Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Obsesi atau cinta.


__ADS_3

Nara POV


Aku memang tidak sehebat dia dalam perkara melupakan. Tidak bisa bagiku secepat itu merelakan. Namun, aku percaya detik demi detik berlalu akan kubunuh semua detak yang masih menginginkannya. Akan kubenamkan dia lebih dalam di relung luka yang paling dalam. Aku tidak akan membiarkan sedetik pun untuknya bernafas tenang dalam kepalaku. Tidak ada tempat lagi untuk seseorang yang telah menyakiti hatiku. Hanya saja, aku butuh waktu, semuanya memang tidak mudah bagiku. Biarlah pelan-pelan semuanya berjalan. Karena pada akhirnya dia pun tak akan lagi ada dalam bagian yang aku inginkan.


"Bagaimana keadaan Ru?" tanya Kak Rimba pada Putri.


Saat ini kami sedang berada di ruangan rawat inap anak Putri. Kak Rimba memaksaku datang agar aku menonton adegan yang dia peragakan di depanku.


"Dia sudah sedikit membaik, Rim," sahut Putri.


Putri menatapku sinis seperti merasa menang karena sudah berhasil mendapatkan hati Kak Rimba atau berhasil menarik perhatian dari lelaki yang berstatus kekasihku tersebut.


"Kamu yang sabar ya, Putri. Jangan khawatir aku akan selalu untuk kalian berdua." Tangan Kak Rimba mengusap rambut Putri dengan lembut.


Hati siapa yang tidak akan luka ketika melihat kekasihnya bermesraan dengan wanita lain. Kekasih? Entahlah, apa dia kekasihku karena ketika aku meminta agar hubungan kami terputus dan di putuskan. Kak Rimba menolak dengan tegas.


Awalnya sifat Kak Rimba tidak terlihat, ketika pertama menjalin hubungan dia memperlakukan aku bak ratu di kerjaan cintanya. Namun, kedatangan Putri seakan menampakan sifat aslinya. Kak Rimba berubah drastis, tak hanya prosesif dan pengekang tetapi dia juga kasar. Pernah beberapa kali dia memukulku dan sampai Daddy melaporkan ke kepolisian. Namun, orang tua Kak Rimba yang memiliki kuasa itu secepat kilat bisa membeli hukum di negara ini.


Kadang aku heran, kenapa Kak Rimba tidak melepaskan aku jika memang dia tidak mencintaiku sama sekali? Aku tidak marah jika dia memang masih mencintai Putri. Aku akan melepaskannya dengan ikhlas dan lepas tangan. Namun, dia memenjarakan aku dalam kekuasaannya seolah aku adalah burung yang ingin dia kurung dan tak boleh kemana-mana.


Orang tua Kak Rimba yang dulu hangat dan peduli padaku. Namun, sekarang berubah bahkan dengan terang-terangan mereka mengatakan bahwa tak ingin aku menjadi menantu mereka. Hanya saja Kak Rimba menahanku untuk tetap bertahan. Walau pada akhirnya itu hanyalah rencana dia untuk mematahkan hatiku.


"Iya sudah. Aku pulang dulu ya."


Aku memalingkan wajahku kesembarangan arah saat Kak Rimba menancapkan ciuman di kening Putri. Teman? Apa iya teman semesra itu? Apa iya teman harus ada cara cium-cium segala?


Jari-jari tanganku mengepal kian kuat sambil mencengkram tapi tas yang ku pegang. Kugantungkan rasa sakit pada benda berbentuk kecil tersebut. Walau sangat kecil dan tipis tetapi berhasil membuat perasaanku sedikit membaik.

__ADS_1


"Ayo, Sayang," ajaknya merangkul bahuku.


Aku berjalan dengan tatapan hampa dan kosong. Lelaki ini, kenapa lelaki ini sangat jahat? Kenapa dia melakukan ini padaku? Apa salahku padanya? Hubungan kami baik-baik saja sejak kecil. Namun, saat aku kehilangan arah dan tujuan dia membawaku pada jalan gelap.


"Kak."


Aku berhenti sejenak. Lalu menatap matanya dengan buliran bening yang menetes di pipiku.


"Kenapa?" tanyanya menyeka air mataku.


"Apa kamu mencintaiku, Kak?" tanyaku. Bukan pertama kali tetapi sudah sering.


Dia tergelak, "Ayolah, Nara! Kenapa kamu terus bertanya pertanyaan yang sama? Apa kamu tidak bosan?" Dia tersenyum mengejek.


"Aku hanya ingin tahu, Kak. Aku lelah dengan hubungan kita," ucapku mengigit bibir bawahku menahan lelehan bening yang terasa memanas di kelopak mataku.


"Lalu Putri?" potongku.


"Dia masa laluku dan kamu masa depanku. Aku hanya kasihan pada anaknya. Itu saja." Aku tahu itu adalah ucapan sangkal dari bibirnya.


"Apakah kasihan harus mencium ibunya?"


Kak Rimba sontak terdiam. Dia menatapku dengan nyalang. Ada amarah terlihat jelas di matanya. Lalu dia mencengkram daguku dengan kuat.


"Kak, sakit," ringgisku.


"Kamu dengar, Nara! Apa kamu sadar bahwa selama ini kamu tidak pernah mencintai aku. Kamu itu masih mencintai Bintang. Tetapi bersikap akulah lelaki yang kamu cintai. Dan aku tidak akan biarkan kamu kembali pada Bintang lagi. Itulah sebabnya kenapa aku mengurungmu." Setelah berkata demikian dia menghempaskan daguku dengan kasar.

__ADS_1


Plak!


Satu tamparannya mendarat kembali di pipiku. Panas, sangat panas. Benda kecil itu berhasil membuat sudut bibirku berdarah. Bahkan aku bisa rasakan jika bekas jarinya menempel di pipiku.


Kami menjadi pusat perhatian di rumah sakit karena menciptakan keributan. Aku menunduk sambil mengusap pipiku dengan air mata yang berlinang. Kapan? Sampai kapan semua ini akan berlalu? Bagaimana caranya agar aku bisa lepas dari cengkraman lelaki ini?


"Kamu tidak berhak mengatur hidupku. Harus aku yang mengaturmu karena aku yang mencintaimu bukan kamu," tegasnya berbisik di telingaku.


"Ayo, cepat!"


Lalu dia menarik tanganku dengan kasar ketika semakin banyak orang yang mengawasi kami. Pipiku terasa perih, pasti luka akibat tamparan kuat dari Kak Rimba. Apa salahku yang tidak bisa mencintainya? Aku bukan tak bisa mencintainya tetapi sikapnya itulah yang membuatku tak bisa membuka hati.


"Masuk!"


Dia mendorongku masuk ke dalam mobil. Sifat lembut Kak Rimba benar-benar hilang. Dia sangat kasar dan tempramental. Tidak hanya itu aku tak bisa kemana-mana kalau tidak dengan dia. Bahkan di cafe pun aku sering di awasi.


Aku masuk sambil menahan perih di pipiku. Duduk dengan menatap lampu-lampu jalanan yang menerangi adalah pilihan yang membuatku merasa nyaman. Melamun dan pikiran kosong, kata orang-orang bisa kerasukan. Aku bahkan berharap kerasukan seperti yang orang-orang katakan agar aku bisa melupakan semua rasa sakit yang terasa mencengkram tersebut.


'Mas Bintang, aku kangen sama kamu, Mas. Kenapa aku mengingat hukum karma yang sering kamu katakan? Apakah sekarang aku juga sedang menerima karmaku karena dulu tak memberikan kamu kesempatan kedua.'


Aku hanya bisa bermonolog dalam hati sambil menjerit serta meraung menangisi semua kesakitan yang tak berada pada ujungnya. Kapan aku bahagia? Kapan? Aku juga ingin bahagia seperti wanita lain. Aku ingin di cintai oleh lelaki yang aku cintai. Apa aku benar-benar tak pantas untuk mendapatkan kebahagiaan?


"Pasti kamu sedang memikirkan mantan suamimu itu?"


Seperti memiliki indra ke-enam. Lelaki ini selalu tahu apa yang aku pikirkan walau hanya lewat gerakan tubuh atau kedipan mata.


"Jangan pernah memikirkan pria lain saat bersamaku, Nara. Aku tidak suka. Kamu itu milik aku. Hanya aku yang boleh kamu pikirkan," tegasnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2