
Dalam hidup tidak semua manusia memiliki keberuntungan yang sama. Ada yang memang terlahir dengan takdir membawa pada jalan cerita hidup yang berantakan.
Aku adalah manusia tersebut. Awalnya kehidupanku indah karena di kelilingi oleh orang-orang yang memperlakukan aku dengan baik. Namun, siapa sangka takdir menghempaskan aku hingga berada pada titik terendah dalam hidupku.
"Kakak."
Anggi berhambur memelukku sambil menangis. Dia meluapkan semua emosi dan amarah yang mungkin saja membuncah di dalam dadanya.
"Kakak kenapa tidak katakan ini pada Anggi, Kak. Kenapa Kakak menyembunyikan ini semua?"
Andai Anggi tahu, jika kondisiku saat ini sebenarnya tak ingin kusembunyikan. Namun, apa daya jika takdir dan keadaan sama sekali tak mengizinkan aku hidup lebih baik layaknya seorang manusia.
"Kakak." Tangis Anggi semakin pecah. "Kakak." Dia memelukku kian erat seolah menyalurkan rasa sakitnya lewat pelukan tersebut.
__ADS_1
Aku hanya bisa mengusap punggung Anggi. Sudah kubayangkan, bagaimana kehidupan nantinya setelah aku kemoterapi. Tetapi bagaimana dengan bayi dalam kandunganku? Walau Dokter Novi mengatakan bahwa ibu hamil masih bisa melakukan kemoterapi. Tetapi bagaimana jika hal itu malah membuat aku kehilangan anakku? Aku tidak bisa, dia adalah segalanya. Dia adalah denyut nadi di setiap jantungku berdebar dalam waktu lama.
"Kakak, jangan tinggalkan aku dan Mas Angga, Kak. Kami tidak bisa tanpa Kakak."
Sementara Kak Galaksi duduk dan menatap kami dengan sendu. Selama ini dia yang paling banyak membantu dan berkorban atas semua penyakit yang menggerogoti tubuhku.
"Anggi." Aku melepaskan pelukan Anggi. Kuseka air matanya. Dia sudah seperti adik kandungku sendiri.
"Jika nanti, Kakak pergi. Kamu tolong jaga Mas Angga dan bayi Kakak ya. Kakak minta maaf jika nanti tidak bisa bertahan hidup lebih lama. Kakak menyayangi kalian." Air mata bergelinding membahasi pipi.
Aku tersenyum simpul mendengar ucapan Anggi. Setidaknya di saat seperti ini, aku masih berarti di mata orang lain.
"Terima kasih, Anggi. Kamu sudah menerima Kakak apa adanya," sahutku.
__ADS_1
Jika boleh meminta aku ingin hidup lebih lama agar bisa melihat anakku tumbuh dewasa. Namun, kenapa rasa sakit ini seperti menginginkan tubuhku berhenti bekerja? Kenapa rasa sakit ini menyiksa tubuhku dan seolah memintaku berhenti berjuang atas kehidupan yang begitu berat ini.
"Arin, setelah ini cek ke rumah sakit, ya? Kamu harus menjalani beberapa pemeriksaan sebelum kemoterapi. Sel kanker dalam tubuh kamu sudah menyebar. Saya takut ini berpengaruh pada janin kamu."
Tidak, aku tidak mau jika hal tersebut justru membahagiakan anak yang ku jaga dengan susah payah. Aku tak bisa kehilangan anakku. Dia adalah alasan kenapa aku bertahan.
"Kak, tolong selamatkan bayiku. Aku rela kehilangan hidupku agar dia bertahan di dunia ini. Tolong aku, Kak. Aku mohon."
Aku akan melakukan apa saja hanya untuk melihat senyum anakku. Walau mungkin aku akan menjadi orang yang paling menyedihkan segalanya. Sedetik saja aku ingin bahagia meski itu terdengar sesuatu yang mustahil.
"Kamu tenang saja. Saya akan melakukan yang terbaik untuk kamu dan janin dalam kandungan kamu." Kak Galaksi merengkuh tubuh lemahku masuk ke dalam pelukannya.
Tuhan, masih pantaskah aku bersujud di kakiMu setelah apa yang sudah aku lakukan. Aku wanita kotor yang sudah hamil di luar nikah. Bahkan lelaki yang menghamiliku berada pada ujung kematian. Bolehkah, aku meminta waktu sebentar saja. Sebelum aku pergi, aku ingin melihat Mas Angga bangun dan melihat anak kami. Lalu, aku juga ingin Kak Naro tahu jika perasaanku mulai tumbuh di dalam dada untuknya.
__ADS_1
Bersambung...