Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 04. Chapter 25.


__ADS_3

Aku duduk dengan tatapan kosong. Ditangannya memegang sebuah figura yang berisi foto seorang wanita cantik. Aku memegang figura itu dan menatapnya dengan lelehan bening yang mengalir di pipi.


Penampilanku berantakkan dan tak terurus. Rambut acak-acakan. Mata panda dan tubuh juga terlihat kurus.


"Kamu di mana, Arin? Aku rindu. Aku rindu masakan mu. Kamu di mana?" Sambil mengusap figura itu.


Aku meletakkan foto itu di atas dada Meresapi kejadian seseorang yang sudah menghilang beberapa bulan terakhir. Hilang. Pergi. Entah ke mana?


"Yang kamu katakan benar. Bahwa aku akan menyesal setelah kamu pergi dan hilang. Tapi bolehkah aku menyesal telah menyia-nyiakanmu? Aku tidak mencintaimu. Tapi kenapa aku merasa hidupku hampa sejak kamu pergi dari hidupku. Aku merasa hidupku benar-benar tak berarti," lirihku. Penyesalanku takkan menemukan akhir dari sebuah cerita. Toh semua sudah terlanjur menghempaskan tubuhku pada kenyataan yang sebenarnya.


Aku kembali menatap kosong keluar jendela kamar. Fatamorgana keindahan bintang-bintang yang bertaburan di langit malam. Mereka berjejer seperti sengaja mengolokku.


Rumah ini tampak sepi dan sunyi. Tak ada lagi wanita yang menyambutku setiap kali aku pulang dari tempat bekerja. Tak ada lagi senyuman manja dan manis yang memintaku agar mencicipi makanannya.


"Bintang, aku adalah suami yang jahat pada istri yang baik. Sekarang aku menyesal telah menyakiti istriku. Kini dia benar-benar pergi dan membuktikan kata-katanya tapi kenapa aku justru merasa separuh jiwaku pergi. Apakah aku sudah mulai mencintai istriku? Dan menyadari perasaan ku setelah dia hilang dan pergi meninggalkanku?"


Rindu yang tak menemukan titik temu. Perpisahan adalah bukti nyata bahwa tidak ada kebersamaan yang abadi di dunia ini. Rindu adalah tentang rasa yang tak bisa menyatu dipisahkan oleh jarang ruang dan waktu. Lalu bagaimana jika merindukan seseorang yang keberadaannya entah ke mana? Yang keberadaannya tersembunyi di dalam perut bumi. Rasanya rindu itu begitu menyiksa.


Aku memejamkan mata sejenak. Mengingat tangisan memohon istriku malam itu kembali membuat hatiku seperti dihantam oleh ribuan ton batu hingga membuat hatinya hancur tak berbentuk. Jahat, sangat jahat itulah diriku. Bahkan sekalipun aku melakukan banyak hal untuk istriku takkan bisa menebus semua dosa dan kesalahan yang telah aku lakukan.


"Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu. Tuhan berikan aku satu kesempatan untuk menembus semua kesalahanku. Aku berjanji akan membahagiakannya dan menjaganya seumur hidupku." Aku memegang dada menahan sesak yang mulai menyerang.


Aku sudah lelah menangis. Menangis sekuat apapun takkan membuat yang pergi datang kembali yang hilang muncul lagi. Jika boleh menyesal iya dia sangat menyesal. Sangat. Sangat menyesal. Tetapi apakah sekedar menyesal semua akan kembali seperti semula. Takkan bisa mengambil sesuatu yang hilang di dalam genggaman.


Aku berdiri dari dudukku. Aku mengusap wajah dengan kasar, lalu berjalan kearah ranjang tempat tidurnya. Dia merebahkan tubuhku lalu memeluk baju lusuh untuk mengobati segala kerinduan.


Aku berbaring di kamar istriku. Meresapi bau tubuhnya yang masih melekat di atas kasur tipis ini. Air mata sudah tak terbendung berapa banyak yang jatuh.

__ADS_1


"Kakak."


Aku melirik sekilas ke arah Shaka yang berjalan masuk ke dalam kamar. Aku tak peduli pada siapapun, aku hanya ingin bertemu dengan Ariana. Aku hanya ingin melihat wajah istriku. Aku ingin menemukannya dan mengatakan maaf.


"Sampai kapan Kakak akan seperti ini? Kakak harus berjuang menemukan Kak Arin."


Nyatanya aku tidak bisa membujuk Auny untuk mengatakan di mana Ariana. Dia seperti sengaja menyiksaku dengan penyesalan yang tak berujung.


"Kalau Kakak seperti ini terus? Kakak tidak akan bisa melihat Kak Arin lagi."


Bagaimana aku tak rapuh setelah mengetahui banyak hal yang benar-benar menghantam dadaku. Aku di siksa oleh semua rasa penyesalan yang mengingatkanku pada semua tentang Ariana.


"Kakak menyesal, Shaka," ucapku lirih dengan lelehan bening yang menetes di pipiku.


"Shaka tahu Kakak menyesal. Tetapi Kakak tidak bisa merenung terus tanpa berusaha. Ayo, Kak. Temukan Kak Arin!" desak Shaka.


Namun, kalaupun Ariana di temukan. Dia tidak akan memilihku karena Mas Angga sudah terbangun dari komanya. Aku tahu, betapa Ariana mencintai lelaki itu. Bahkan dulu dia sangat terlihat bermanja-manja pada Mas Angga.


"Kakak menyesal sudah menyakiti Arin," ucapku.


"Shaka tahu, Kak," sahut Shaka.


Aku sudah berusaha mencari keberadaan Ariana. Namun, sampai sekarang tak kutemukan dia mana keberadaannya. Dia hilang bak di telan bumi, bahkan jejaknya pun tak terlihat di atas tanah. Ke mana dia pergi? Apakah dia baik-baik saja? Apa dia masih bertahan hidup?


"Ayo, Kak. Bangkit!" Shaka mengulurkan tangan kearahku agar aku bangun.


Aku menyambut uluran tangan Shaka. Lalu menatap wajah adikku yang masih duduk di bangku kuliah ini.

__ADS_1


"Dulu, Mas Bintang juga berbuat salah dan menyia-nyiakan Kak Nara. Tetapi dia berjuang dan berusaha untuk mendapatkan maaf. Serta membuktikan bahwa dia menyesal dengan semua perbuatannya itu. Sekarang, Kakak bisa lihat! Mereka sudah hidup bahagia bersama," jelas Shaka yang seperti membuat aku sadar akan apa yang terjadi padaku selama ini.


"Tapi kesalahan Kakak sudah tidak bisa di maafkan," ucapku. Aku pesimis tidak akan bisa mendapatkan maaf dari Ariana. "Dan, Arin. Dia pasti merasa sakit setiap kali melihat Kakak," sambungku menunduk malu dengan semua perbuatanku.


"Kak, semua orang pernah bersalah dan semua itu orang berhak menerima kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya," ucap Shaka menguatkan aku.


"Ayo. Ada Daddy sama Mama di luar," ajak Shaka.


Aku mengangguk sembari menyeka air mataku dengan kasar. Lalu turun dari ranjang kec milik istriku. Beberapa waktu terakhir keluargaku memilih tinggal di sini dan menemani aku melewati semua kegundahan di dalam dada. Walau serasa sesak tetapi aku berusaha untuk kuat dan mampu melewati semua perasaan sakit yang terasa mencekik leher.


"Son."


"Ma."


Aku berhambur memeluk Mama. Meminta maaf pada wanita ini karena aku telah gagal menjaga istri pilihannya.


"Maafkan Naro, Ma. Maafkan Naro," ucapku penuh penyesalan.


Tangan rapuhnya terulur mengusap bahuku. Aku tahu dia kecewanya dan marah pada apa yang aku lakukan pada istriku sendiri. Namun, dia berusaha menahan perasaan agar tak menyakiti aku. Mama adalah wanita terbaik yang menegurku saat aku salah.


"Naro gagal menjaga Arin, Ma. Naro sudah menyia-nyiakan wanita sebaik dia."


Aku bisa rasakan air mata Mama yang jatuh di pipinya lalu mengenai bahuku hingga menyerap pada baju yang aku pakai.


"Naro cinta sama Arin, Ma."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2