
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
Aku mengikuti langkah kaki Pak Dante, sedangkan Mas Galvin menatapku curiga. Aku tidak peduli apapun dengan Mas Galvin, hubungan kami sudah berakhir dan kami hanya orang asing. Meski jujur saja jika masih ada perasaan yang menggebu didalam dada. Namun, aku menyadari banyak hal bahwa sekuat apapun aku memaksakan hal yang bukan milikku takkan berakhir dipelukkan ku.
"Kamu bisa bawa mobil?" tanya Pak Dante melihatku.
"Bisa Pak," sahutku.
"Ya sudah, kamu yang menyetir," ucap nya memberikan kunci mobil tersebut padaku.
"Iya Pak," jawabku masuk kedalam.
Sebenarnya posisi ku ini Kasie Keuangan atau sekretaris pribadinya. Kenapa aku merasa Pak Dante menyuruhku seperti aku ini assiten atau sekretaris nya? Aku tak menolak, hanya saja aku karyawan baru bekerja disini. Akh tak enak hati berduaan dengan boss sendiri seperti. Aku tak mau terjadi seperti di novel-novel pasaran, boss jatuh cinta pada bawahnya. Ini dunia nyata aku bukan dunia halu.
"Pak, apakah boleh singgah di sekolah anak-anak saya sebentar?" ucapku melirik pada Dante yang tampak terdiam sambil menikmati perjalanan menuju cafe.
Jika siang-siang seperti ini, suasana jalan macet. Tempat-tempat makan juga akan penuh karena banyak karyawan bank atau perusahaan yang makan siang di tersebut.
"Boleh," sahutnya tanpa melihat kearahku.
Aku melirik arloji ditangannya, jam makan siang hampir selesai. Pasti Nara dan Naro sudah lapar walau tadi aku menitipkan bekal pada mereka. Tapi kedua anakku ini memiliki kebiasaan yang aneh, harus aku yang menyuapi mereka baru mereka makan.
Aku memarkirkan mobil depan gerbang sekolah, mess Bu Dessy berada dilingkungan sekolah. Jadi harus lewat gerbang untuk bisa masuk kedalam sana.
"Pak, tunggu disini sebentar, saya akan menemui anak-anak," izin ku.
"Saya ikut," ucapnya membuka sealbeat di tubuhnya.
"Boleh Pak," sahutku.
Kami berdua keluar dari mobil. Aku menghela nafas panjang. Sebenarnya aku tak nyaman karena Pak Dante ikut bersama ku. Apalagi Pak Dante ini orang nya dingin, bahkan berbicara saja hanya karena perlu.
"Mama," panggil Naro.
__ADS_1
"Naro," senyum ku sambil berjongkok dan menyambut pelukkan anakku.
"Mama Naro lapar," adu nya.
"Iya Sayang, kita makan yuk," ajakku.
"Pak Dante ayo masuk, Pak," ucapku mempersilahkan Pak Dante masuk kedalam mess kecil milik Bu Dessy.
Pak Dante hanya mengangguk lalu masuk bersama aku dan Naro. Disana sudah ada Bu Dessy yang duduk sembari menyiapkan makan siang. Bu Dessy ini sudah seperti kakak ku, usia nya diatas ku. Namun, hingga sekarang dia masih enggan untuk memulai menikah. Padahal usia matang seperti nya sudah sangat cocok membangun kehidupan rumah tangga.
"Siang Bu Dessy," sapa ku.
"Ehh siang Bu Ara, silahkan duduk dulu Bu. Saya siapkan makan," ucap Bu Dessy.
"Biar saya bantu, Bu," ujarku.
Aku melangkah ke dapur membantu Bu Dessy menyiapkan makan siang. Sedangkan Pak Dante duduk diruang tamu bersama Nara dan Naro. Tampak dia seperti berbincang-bincang dengan Nara yang duduk dikursi roda.
"Calon Ibu? Ganteng Bu," goda Bu Dessy.
Aku terkekeh pelan, "Bukan Bu, itu boss saya di kantor. Pak direktur," jawabku.
"Ehh tapi saya lebih setuju Ibu sama Kapten Divta saja, Bu," sambung Bu Dessy. Dia memang suka sekali menggoda ku hal-hal seperti ini. Apalagi sejak aku menjadi janda.
"Jangan aneh-aneh, Bu," ujar ku menggeleng sambil tersenyum saja.
.
.
.
"Suami kamu kemana?" tanya Pak Dante.
Kami sedang makan siang bersama setelah bertemu klien dan membahas masalah penyuntikkan dana. Di mana perusahaan tempat aku bekerja akan menginvestasikan sebagian besar saham ke perusahaan tersebut.
Aku menghela nafas panjang. Sejujurnya aku kurang nyaman jika ditanya masalah pribadi seperti ini. Terlebih Pak Dante boss ku. Tapi kalau dia bertanya tidak mungkin aku akan diamkan saja.
__ADS_1
"Saya sudah bercerai, Pak," jawabku singkat padat dan jelas.
Semoga saja Pak Dante tidak bertanya, apa penyebab aku bercerai. Aku tak ingin mengingat luka yang tergores didalam dada. Sebab tak mudah bagiku bangkit setelah dipatahkan dengan luar biasa oleh suamiku sendiri.
"Oh."
Pak Dante hanya beroh ria saja. Seolah dia membaca raut wajah ku yang tidak suka membahas tentang perpisahan ku dan Mas Galvin. Ya tak ada wanita yang baik-baik saja ketika menghadapi yang namanya perceraian. Semua wanita di dunia ini ingin selalu bersama dengan lelaki yang menjadi ayah dari anak-anak nya. Namun, apalah dayaku yang tak mampu menahan Mas Galvin agar selalu berada disisiku.
"Ohh bagus, baru bercerai dari suami sudah punya gebetan baru,"
Aku dan Pak Dante sama-sama menoleh kearah sumber suara yang tidak jauh dari meja kami makan.
"Jual diri, Diandra," tuding nya menatap ku sinis.
Pak Dante diam saja. Sosok nya ini mengingatkanku pada Naro, yang tenang dan dingin.
Akh menatap ibu mertuaku tajam. Jika saja tidak ada Pak Dante sudah pasti aku akan meremes-remes wajah nya.
"Memang nya kenapa Bu? Jika Mas Galvin bisa mendua. Kenapa saya tidak? Lagian kami sudah berpisah, jadi sah-sah saja jika saya mau dekat dengan siapapun," jawabku berani. Ya aku tidak akan takut pada mantan ibu mertua ku ini, jika dia bisa bersikap kasar. Kenapa aku tidak?
Pak Dante tampak terkejut. Dia melihat kearah ku. Tatapan matanya seperti bertanya-tanya, ya aku tahu jika dia penasaran pada nama yang aku sebut tadi.
"Dasar menantu tidak tahu diri." Dia hendak melayangkan tamparan kearahku, dan secepatnya aku menahan tangannya.
"Ralat mantan menantu, Bu. Saya bukan menantu Ibu lagi. Jadi Ibu tidak bisa semena-mena sama saya," ucapku menghempaskan tangan mantan ibu mertua ku dengan kasar.
"Awwww," rintih nya tampak lebay di mataku. Beginilah aku, jika sudah membenci seseorang maka akan mendarah daging.
"Tidak sopan sama orang tua," singgung ibu mertua sambil mengusap tangannya yang memerah akibat cengkraman ku. Jangan heran jika aku kuat karena aku jago bela diri.
"Saya akan sopan jika Anda sopan, Bu. Anda yang lebih dulu mencari gara-gara dengan saya," tampik ku.
Dia menghentakkan kaki nya kesal lalu melenggang pergi meninggalkan kami. Sudah ku ingatkan dia berulang kali, aku bukan tipe orang yang mudah di tindas. Aku paling tidak suka ada orang yang mencari gara-gara dengan aku. Aku bisa berubah menjadi iblis yang menyerupai malaikat jika terus di uji kesabaran.
"Maaf Pak," ucapku tak enak hati. Jujur aku benar-benar tak enak bertengkar didepan boss ku sendiri.
Bersambung....
__ADS_1