Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 04. Chapter 07.


__ADS_3

Aku menyiapkan sarapan pagi seperti biasa untuk suamiku. Sesekali aku melirik kearah kamarnya, aku penasaran? Apa dia satu kamar dengan wanita yang dia akui sebagai kekasihnya itu.


"Hei, wanita murahan!"


Aku terkejut ketika seseorang tiba-tiba memukul meja.


"Kak Sherly?"


"Eh, kamu itu benar-benar wanita tidak tahu diri ya? Harusnya kamu itu tidak perlu melayani Naro karena dia tidak pernah menganggap kamu sebagai istrinya," ucap Kak Sherly yang begitu menohok di hatiku.


Aku tersenyum getir, aku sadar diri kalau dia memang tidak menerimaku sebagai istrinya. Tetapi harusnya kekasihnya juga mengatakan hal tersebut.


"Awas saja kalau kamu berusaha buat Naro cinta sama kamu. Kamu akan tahu sendiri akibatnya," ancam Kak Sherly sambil menunjuk wajahku dengan penuh amarah.


"Kamu itu orang ketiga di antara kami," sambungnya kemudian.


Aku mengangguk paham. Apakah aku benar-benar orang ketiga di antara rumah tangga kami? Aku baru kali ini mendengar bahwa seorang istri menjadi orang ketiga di rumah tangganya sendiri.


"Cepat kamu masak sana!" Kak Sherly setengah mendorong tubuhku.


"Iya, Kak." Aku menurut patuh.


Kak Sherly menatapku sinis dengan tangan yang terlipat di dada. Aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis, walau dalam hati aku sudah greget ingin melawan wanita tersebut. Namun, apa daya itu hanya percuma dan nanti Kak Naro malah akan membenci aku lagi.


Kusajikan masakan yang sedari tadi sudah siap di atas kompor dan meletakkannya di atas meja. Sial, kenapa perutku tiba-tiba nyeri? Apalagi yang sakit? Tadi baik-baik saja walau aku sedikit mengalami morning sicknesss.


"Argh!"


Kupegang perutku sambil duduk di kursi meja makan. Untung saja Kak Sherly sudah masuk kembali ke kamarnya. Kalau tidak dia pasti akan mengejekku lagi.


"Kenapa sakit sekali?" keluhku.


Tak mau berlama-lama dan ketahuan oleh suamiku, aku segera menyelesaikan pekerjaanku dan kembali lagi ke kamar. Apakah perlahan penyakit ini akan membuat tubuhku berhenti bekerja? Apakah penyakit ini benar-benar ingin melenyapkan aku dari permukaan bumi ini?


"Nak, kamu pasti lelah. Maafkan Bunda ya, Nak. Bunda belum bisa memberikan yang terbaik buat kamu. Kamu harus bertahan sampai lahir ke dunia nanti. Bunda menyayangimu."


* * * * * *


"Kak Arin!"


Anggi berhambur memelukku ketika aku sampai di bandara menjemputnya dari Jakarta.

__ADS_1


"Anggi." Aku membalas pelukannya.


"Kakak, apa kabar?" Anggi melepaskan pelukanku.


"Seperti yang kamu lihat, Ngi," jawabku.


Anggi mengusap kedua lenganku. Matanya berkaca-kaca, ada rasa bersalah dan kecewa yang tampak jelas dari tatapan mata indahnya. Dia adalah adik dari Mas Angga yang tinggal di Jakarta. Aku memang dekat dengan Anggi sejak pertama kali aku menjalin hubungan dengan Mas Angga.


"Kak, maaf," ucap Anggi terdengar berat.


"Maaf untuk apa, Ngi?" tanyaku tersenyum.


Walau aku kecewa dengan perbuatan Mas Angga tetapi aku tidak bisa melibatkan Anggi dalam masalahku dan Mas Angga, apalagi dia tidak tahu apa-apa.


"Maaf karena Mas Angga sudah pergi meninggalkan Kakak," ucap Anggi merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Ngi. Kakak baik-baik saja," kilahku.


Aku ingin sekali bertemu Mas Angga dan bertanya, apa salahku sehingga dia pergi di hari pernikahan kami dan meninggalkan aku yang sedang menggandung anaknya? Mana tanggungjawabnya, mana kata setia yang dulu sering dia ucapkan padaku?


"Maaf, Kakak jadi menikah dengan Kak Naro. Semoga Kakak bahagia," ucap Anggi kemudian.


Anggi tidak tahu masalah kehamilanku karena memang aku tidak pernah menceritakan ini pada keluarga Mas Angga.


Tak hanya dekat dengan Anggi tetapi hubunganku dengan keluarga Mas Angga memang baik sejak dulu. Mereka menerima aku apa adanya dan bahkan merencanakan pernikahan kami. Tetapi apa boleh buat ternyata Mas Angga lah yang menaruh racun di antara kami.


"Kak, Anggi datang ke sini karena ada sesuatu yang ingin Anggi katakan pada Kakak," ucap Anggi dengan mata berkaca-kaca. Gengaman tangannya padaku.


"Mau bicara apa, Ngi?" tanyaku.


"Ini masalah Mas Angga, Kak," jawab Anggi.


Aku terdiam. Apa yang ingin Anggi katakan tentang Mas Angga padaku. Jujur saja rasa marah dan kecewa malah menjelma menjadi kebencian yang mendarah daging di dalam hatiku. Bagaimana tak kecewa ketika di tinggalkan di hari pernikahan? Apa alasannya? Apa sebabnya, kenapa semua laki-laki seolah ingin menyakiti aku? Aku tahu, aku memang perempuan kotor yang sudah merusak diri tetapi apa aku sungguh tak pantas menerima kata maaf?


"Mau bicara apa, Nggi?" tanyaku dingin.


"Nanti juga Kakak tahu," sahut Anggi.


"Ayo, Kak. Ikut Anggi!" Anggi menggandeng tanganku. Sedangkan tangannya yang satu dia gunakan untuk menarik koper.


Aku menurut saja. Untung Anggi tidak curiga melihat wajahku karena tadi aku memang sengaja memakai make-up supaya tidak terlihat pucat karena rasa sakit yang menjalar di tubuhku.

__ADS_1


"Tunggu!"


"Kenapa, Nggi?" Keningku berkerut heran sembari menatap gadis yang hampir menjadi adik iparku ini.


"Tumben Kakak dandan?" tanya Anggi menatapku penuh curiga. "Kakak curiga sedikit kurusan, seperti orang hamil."


Deg


Anggi ini calon perawat sekarang dia sedang melanjutkan studi-nya di luar pulau. Tentu dia tahu gerak-gerik seorang ibu hamil. Bagaimanapun aku menyembunyikan kehamilanku sepertinya Anggi akan tetap tahu.


"Kakak baik-baik saj_"


Ucapan Anggi terpotong dan dia fokus melihat kearah belakangku.


"Kenapa, Nggi?"


Aku mengikuti arah pandang Anggi. Aku tak terkejut ketika melihat Kak Naro dan Kak Sherly di sana tampak bermesraan. Sepertinya, Kak Sherly akan berpergian jauh karena terlihat dari koper yang dia bawa.


"Kak, itu Kak Naro sama siapa?" tanya Anggi menunjuk kearah Kak Naro dan Kak Sherly.


"Tidak tahu," kilahku.


"Hem, kenapa mesra sekali mereka? Apa wanita itu tahu kalau Kak Naro sudah menikah?" cecar Anggi yang tak bisa diam.


"Entahlah," sangkalku.


Aku memalingkan wajahku kesembarangan arah dan tak mau melihat permandangan yang benar-benar menyesakkan dada tersebut.


"Sudahlah, ayo," ajakku.


"Tunggu, Kak," sarkas Anggi menahan tanganku. "Kakak tunggu di sini, aku mau menghampiri Kak Naro."


"Anggi, jangan!" cegahku.


"Memangnya kenapa, Kak? Wanita itu harus tahu kalau Kak Naro sudah memiliki istri." Anggi menepis tanganku dengan lembut. "Pokoknya Kakak tenang saja biar Anggi yang urus," ucap Anggi yang tak mau kalah.


Aku pasrah dan tak bisa menahan Anggi lagi. Kulihat dia berjalan menghampiri Kak Naro dan Kak Sherly.


Entah apa yang mereka bicarakan? Kak Naro melirik kearahku seketika sebelum akhirnya fokus pada pembicaraan Anggi tampak marah-marah. Aku tak berhak marah pada apapun yang di lakukan Kak Naro, aku memang tidak di inginkan olehnya.


"Kak, apa kamu tahu? Perlahan rasa yang tak seharusnya ada ini mulai merasuki jiwaku. Maafkan aku, Kak. Ternyata aku sudah jatuh cinta sama kamu."

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2