
"Rimba," panggil Putri menatap lelaki itu dengan sendu.
Rimba duduk dengan tatapan kosong. Saat ini mereka berdua duduk di bangku tamu.
"Ada apa kamu datang ke sini?" tanya Rimba dingin. Dia menyesal karena sudah termakan dengan omongan Putri dan akhirnya hal tersebut membuat dia harus kehilangan sosok wanita yang dia cintai.
"Maafkan aku, Rimba," ucap Putri dengan perasaan bersalahnya. "Aku yang sudah membuat kamu kehilangan Nara," tukasnya lagi. Mata putri berkaca-kaca melihat Rimba yang tampak dingin padanya.
"Aku mencintaimu, Rimba," aku Putri.
Namun, Rimba sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan wanita yang ada di depannya ini. Dia seperti kehilangan rasa dan simpati pada Putri. Jujur saja dia tidak memiliki perasaan sama sekali, dia benar-benar tulus menolong Putri. Tetapi Rimba tidak tahu bahwa sikapnya yang tidak tegas tersebut membuat dia harus kehilangan Nara wanita yang paling dia cintai.
"Sebentar lagi kamu keluar dari penjara. Tolong kasih aku satu kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita yang dulu." Putri mengenggam tangan Rimba yang terletak di atas meja.
"Maaf, aku tidak bisa," tolak Rimba menarik tangannya.
Iya, sebentar lagi dia akan keluar dari penjara. Hukuman yang sudah di vonis kan padanya telah habis masa dan waktunya. Setelah ini Rimba akan pergi jauh dan menata kehidupannya. Dia tidak akan mengganggu Nara lagi, baginya melihat wanita itu bahagia lebih dari cukup.
"Tapi_"
"Kamu sudah berhancurkan aku, Putri. Jangan harap kamu bisa mendapatkan kesempatan lagi untuk kembali sama aku. Aku menerima pengkhianatanmu, tetapi aku tidak bisa lupa bahwa kamu lah yang membuat aku kehilangan Nara."
Hati Putri terasa teriris sakit ketika mendengar ucapan Rimba yang terasa menusuk dadanya. Dia menunduk malu. Sekarang, dia benar-benar kehilangan Rimba dalam hidupnya. Pada siapa lagi dia harus mengadu masalah putri kecilnya yang sangat butuh sosok seorang ayah.
"Maaf." Putri menunduk.
"Aku harap kamu tidak menganggu Nara lagi," ucap Rimba memperingatkan.
"Baik."
Putri mengangguk. Dia tidak akan pernah juga menganggu kehidupan Nara. Nyatanya hukum karma itu benar-benar berlaku.
__ADS_1
"Sekarang kamu boleh pergi. Aku ingin sendiri," usir Rimba.
Putri berdiri dari duduknya. Dia seka air matanya dengan kasar. Hilang, hancur dan tak berbentuk. Semua kenangan yang pernah dia lewati bersama lelaki tersebut takkan pernah dia dapatkan lagi. Dia benar-benar harus melepaskan cinta yang dulu pernah memilikinya dengan baik.
"Aku pamit. Semoga kamu bahagia." Wanita itu mengusap bahu Rimba, lalu melenggang pergi.
Rimba tak membalas. Sudahlah, semua rasa sakit telah menjadikan dia sadar. Bahwa jika mencintai seseorang tidak perlu meminta pendapat orang lain.
"Ayo, Nak," ajak seorang wanita paruh baya.
Rimba mengangguk dan mengikuti kedua orang tua nya. Lelaki itu berhenti sejenak lalu menoleh kearah gedung yang telah menjadi tempat tinggalnya dalam tiga tahun. Disanalah dia menemukan arti kehidupan dan ikhlas. Selama tiga tahun mendekam di sana, tak pernah sehari pun Nara hilang dari pikirannya.
Rimba masuk ke dalam mobil. Hari ini dirinya di bebaskan dari tempat menjijikan tersebut. Namun, menjadi tempat yang akan dia kenang sepanjang masa. Di mana tempat tersebut telah berhasil membuatnya melupakan Nara dan menjalani kehidupannya lebih baik.
"Setelah ini kita akan kembali ke Amerika. Nanti kamu akan urus perusahaan Papa yang ada di sana. Sedangkan perusahaan kamu yang ada di sini akan di urus oleh Rio," jelas sang ayah melirik anak lelakinya tersebut.
Rimba sama sekali tak peduli masalah bisnis dan perusahaan. Dia seperti tak butuh harta tersebut. Baginya, sekarang adalah bagaimana caranya agar dia hidup bahagia.
"Iya, Nak." Sang yang duduk di bangku depan lalu menoleh dan mengusap lengan anaknya tersebut.
"Selamat berpisah, Nara. Kini aku ikhlas melepasmu bersama Bintang. Aku harap kamu benar-benar bahagia. Maaf untuk semua hal yang telah aku lakukan padamu. Aku pamit, sampai bertemu di titik terbaik menurut takdir."
.
.
"Mas." Nara meletakkan secangkir kopi di depan suaminya.
"Terima kasih, Sayang." Tak lupa Bintang mengecup kening Nara.
Bintang mengangkut cangkir tersebut dan menyesap isinya. Kopi buatan sang istri selalu membuatnya kecanduan. Pas di lidah.
__ADS_1
"Mas, bagaimana? Apa Mas sudah mempertimbangkan untuk membebaskan hukuman pada Dokter Ikmal?" tanya Nara.
Terdengar helaan napas panjang dari mulut lelaki tersebut. Dia tidak tahu harus bagaimana. Jujur dia kasihan melihat keponakannya yang tanpa seorang ayah tersebut. Tetapi apakah harus Ikmal yang menjadi suami adiknya nanti? Yang Bintang takutkan, saat Ikmal sudah bahagia bersama Bee. Nanti Mona malah datang dan menganggu kehidupan rumah tangga adiknya.
"Bee juga terlihat sepertinya mencintai Dokter Ikmal," ucap Nara.
"Sayang." Bintang tampak mendesah. "Bukan Mas tidak ingin Bee bahagia. Mas hanya takut saat Bee dan Ikmal nanti hidup bahagia lalu datang Mona menganggu. Kamu tahu sendiri 'kan Mona seperti apa orang nya?" ucap Bintang.
Bee mengangguk dan dia tersenyum. Dia genggam tangan sang suami.
"Kalau Ikmal dan Bee saling mencintai. Mereka pasti bisa melewati masalah apapun yang menghadapi. Lagian Dokter Ikmal sudah mengakui kalau anak Mona bukan darah dagingnya. Jadi, tidak ada alasan bagi Mona menganggu Bee dan Dokter Ikmal," jelas Nara lagi.
Bintang masih tetap saja ragu. Bagaimanapun dia menyayangi Bee dan tidak mau jika adiknya itu salah memilih pasangan hidup.
"Mas. Kakak."
Bee tampak berjalan dengan tangan yang menggandeng tangan putri kecilnya yang berusia tiga tahun.
"Bee," sapa Nara dengan senyum.
Bee menyalami tangan kedua kakaknya tersebut.
"Lala, main sama Oma dulu ya. Mama mau bicara sama Ayah dan Bunda," ucap Bee.
"Iya, Mama." Gadis kecil itu menurut lalu berlari kearah taman menghampiri Senja yang tampak bermain dengan putra kecil Bintang dan Nara.
"Bagaimana, Bee?" Bintang menatap adiknya.
"Bee mencintai Kak Ikmal, Mas. Bee juga kasihan sama Lala yang selalu bertanya di mana papa-nya," jawab Bee jujur. Sejak dulu dia memang jatuh hati pada sahabat kakaknya tersebut. Namun, dia tak menyangka jika Ikmal tega memperkosanya.
"Bee, menikah bukan perkara yang mudah. Sebaiknya kamu pikirkan baik-baik. Kalau kamu salah pilih pasangan, kamu akan menyesal seumur hidup," tutur Bintang mengingatkan adiknya tersebut. Sebab dia ingin Bee bahagia.
__ADS_1
"Mas tahu kamu ingin Lala bahagia. Tetapi kamu juga harus pikirkan diri kamu sendiri, apa kamu siap menerima laki-laki yang sudah menghancurkan masa depan kamu."
Bersambung...