
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
Aku mengeliat dibalik selimut tebal ini. Tunggu, kenapa perutku terasa berat? Aku membuka mataku. Hampir saja aku berteriak ketika melihat wajah Mas Dante tepat berada didepan wajahku. Aku hampir lupa kalau aku sudah menikah. Terlalu lama sendiri aku sampai lupa bahwa kemarin aku sudah dipersunting oleh seorang pengusaha tampan kaya raya. Mantan kakak ipar serta mantan boss ku.
Aku menggeleng tak percaya mengimbangi kekuatan Mas Dante semalam. Dia benar-benar bringas luar biasa. Untung saja aku bukan perawan coba kalau perawan sudah pasti tidak bisa berjalan pagi ini.
Tapi aku menikmati nya dan aku senang melayani suamiku. Sekarang dia adalah suamiku. Sekarang dia akan menemani hari-hari sulitku.
"Selamat pagi Sayang," sapanya dengan mata yang masih terpejam.
"Bangun Mas. Lepaskan dulu tangannya aku mau bangun," ucapku kesal.
"Masih pagi Sayang. Kenapa harus bangun pagi-pagi sih. Mas masih capek," sahutnya malah mengeratkan pelukan tangannya diatas perutku.
Aku terkekeh pelan. Usia Mas Dante denganku memang terpaut sangat jauh yakni empat belas tahun. Wajar saja jika dia sakit pinggang karena sudahlah.
"Makanya Mas, aku bilang apa satu ronde saja sudah cukup. Kamu sih mau nya lagi dan lagi. Sakit pinggang 'kan tuh," omel ku. Meski mengomel aku mengurut pinggang nya kasihan juga suamiku ini. Bagaimana pun dia adalah suamiku.
"Habisnya kamu enak sih Sayang," goda nya mengedipkan matanya jahil.
"Morning kiss dulu." Dia langsung melahap bibirku dan ******* serta menyesapnya.
Aku merenggut kesal. Lelaki ini suka sekali main sosor-sosor padalah aku belum siap.
Dia melepaskan panggutannya. Lalu mengusap bibirku yang basah akibat ulahnya. Kenapa lelaki ini tidak pernah puas juga?
"Sudah ahh Mas, aku mau bangun. Mau menyiapkan sarapan dan seragam sekolah anak-anak." Sial aku kan tidak memakai apapun. Meski pun pada suamiku sendiri aku tetap saja malu tanpa busana seperti ini.
Aku menarik selimut menutupi tubuh polosku. Wajahku merah merona. Apalagi mengingat adengan panas kami semalam membuatku malu saja.
"Kenapa Sayang?" Kening Mas Dante berkerut heran.
"Ehem, Mas itu anu-anu." Sial kenapa aku gugup begini?
Mas Dante terkekeh seperti nya dia tahu kalau aku sedang berusaha menutupi tubuh polosku. Dia turun dari ranjang. Aku segera menutup wajah ku, apalagi asset berharga nya terlihat berdiri. Kenapa lelaki ini tidak malu.
"Mas." Aku terkejut saat Mas Dante membungkus tubuhku dengan selimut lalu mengangkat ku.
"Mas."
"Kenapa Sayang?" Dia terkekeh.
"Mas aku malu."
"Kenapa harus malu? Mas kan udah suami kamu. Biar Mas memandikan mu yaa?" Ujarnya terkekeh sambil menuju kamar mandi
"Mas tidak terbalik. Harusnya istri yang melayani suami?" Ucapku heran. Selama ini memang selalu aku yang melayani Mas Galvin jadi jika aku menikah yang kedua kali ini dan Mas Dante yang melayani aku, bukankah ini sesuatu yang luar biasa?
"Tidak ada hukumnya begitu, Sayang. Suami juga bisa melayani istri. Kita saling melengkapi yaaa?" Sahut nya.
__ADS_1
Hatiku menghangat mendengar ucapan Mas Dante. Rasanya aku ingin lompat-lompat saking bahagianya mendapat ucapan tersebut dari lelaki ku. Kenapa aku seperti anak remaja yang baru jatuh cinta saja?
Mas Dante mendudukkanku diatas wastafel. Untung saja badanku ini kecil jadi duduk dimana saja tidak akan merusak.
"Tunggu sebentar ya Sayang. Mas isi buth up nya dulu."
Aku menggangguk sambil tersenyum. Mas Dante tidak malu sama sekali tanpa busana seperti itu. Malah aku malu.
"Sini Mas buka selimut nya."
"Mas aku malu." Rasanya aku ingin menyembunyikan wajah ku
"Kenapa harus malu Sayang? Mas sudah lihat semuanya kok. Sudah merasakan nya juga." Dia tersenyum jahil.
"Mas." Bolehkah aku kabur saja?
"Tidak usah malu.'
Dia melepaskan selimut itu dari tubuhku. Ahh rasanya aku malu sekali. Tunggu kenapa banyak tanda-tanda merah begini? Ini pasti ulah Mas Dante. Ahhh aku malu pada anak-anak, pasti mereka heran melihat leherku yang merah-merah.
.
.
.
.
"Leher Mommy kenapa?" Tanya Tata memperhatikan leherku. "Digigit nyamuk, Mom?" Tanyanya polos.
"Iya, Ma. Itu kenapa?" sambung Nara.
Sementara Naro melirik sekilas lalu fokus pada makanan nya. Dia seperti orang dewasa yang sudah paham saja
"Ehem lanjut makan, Sayang. Leher Momny tidak apa-apa," sahut Mas Dante.
Aku merenggut kesal. Malam pertama saja seganas ini bagaimana malam nanti? Mas Dante pasti lebih buas dan sialnya kenapa aku menikmati permainan nya itu?
Aku menyiapkan bekal untuk mereka berempat. Bekal yang aku buat dengan cinta.
"Mas, sini aku perbaiki dulu dasinya."
Tubuh Mas Dante ini sangat tinggi dan besar jika dibandingkan dengan tubuh kecil dan ramping ku seperti Marsha and The Bear saja.
Mas Dante malah memeluk pinggang ku hingga menempel didada nya. Lelaki ini selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Mas malu ada anak-anak," renggek ku
Nara, Naro dan Tata melihat kami berdua secara bergantian pasti dalam hatinya bertanya-tanya, ada apa dengan kami?
"Mas kerja ya Sayang. Kamu hati-hati di rumah. Jangan kemana-mana. Nanti Mama datang untuk menemani kamu dan siang Mas pulang, Mas pengen makan siang dirumah. Kamu jangan capek-capek," pesan nya tak lupa kecupan hangat dan singkat itu mendarat di keningku.
"Iya Mas juga hati-hati." Aku mengecup punggung tangan nya.
__ADS_1
"Naro, sini Nak. Mamaperbaiki dulu bajunya."
"Nara juga, Ma."
"Tata, Ma."
Aku memperbaiki dasi anak-anak ku secara bergantian. Pagi ini indah dan cerah sekali. Hari pertama aku menikah meninggalkan kesan yang baik. Semoga akhir dari cerita ini tetap bahagia.
"Kalian hati-hati ya Nak. Semangat sekolah nya. Jangan lupa bekal nya," pesanku.
"Iya Ma." Nara dan Naro memberikan ciuman di pipi ku.
"Mommy," renggek Tata yang juga mencium pipiku.
Aku mengantar mereka itu sampai di teras depan.
"Sayang Mas berangkat."
"Iya Mas."
Aku melambaikan tangan saat mobil Mas Dante melaju meninggalkan rumah mewah kami.
Aku tersenyum bahagia. Ini adalah impian ku dari dulu. Menjadi Ibu rumah tangga. Mengantar anak dan suami bekerja serta menunggu mereka didepan pintu. Menyiapkan makan malam dan begitu seterusnya.
Walau dulu aku pernah mendapatkan gelar ini, namun pernikahan ku hancur ketika suami yang ku cintai sepenuh hati. Malah membawa orang ketiga untuk menghancurkan kebahagiaan diri.
Aku bernafas lega. Tak bisa ku pungkiri kasih Tuhan sungguh tak ada batas nya. Saat aku merasa tak tahu arah dan jalan pulang tapi Tuhan memberiku rumah hingga aku berada dititik ini.
Aku masuk kedalam rumah kami. Mas Dante memperkerjakan tiga asisten rumah tangga yang berasal dari kampung. Mereka juga tinggal disini bersama kami. Tapi kalau masalah urusan perut tetap aku yang turun tangan. Aku tak akan membiarkan suami dan anak ku kelaparan.
Aku juga tak lagi bekerja seperti dulu, kini aku hanya fokus mengurus anak dan suami. Tugas ku adalah seorang istri dan ibu yang akan membimbing suami dan anak ku nantinya. Aku mencintai peran ku dan aku tak ingin kehilangan status ini.
"Bik, tolong nanti belikan ini ya," suruhku.
"Ohh iya, Bu."
**Bersambung....
Selamat siang menjelang sore guys...
Sekali lagi author ucapkan banyak terima kasih buat kalian semua...
Makasih buat komen nya..
Makasih buat like nya....
Makasih buat gifts nya....
Jangan lupa follow aku medsos author ya...
FB : Fitriani Yuri Kwon
IG : _fitrianiyurikwon_
__ADS_1
TikTok: @fitrianiyuri