aku benar-benar harus memulai semuanya dari awal. Menata kembali hidupku yang keras, menjadi orang tua tunggal dari kedua anakku. Serta bekerja keras demi masa depan mereka berdua. Aku harus benar-benar menjadi seorang wanita tangguh untuk menghadapi kekejaman dunia.


Kemarin, ku pastikan itu adalah terakhir kalinya Mas Galvin menyentuh tubuhku dan menyakiti ku.


"Selamat tidur anak Mama."


Ku kecup kening Nara dan Naro dengan sayang. Ku tatap wajah tenang tanpa beban. Senyuman terukir di wajahku, lebih tepatnya senyum terpaksa. Ya memilih berpisah dengan Mas Galvin adalah sesuatu yang tak mudah. Namun, sekarang aku menyadari bahwa Tuhan ingin aku memperbaiki diri.


Aku keluar dari kamar. Rumah Mas Bayu dan Kak Dea, sangat besar dengan beberapa kamar yang tersedia disana.


"Ra," panggil Kak Dea saat aku hendak mengambil minuman di dapur.


"Iya Kak?" Aku menoleh.


"Di panggil Mas Bayu, ada yang ingin dia bicarakan sama kamu. Ayo," ajak Kak Dea sembari menggandeng lenganku.


"Bicara apa Kak?" tanyaku dengan kening mengerut heran.


"Tentang kecelakaan Nara dan Naro. Mas Bayu sudah menemukan orangnya dan pasti kamu akan terkejut setelah tahu," ucap Kak Dea sambil menghela nafas panjang.


"Kak, siapa?" tanyaku penasaran.


"Nanti kamu akan tahu," jawab Kak Dea.

__ADS_1


Aku dan Kak Dea berjalan menuju ruang keluarga.


Bersambung......


__ADS_2