
"Tata."
Aku menoleh ketika ada yang memanggil namaku. Aku terkejut ketika melihat Mbak Queen yang duduk di kursi roda dengan perban yang melingkar di kepalanya.
"Mbak Queen?" gumamku.
Seorang perawat mendorong kursi roda Mbak Queen agar mendekat ke arahku.
"Ada apa, Mbak?"
Rasa benci dan kecewa yang telah menjelma menjadi puing-puing dendam. Padahal aku sudah menganggap Mbak Queen sebagai saudara aku sendiri. Namun, dia malah tega menghancurkan kepercayaan yang aku bangun dengan susah payah. Mengajaknya tinggal di rumah kami dengan niat untuk berbuat baik. Tetapi, dia malah merebut suamiku.
"Mau apa lagi, Mbak?" tanyaku dingin.
Aku baru saja pulang dari pemakaman Lala dan berusaha menenangkan diri dengan segala hal yang kulewati saat ini. Berusaha mencari keberadaan hati yang seharusnya aku huni.
"Mbak minta maaf," ucapnya terdengar lirih.
Jika kata maaf bisa mengembalikan keluarga kecilku seperti dulu, mungkin aku akan memaafkan Mbak Queen. Namun, kata maaf itu seperti sudah tak berguna lagi dan percuma untuk dikeluarkan.
Aku hanya diam tak berniat mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirku. Rasanya lelah berbicara hal-hal yang sebenarnya tidak ingin aku bahas.
__ADS_1
"Mbak tahu apa yang sudah Mbak lakukan benar-benar membuat kamu kecewa," ucapnya lagi.
Wanita itu menunduk seketika. Dia mengusap perutnya yang rata. Terakhir kali pertemuan ku kemarin, perutnya masih membuncit dan besar, tetapi sekarang hanya petit rata saja.
"Mbak menyesal," sambungnya.
Aku duduk di bibir ranjang. Sementara Mbak Queen tidak jauh dari posisi aku duduk. Kupeluk foto keluarga yang masih utuh tersebut. Andai aku bisa kembali ke beberapa bulan yang lalu, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Aku ingin menjadi ibu rumah tangga yang utuh dan hanya mengurus anak dan suami. Menyiapkan bekal untuk mereka serta memeluk mereka saat pagi menyising tiba.
Kini semua telah berbeda dari hal yang pernah di sebut sebagai rencana. Aku telah memilih jalanku sendiri, walau tak ada yang menemani melewati semua ini. Kubiarkan semua menjauh, sebab apalah artinya mempertahankan sesuatu yang selalu membuat rapuh. Aku belajar pada kenyataan yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Aku mencari cara untuk memahami apa yang terjadi. Walau memang tak pernah sepenuh hati.
Kupikir semua ini rencana Tuhan karena dia ingin aku menjadi manusia yang lebih baik. Namun, ternyata ini memang jalan takdir yang harus aku lalui. Berat sekali rasanya berada di antara ketiga titik antara kemarin dan kehidupan yang tak pernah aku inginkan ada.
Ada beberapa hal dari jatuh cinta yang akhirnya membuat seseorang kewalahan. Memperjuangkan segara harapan sendirian, misalnya. Sesuatu yang seharusnya dihidupkan berdua, malah di hadapi sendiri. Hal semacam itulah yang pelan-pelan akan membunuh cinta. Meski beberapa cinta terlalu kuat, tetap bertahan meski sekarat. Beberapa lagi malah memilih mati daripada merana sendiri. Ada orang yang tahan banting hingga tetap bertahan meski berkali-kali perasaannya sedih berkeping-keping. Ada orang yang cinta buta, tak peduli betapa kali didusta tetapi tetap saja memilih percaya. Cinta kadang memang di luar logika, hanya bisa dimengerti oleh orang-orang gila. Orang-orang yang sedang jatuh di dalamnya.
"Kenapa Mbak harus menyesal? Bukankah ini yang Mbak inginkan, merebut Mas Gevan dan menghancurkan rumah tanggaku?" ucapku dan tak berniat menatap wajah wanita yang tampak sekarat dengan penampilannya yang sekarang. Aku dengar dari Kak Galaksi dan Auny jika Mbak Queen mengalami lumpuh permanen di bagian kakinya.
"Maafkan Mbak." Tangisnya terdengar dari arah dudukku. Namun, aku tak peduli sama sekali. Apapun yang dia jelaskan tidak akan bisa mengembalikan Mas Gevan dan Lala kembali ke dalam pelukanku.
Namun, dengan mantan suamiku tentu aku ingin menjalani hubungan yang baik. Meski jatuh tak bisa lepas dari rasa sakit, aku tetap bisa memilih lebih hati-hati. Agar tak mendadak luka tak mampu mengendalikan rasa. Agarbtak mudah gila karena mengabaikan logika. Perasaan yang tumbuh dan subur di dada. Biarlah mengutuh dengan segenap bahagia. Semua akan berjalan dengan semestinya, sebab harus percaya dengan cinta yang semesta.
"Kata maaf itu hanya percuma Mbak. Yang pergi tidak akan datang kembali. Yang hilang tidak akan muncul lagi. Hidupku hancur. Semua yang aku miliki hilang. Sekarang, aku sendirian. Aku kehilangan semua yang baik dalam hidup aku. Mas Gevan adalah cinta pertamaku, pria yang mencintaiku dengan sungguh. Walau pada kenyataannya dialah yang mematahkan hidupku dengan utuh."
__ADS_1
Tangis yang sedari tadi aku tahan kembali berderai membasahi pipi. Rasanya tak ada lagi di dunia ini yang bisa menjadi alasan aku tetap hidup bahagia. Jika air mata ini bisa jadi uang mungkin aku sudah mampu membeli pesawat saking banyaknya air mata yang keluar. Aku adalah wanita manja dan cenggeng. Terbiasa hidup dalam kemewahan membuatku canggung menghadapi semua ini.
"Aku sudah mengangga Mbak sebagai saudara aku sendiri. Tapi, apa yang Mbak lakukan? Mbak dengan tega merusak semua kebahagiaan yang aku miliki. Apa salahku, Mbak? Apa aku sungguh-sungguh salah di mata Mbak? Apa aku sungguh-sungguh manusia jahat di mata Mbak?" Aku menatapnya dengan benci. Aku sangat membencinya.
"Ta!" Mbak Queen juga menangis. "Maafkan Mbak. Mbak menyesal. Mbak menyesal, Ta. Kamu harus tahu jika Gevan sangat mencintai kamu."
Aku berdecih mendengar ucapannya. Jika memang Mas Gevan mencintaiku, harusnya dia tidak memasukan orang ketiga di dalam rumah tangga kami. Tetapi nyatanya, dia malah membiarkan luka di dada ini semakin mengangga.
"Mas Gevan tidak pernah mencintaiku. Jika dia mencintaiku, dia tidak mungkin berkhianat di belakangku," ucapku menatap wajah Mbak Queen.
"Semua salah Mbak yang menggoda Gevan," ucapnya.
Aku tertawa miris. Kalau memang cinta Mas Gevan sangat besar padaku, dia tidak akan mudah tergoda sekalipun digoda oleh wanita lainnya.
"Ta!" panggil Mbak Queen lagi. Perawat itu mendorong kursi roda Mbak Queen agar mendekat ke arahku.
Aku diam saja tanpa mau menoleh atau menjawab ucapannya. Rasa sakit di dalam dadaku telah menjelma menjadi kebencian.
Aku selalu percaya, tak ada hal yang abadi dari kesedihan. Atau dari hal apapun itu. Yang ada hanyalah orang-orang yang bertahan bersama sepanjang usia mereka. Dan, itu bukan sebuah keabadian. Itu adalah usaha mempertahankan kesepakatan. Sementara seseorang yang tak bisa menjaga kesempatan. Jadi, tidak ada lagi alasan untuk membiarkanmu betah di sini. Meski datang sesekali ke kepala, sungguh dadaku tak lagi membutuhkan rasa.
"Ini dari Gevan. Mbak menemukan ini di dalam kamarnya. Gevan sudah menyiapkan semuanya untuk kamu." Mbak Queen menyerahkan amplop besar berwarna coklat padaku.
__ADS_1