Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 05. Tata Story 02.


__ADS_3

"Mas, aku mau bicara sama kamu," ucapku sambil duduk di bibir ranjang. Suamiku masih sibuk dengan ponsel di tangannya. Entah siapa yang dia hubungi malam-malam seperti ini. Dia tampak bahagia terlihat dari raut wajahnya.


"Mau bicara apa?" Mas Gevan meletakan ponselnya.


"Kok kamu perhatian banget sama Mbak Queen?" tanyaku tanpa takut. Aku ini tipe orang penasaran yang tidak bisa menahan rasa yang membuncah dalam dadaku.


"Kamu kenapa sih? Harusnya kamu itu bersyukur kalau Mas perhatian sama saudara kamu," ucap Mas Gevan geleng-geleng kepala. Merasa bahwa apa yang aku tanyakan tak pantas dia jawab.


"Mas, istri mana yang tidak cemburu kalau suaminya perhatian sama wanita lain?" ujarku malas. Kami sebelumnya tidak pernah berdebat soal perasaan. Selama ini Mas Gevan selalu menjadi suami terbaikku. Memperhatikan aku dan Lala serta selalu meluangkan waktu untuk kami berdua.


"Kamu itu aneh!" ujar Mas Gevan malah berbaring.


"Aneh bagaimana sih, Mas?" Keningku mengerut heran. Memangnya salah kalau aku protes jika suamiku lebih perhatian sama wanita lain daripada sama aku?


"Sudahlah mending kamu tidur. Aku besok pagi ada jadwal operasi." Mas Gevan mematikan lampu kamar kami hingga remang-remang terlihat.


Aku menghembuskan napas kasar. Semoga rumah tanggaku baik-baik saja. Aku tidak mau seperti Kak Nara dan Kak Naro yang hampir gagal dalam rumah tangga mereka.


"Selamat tidur, Mas."


Aku menaikan selimut suamiku lalu mengecup keningnya singkat seperti kebiasaan setiap malam. Ada yang berbeda dengan Mas Gevan malam ini. Biasanya dia akan memeluk tubuhku erat sebelum terlelap. Kami tidur saling berpelukan dan berbagai kehangatan satu sama lain. Namun, malam ini seperti ada sesuatu tak biasa yang dia sembunyikan.


Aku berbaring di sampingnya. Mas Gevan memunggungiku, baru kali ini dia tidur tanpa menatap wajahku. Huh, kenapa hatiku mulai ketat ketar ketir tidak nyaman. Aku berharap tidak ada sesuatu yang di sembunyikan oleh suamiku.


Aku tak bisa tidur semalaman, apalagi mendengar penjelasan Lala tadi serta melihat sendiri bagaimana perlakuan manis suamiku pada Mbak Queen.

__ADS_1


"Huffh."


Aku terbangun karena tidak bisa tidur. Kebiasaan tengah malam aku suka minum air. Aku turun dari ranjang dan menuju dapur. Langkah kakiku terhenti ketika melihat Mbak Queen yang juga ada di dapur.


"Mbak," panggilku.


"Eh, Ta." Dia tampak terkejut melihat kedatanganku.


Aku memperhatikan pakaian Mbak Queen. Dua bukit kembarnya terekspos ketika dia memakai bra yang ukurannya lebih kecil. Apalagi celana yang sependek itu. Walau di tutup dengan kimono tetap saja bentuknya terlihat. Aku yang perempuan saja sampai gagal fokus, apalagi yang laki-laki.


"Aku mau minum, Mbak," jawabku.


"Oh silakan, Ta." Dia bergeser dan memberiku ruang suapya bisa mengambil air minum.


"Bagaimana ceritanya Mbak hampir di perkosa?" tanyaku penasaran sebenarnya dengan kejadian tadi sore. Apakah benar begitu kenyataannya? Melihat penampilan Mbak Queen memang meyakinkan.


"Mbak takut banget, Ta. Tadi itu Mbak lagi jalan, terus ada dua preman yang mengejar Mbak. Untung ada Gevan yang bantu," jelasnya.


Saat menyebut nama suamiku. Wajahnya tampak sumringah dan ada nada bahagia dari ucapannya tersebut.


"Kok bisa kebetulan ya Mas Gevan menolong Mbak?" tanyaku penasaran. Aku tipe orang yang tak puas jika belum menemukan jawaban dari pertanyaan yang terngiang di dalam kepalaku.


"Iya, Ta. Mbak juga tidak tahu." Dia menyeka air matanya. Tetapi tidak kulihat pipinya basah, apa wanita ini pura-pura menangis?


"Sudahlah jangan di pikirkan lagi, Mbak. Lain kali Mbak hati-hati. Jangan sering jalan sendiri," pesanku.

__ADS_1


"Maaf ya, Ta. Mbak jadi merepotkan kamu dan Gevan. Semoga Mbak cepat dapat kerja dan biar bisa sewa kontrakan," ucapnya mengenggam tanganku.


Sebenarnya aku ingin mengusir wanita ini dari rumah kami. Sebenarnya Kak Nara sudah memperingatkan agar tidak mengizinkan Mbak Queen di sini. Tetapi ke mana lagi dia tinggal? Di sini tidak ada keluarganya? Entah kenapa dia tidak mau tinggal bersama Om Reza dan Tante Henny.


"Tidak apa-apa, Mbak. Tapi kalau boleh Mbak secepatnya cari kerja. Aku takut nanti terjadi fitnah kalau Mbak terlalu lama tinggal di sini. Apalagi aku punya suami," ucapku blak-blakan. Sepertinya wanita ini memiliki bakat menghancurkan rumah tangga orang lain.


"Iya, Ta. Mbak akan usahakan secepatnya," sahut Mbak Queen.


"Iya, Mbak," balasku.


"Iya sudah Mbak masuk kamar dulu ya. Kamu istirahat saja," ucap Mbak Queen mengusap bahuku.


Aku membalas dengan anggukan. Lalu kutatap punggung Mbak Queen yang menjauh. Dia memang masih cantik dengan body bak gitar spanyol. Usianya sepuluh tahun lebih tua dariku. Walau begitu sama sekali tak mengurangi kadar kecantikan di wajahnya.


"Semoga saja Mbak Queen segera pindah."


Aku masuk kembali ke dalam kamar. Kuhela napas sepanjang mungkin ketika melihat suamiku yang terlelap. Aku tak ingin ada kecurigaan di antara kami. Aku ingin tetap bersama dia selamanya sampai maut memisahkan. Semoga saja kami benar-benar bahagia seperti Mas Bintang dan Kak Nara, kekal abdi dalam keabadian cinta.


Aku naik ke atas ranjang dan memeluk suamiku dari belakang. Tak bisa ku jelaskan dengan katakanlah betapa aku mencintai lelaki yang berstatus suamiku ini. Tutur bahasa yang lembut selalu membuatku candu untuk betah berada di sampingnya.


"Mas, semoga kamu tetap menjadi lelaki yang mencintaiku dalam segala keadaan. Aku berharap cinta kita tahan uji oleh hal apapun. Mungkin banyak yang akan menggoda dan membuat rumah tangga kita renggang. Tetapi aku percaya, kita dua orang yang sama-sama takut kehilangan."


Sebab aku tahu jika dua orang sama-sama saling mencintai dan menjaga. Dia akan takut kehilangan seseorang yang dia cinta. Oleh sebab itulah, jika Mas Gevan memang mencintai aku sebagai seorang istri. Dia tidak akan menduakan aku walau mungkin di luar sana ada banyak wanita yang menggodanya.


Sebab jatuh cinta adalah hal-hal yang tak selalu mampu disebut dengan kata. Terkadang hanya menjelma tatap mata dan degup di dada. Maka, kuserahkan saja segala kebekuan ini pada tatap matanya, pada rentang tangannya, pada obrolan-obrolan ringan yang kutahan agar tak cepat berlalu. Aku, telah bersusah payah mengutuk waktu menahannya dengan segala gemuruh di dadaku. Sesuatu yang akhirnya kusimpulkan sebagai rindu.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Mas. Tolong jangan berubah dan jangan buat aku seperti wanita yang kehilangan arah."


Bersambung...


__ADS_2