Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Kekejaman takdir


__ADS_3

Bintang POV


Namun, pada hari yang tak pernah kuduga. Jam-jam yang kuanggap semua akan baik-baik saja. Kenyataan telah menghempaskan segalanya. Kenyataan hancurkan semua yang telah kubangun dengan sepenuh jiwa. Nara mengatakan padaku; izinkan aku mencintaimu, Mas. Dia ingin menjalani hidup dengan orang yang ternyata diam-diam telah memintanya menjadi bagian dari hidupnya. Ah, aku sempat berlari menjauh dari kenyataan. Menghabiskan hari-hari sedih di kota lain untuk membunuh waktu yang terasa pedih.


"Nara."


Air mata yang tak mampu kubendung inj keluar sesuka hati dan menunjukkan bahwa aku telah kalah dalam perjuangan cinta yang kami perjuangkan dengan susah payah.


"Nara, kenapa kamu meninggalkan aku?"


Aku duduk dengan tatapan kosong sembari bersandar di bibir ranjang dan duduk di lantai. Di tanganku terdapat botol wine yang sedari tadi aku sesap. Setelah pulang dari kantor pengadilan, aku berusaha mengejar Nara berharap cintanya akan berlabuh kembali padaku. Namun, ternyata apapun yang aku lakukan takkan membuat dia kembali ke dalam pelukku.


"Seandainya aku tidak pernah membawa Mona. Seandainya aku membuka hati untukmu, kita pasti akan bahagia," ungkapku penuh penyesalan. Aku telah kehilangan emas demi benda tak berharga.


Hidup terus berjalan beriringan dengan wajah yang sering kali menghadirkan ingatan. Banyak hal yang sudah berusaha dilupakan pun pada akhirnya bisa saja kembali datang, meningkat kembali luka-luka yang telah usang. Senyabyajg oetajh dibuang jauh seolah terlempar menjadi sangat dekat.


Aku memandangi lekat foto itu. Tanganku yang kekar merengkuh figura tersebut. Kupandangi sekali lagi foto itu dengan lekat. Kuhela nafas panjang, mataku berkaca-kaca. Terlihat jelas oleh semburat lampu, titik-titik air mata bergulir dari kerling air mataku yang indah. Foto pernikahan enam bulan yang lalu, entah kapan Bee mencetak dan meletakkan foto ini di kamarku? Awalnya aku menolak dan sempat membuang benda tersebut ke dalam tong sampah, tetapi siapa sangka jika kini aku merindukan seseorang yang menggandeng tanganku dalam foto ini.


"Kenapa kamu tidak memberikan aku kesempatan, Ra? Apa kamu tahu bahwa aku menyesal? Apa kamu tahu aku merasa bersalah dan tidak sanggup kehilangan kamu. Aku sungguh-sungguh mencintai kamu, walau sudah terlambat. Maafkan aku, Nara. Maafkan aku. Kalimat aku tidak bisa hidup tanpa kamu itu benar adanya, mungkin aku akan tetap hidup seperti biasa. Tetapi aku tidak memiliki tujuan. Sekarang aku tidak harus apa?"


Buliran bening saling bergulir betkeluaran dari dalam kelopak mataku dan membasahi pipi. Hancur, hancur berantakan. Kepingan-kepingan hati yang takkan mungkin kembali utuh seperti keadaan semula.

__ADS_1


"Nara, kamu adalah sumber kebahagiaanku. Setelah kamu pergi, aku bahkan tak tahu bagaimana caranya untuk bahagia."


Kuletakan foto tersebut di atas dadaku sambil menangis hebat. Hidupku hanya untuk menangis dan menangis. Memaksa seseorang yang telah pergi kembali bersamaku. Memaksa cinta yang takkan pernah aku miliki berlabuh dalam semu.


"Nara... Nara... Nara...."


Bolehkah aku merayu Tuhan agar mengembalikan Nara ke dalam pelukanku? Bolehkah aku memarahi takdir yang memisahkan aku dengan wanita yang aku cintai? Walau semua sudah terlambat.


"Son."


Bunda masuk ke dalam ruanganku. Dia berjalan pelan menghampiri aku yang duduk bersandar di bibir ranjang. Saat semua orang menyalahkan dan mengintrogasi aku. Bahkan Ayah saja masih enggan berbicara denganku setelah sidang perceraian itu.


"Bunda," renggekku.


Bunda membawa kepalaku berbaring di pangkuannya. Dia usap dengan lembut seperti mentransfer kekuatan.


"Bunda, Bintang tidak mau berpisah dengan Nara," ucapku. Aku menolak berpisah dengan Nara karena sekarang aku sangat mencintai dia.


Lama aku mencoba membuat semua kembali lebih baik. Aku ingin Nara berkata kita akan hidup bersama lagi. Namun, kenyataan mnua tidak semanis harapan, yang aku dapat hanya pahit yang mendekap. Nara tetap saja betah menjadi dirinya sendiri dan tak peduli. Aku berharap lelah dan melupakan nya. Namun, tetap tak bisa. Bayang-bayang senyumnya tak bisa hilang dari ingatanku. Aku ingin lupa ingatan, aku ingin menepi dan pergi sejauh mungkin. Tetapi kenapa rasanya sulit sekali melangkah pergi.


"Bunda, tahu ini berat untuk Bintang. Tapi Bintang tidak bisa menolak perpisahan ini, selain ikhlas."

__ADS_1


Aku tahu Bunda juga terluka saat kehilangan Nara. Sebab dia sangat menyanyangi Nara dan menganggap mantan istriku itu seperti anak kandungnya sendiri. Aku tahu Bunda juga kecewa atas perpisahan kami. Tetapi Bunda tak bisa berbuat apa-apa.


"Inilah hidup, Nak. Terkadang kita tidak bisa memaksa apa yang tidak tertakdir untuk kita," ucap Bunda mengusap kepalaku yang berbaring di pangkuannya. Di usia sedewasa ini, aku masih saja seperti anak kecil di mata Bunda.


"Kamu sudah melepaskan apa yang kamu genggam. Jangan menyalahkan dirimu, tidak ada sehelai rambut pun yang terjatuh tanpa seizin Tuhan. Sekarang, biarkan Nara bahagia. Biarkan dia menemukan kebahagiaannya."


"Jangan hidup dalam penyesalan. Mungkin kalian memang tidak tertakdir bersama. Tetapi bukan berarti tidak ada cinta untukmu. Bunda yakin, Son. Suatu saat nanti kamu akan menemukan wanita yang mampu membawa kamu menemukan terang."


Entahlah, setelah pengkhianatan Mona dan perpisahan dengan Nara, aku tak yakin bisa bahagia seperti yang Bunda katakan. Aku juga tak yakin dia jatuh cinta lagi setelah di patahkan cukup hebat. Rasanya aku trauma dalam hubungan.


"Bunda, tahu kamu mencintai Nara. Tetapi mulailah ikhlas atas perpisahan kalian. Bukankah cinta terbaik adalah ketika kita mampu melepaskan seseorang demi kebahagiaannya?"


Bisa kurasakan air mata Bunda yang jatuh di keningku. Ku tatap wajah ayu nan keriput itu. Walau usia Bunda tak muda lagi tetapi aura kecantikan di wajahnya seolah tak memudar oleh waktu.


"Bunda paham. Melepaskan seseorang yang pernah ada memang bukanlah hal mudah. Apalagi jika suatu saat kamu di pertemukan dengannya, perasaan rindu itu kian menyeruak masuk seolah egois ingin merebutnya kembali."


Air mataku kembali meleleh dengan deras. Aku sedang berada di fase ini. Bertemu dengan Nara tetapi aku tak bisa memeluknya. Aku merindukannya tetapi dia bukan milikku lagi. Aku ingin merebutnya tetapi apa hakku, sedangkan dia menatapku saja enggan.


"Bunda, bagaimana cara Bintang melupakan Nara? Bintang tidak bisa Bunda. Bintang sayang sama Nara. Bintang cinta sama Nara," aduku seraya merenggek berharap Bunda paham bahwa aku benar-benar tak bisa berpisah dari wanita yang entah sejak kapan masuk ke dalam hatiku itu?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2