Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Tolong.


__ADS_3

Dia dan hal-hal yang pernah kami lalui adalah alasan bagiku untuk menatap di dunia ini. Meski beberapa rencana seakan terancam sebagai kenangan belaka. Namun, hatiku tak pernah bisa kupungkiri. Aku tak pernah benar-benar beranjak dari segala sesuatu perihal dia. Segala yang pernah dengan sungguh kuimpikan. Sesuatu yang sampai saat ini masih kupertahankan. Masih ku perjuangkan.


"Mas, Bintang," gumamku. Tanpa sadar pelukanku di tangan Shaka terlepas.


Bagaimana mungkin aku bisa peghi, jika saja dia masih menjadi seseorang yang tinggal di hati. Otakh yang dengan segala kecemasan kubiarkan menetap di sana. Harapkan pun masih sama. Bisa menatap matanya berlama-lama. Bisa menjaga hatinya sepenuh jiwa. Dan tak ingin kemana-mana saat dia telah berkelana. Aku akan menemaninya bahkan dalam keadaaan terburuk yang dia punya. Namun, sayang semua angan itu telah hilang bersama dengan semua pengkhianatannya.


"Nara," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Kami saling menatap dalam waktu lama. Kerinduan demi kerinduan terlihat jelas di kelopak matanya. Tuhan, andai ada yang tahu betapa besar aku mencintai lelaki yang ada di depanku ini. Bahkan perasaan cintaku tak berubah sejak kami berpisah. Aku pernah mengatakan telah berhenti mencintainya. Aku pernah mengatakan bahwa aku tidak mencintai atau merindukannya lagi. Namun, aku sendiri berbohong dan mengingkari janji yang telah ku buat.


"Ada apa Mas ke sini?" tanyaku mengenggam kuat tangan Shaka seolah menyalurkan rasa sakitku melalui gengaman.


"Nara," panggil mendekat kearah aku dan Shaka.


Aku berlindung di balik tubuh Shaka. Bukan karena aku takut pada Mas Bintang. Aku hanya takut rindu ini semakin dalam ketika melihatnya. Bukannya benci, aku malah ingin memeluknya dan mengatakan bahwa aku rindu dan sangat rindu.


Seseorang yang pernah ada tidak akan bisa dihilangkan begitu saja kecuali hilang ingatan. Tanpa di sadari tidak ada manusia yang benar-benar tumbuh tanpa seseorang di masa lalu. Mau tidak mau, kehilangan adalah salah satu hal yang membuat manusia belajar menerima kenyataan. Aku memahami hal itu. Sesuatu yang membuatku tidak bdgniag membenci. Sesekali aku ingin mengutarakan kepadanya. Bahwa rindu yang menggembang di dalam dada adalah sebuah pembuktian bahwa aku masih sangat dan sungguh mencintai dia. Walau untuk kembali bersama adalah sebuah ketidakmungkinan.


"Mas, mau apa?" tanyaku.


"Aku ingin berbicara denganmu," ucapnya pelan dengan mata yang tak lepas memandangku.


"Bicara apa?" tanyaku dingin.


"Kak," panggil Shaka.


"Iya, Shaka?"


"Bicaralah sama Mas Bintang," ucap Shaka lembut.

__ADS_1


"Tapi_"


"Shaka sudah lapar, Kak. Kalau menunggu Kakak berlindung di belakang Shaka nanti pingsan bagaimana?" celetuk adikku Shaka.


Aku merenggut kesal dan menatap Shaka malas. Sedangkan adikku hanya terkekeh pelan, walau aku tahu begitulah cara dia menenangkan kakaknya yang tengah patah hati.


Aku tentu sama sekali tidak menyesali apapun yang terjadi. Hanya sedikit merasa iba. Kenapa kami harus berakhir dengan saling menyakiti seperti ini?


Aku duduk di kursi depan Mas Bintang. Sedangkan dia masih menatapku dengan intens. Entah apa maksud dan tujuannya datang ke sini lagi? Bukankah selama ini kami sudah baik-baik saja dan memilih jalan hidup sendiri.


"Mau bicara apa, Mas?" tanyaku.


Ribuan kali mengatakan benci dan tak ingin mencintainya lagi. Aku tetaplah seseorang yang tak bisa lepas dari perasaan cinta. Hingga kini aku tak pernah benar-benar melupakan Mas Bintang. Aku bahkan selalu merindukan sosoknya walau dulu dia tak pernah baik padaku. Bahkan dengan tega membawa orang lain di hubungan rumah tangga kami.


"Apa aku boleh minta tolong?" pintanya.


Penampilan mantan suamiku sangat berantakan. Jika dulu dia selalu tampil berkarisma dengan senyuman manis yang membuatku tak bisa berpaling hingga kini. Maka sekarang penampilannya hancur dan berantakan. Rambut acak-acakan dengan pakaian yang kusut mata panda dan bau alkohol. Seumur hidup Mas Bintang tidak pernah menyentuh barang itu dan bahkan baginya barang itu adalah benda terharam. Apalagi dia seorang dokter yang tentunya menjaga kesehatan.


"Ini tentang Bee," sahutnya.


"Bee?" ulangku.


"Iya. Aku mau minta tolong temui dia sebentar saja," pintanya sembari menangkup kedua tangannya di dada dan seolah pertolonganku benar-benar penting.


Perihal aku yang masih sesekali membahasnya di kepalaku. Kupikir jalnitu yang wajar saja. Aku tidak bisa memungkiri, hal-hal yang pernah ada, sesekali datang sebagai tamu belaka. Sungguh tak mengapa, ini hanya perihal ingatan uajh melintas di kepala. Sesaat lagi juga aku akan kembali lupa.


Semoga saja dia benar-benar berhasil melupakan aku, walau aku tak berharap itu benar adanya. Seperti aku yang ternyata kini baik-baik saja tanpanya, walau aku tak tahu akan seperti apa setelah ini. Aku sudah berada di fase; ternyata kehilangannya tak semenakutkan yang aku pikirkan dulu. Semua yang pernah terasa begitu sakit, kini sudah kembali sembuh dan membuatku bersiap bangkit.


"Ada apa dengan Bee, Mas?" tanyaku.

__ADS_1


Jika menyangkut Bee aku tak bisa abai. Sebab Bee sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Apalagi dia dan Tata memiliki beberapa persamaan.


"Bee....." Dia menghela nafas panjang.


"Cepat katakan, Mas. Apa yang terjadi pada Bes?!" desakku.


"Bee hamil."


.


.


Aku selalu percaya, tak ada hal yang abadi dari kesedihan. Atau dari hal apapun itu. Yang ada hanyalah orang-orang yang bertahan bersama sepanjang usia mereka. Dan, itu bukan sebuah keabadian. Itu adalah usaha untuk mempertahankan kesepakatan.


Begitu juga dengan aku dan Mas Bintang. Setelah banyaknya lika-liku permasalahan dalam rumah tangga kami, perpisahan seolah jawaban dari masalah yang kami hadapi.


"Apa dia bertanggung jawab, Mas?" tanyaku.


"Entahlah, aku sedang berusaha mencari keberadaan mereka. Aku tak habis pikir bagaimana Bee bisa tergoda dengan pria itu." Terdengar helaan nafas panjang.


Mas Bintang mengatakan bahwa pria yang menghamili Bee adalah pria yang sama dengan ayah bayi dalam kandungan Mona, Ikmal. Dokter Ikmal dia pernah datang di acara pernikahan kami kala itu. Tetapi aku tak melihat dia dekat dengan Bee.


"Bagaimana ini bisa terjadi, Mas? Bee masih muda kenapa bisa menjalin hubungan dengan pria tua seperti Dokter Ikmal?" tanyaku setengah tak percaya.


Bee seusia dengan Tata dan bahkan mereka berkuliah di kampus yang sama. Mereka berdua juga dekat bahkan sebelum aku dan Mas Bintang memutuskan dijodohkan dan menikah.


"Ini yang mau di cari tahu, karena sejak Bee mengatakan dirinya hamil. Dia tidak mau keluar dari kamar dan terus mengurung diri," jelas Mas Bintang terlihat frustasi. "Ayah syok, sampai serangan jantung dan sekarang di rawat di rumah sakit. Sedangkan Bunda terus melamun dengan tatapan kosong. Keluargaku hancur, Ra," ungkap Mas Bintang dengan mata berkaca-kaca. Setetes butiran bening itu mengalir di pipi tampannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2