
Aku merelakan semua hati lain pergi demi hari yang ingin ku buka. Aku tahu, Kak Rimba bukan seseorang yang layak menerima hati terbagi. Itulah sebabnya aku menyediakan diriku sepenuh hati untuk dia miliki. Jika belum cukup, kusediakan diriku seribu kali lagi.
"Enak tidak?" tanya Kak Rimba sesekali menyuapiku.
"Enak, Kak. Restaurant di sini memang pantas menerima predikat restaurant terenak," sahutku mengacungkan jempol.
"Begitu ya. Ini restaurant keluarga Putri," sahut Kak Rimba.
Aku langsung terhenti ketika hendak memasukan makanan itu ke dalam mulutku. Aku bukan tak suka Kak Rimba membahas putri tetapi bisakah di saat seperti ini jangan membahas orang lain. Aku sedang belajar membuka hati untuknya, jangan sampai aku ragu karena sikapnya.
"Oh." Aku hanya beroh-ria saja. "Bagaimana keadaan anak Kak Putri, Kak?" tanyaku.
Terdengar helaan nafas panjang, "Anaknya butuh banyak darah. Trombosit di dalam tubuhnya sudah memasuki syaraf," jelasnya.
Aku mengangguk paham. Selama ini aku tak pernah mau membahas apapun tentang Putri. Aku tidak marah, hanya saja sejak dia hadir di dalam hubungan kami sifat Kak Rimba jauh berbeda.
"Kak," panggilku menatap wajah lelaki yang sah menjadi kekasihku ini tetapi hatiku belum sepenuhnya milik Kak Rimba.
"Iya, Sayang. Kenapa?" tanyanya lembut.
"Apa Kakak masih cinta sama Kak Putri?"
Aku tak mau menanggung cinta yang tanggung. Kuserahkan seluruh tubuh, tabah, sepenuh hati dan jantung. Perasaan-perasaan sayang, segala yang bisa dia peluk sebagai kenang dan rumah untuk pulang. Aku, menyediakan untuknya sepenuh sisa kisah perjalananku. Aku ingin dia mendampingi di segala situasi. Di segala keinginan dan hal-hal yang kucari. Oleh sebab itulah aku tak mau main-main dalam hal perasaan. Sebab yang kucari bukan lagi kekasih hati. Tetapi pasangan sehidup semati.
Aku pernah gagal dalam hubungan rumah tangga karena keegoisan mantan suamiku untuk orang ketiga. Bagaimanapun, aku adalah wanita biasa yang mengharapkan bahagia. Wanita biasa yang ingin menikah lalu memiliki anak seperti wanita-wanita lainnya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Kak Rimba sambil terkekeh pelan. "Cemburu yaa?" godanya mencolek daguku.
Aku memaksan senyum. Walau aku belum mencintai Kak Rimba tetapi tetap saja aku merasa cemburu jika dia memilih perhatian pada orang lain daripada aku yang sah-sah kekasihnya.
"Jawab, Kak," desakku.
Kak Rimba tersenyum lalu menggenggam tanganku yang terletak di atas meja.
__ADS_1
"Ra, kalau Kakak punya perasaan sama Putri untuk apa Kakak jadikan kamu kekasih Kakak," jawabnya. "Kakak hanya membantu dia karena dia teman lama Kakak dan orang yang sebelumnya pernah Kakak cintai. Tetapi lepas dari itu Kakak sudah tidak memiliki perasaan apapun sama dia," tutur Kak Rimba menjelaskan dan berusaha menyakinkan aku agar aku tak perlu panik dengan kedekatannya dan putri.
"Tapi bagaimana kalau dia masih cinta sama, Kakak?" tanyaku sekali lagi.
Kak Rimba kembali tersenyum. Kini tangannya beralih pada kepalaku.
"Tidak mungkin dia masih cinta sama Kakak. Dia masih mencintai suaminya," ucap Kak Rimba lagi. Usapan lembut di kepalanya seolah aku adalah wanita satu-satunya yang dia cintai. Aku juga berharap seperti itu.
Aku tersenyum menatap nanar mata indah tersebut. Perlakukan Kak Rimba memang menjadikan aku seperti ratu. Semoga saja ini adalah ketulusan dari hatinya.
"Kalau begitu jadilah diriku yang kian hari kian belajar memahamimu. Hiduplah denganku yang kelak memohon kepadamu untuk menjadi seseorang yang kumiliki. Aku tak pandai menjabarkan kepingan bahagia, tetapi tak akan membiarkan kamu terluka. Aku tak mampu memastikan apapun di dunia ini memang. Namun, tak ada niat dan pikiran karenaulanku. Kuinginkan kamu dengan benar-benar perasaan yang benar, hanya kamu dan diriku saja. Aku memutuskan untuk belajar mencintaimu, Kak dan menjadikan kamu lelaki terakhir dalam hidupku. Tolong jangan patahkan hatiku seperti orang yang ada di masa laluku," ucapku panjang lebar sembari memohon. Jujur sepenuh hati jiwa dan ragaku belum percaya sepenuhnya dengan Kak Rimba.
"Gombal banget sih, belajar dari siapa?" Dia menarik hidungku dengan gemas.
"Iya, Kakak berj_"
Drt drt drt drt
Ucapannya terpotong saat mendengar suara dering ponsel yang bergetar di atas meja. Kulirik sekilas nama yang tertera di sana, Putri. Aku heran setiap kali kami bersama Putri selalu menelepon.
Aku mengangguk dan membiarkan dia mengangkat teleponnya. Barangkali penting.
Dia menyimpan ponselnya dan tampak menghela nafas panjang.
"Kenapa, Kak?" tanyaku.
"Anak Putri membutuhkan banyak darah. Sementara di bank darah sudah habis. Ra, maaf ya. Sepertinya makan malam kita cukup sampai di sini, Kakak harus ke rumah sakit untuk membantu Putri mencari pendonor darah," ucap Kak Rimba memasang jas di tubuhnya.
"Memangnya Putri tidak punya keluarga, Kak?" protesku. Siapa yang tak protes jika kekasih lebih peduli pada sahabatnya sendiri.
Kak Rimba menggeleng, "Orang tua Putri masih di Jakarta. Mungkin Minggu depan baru pulang ke Pontianak," jelas Kak Rimba.
"Kak, aku ikut," pintaku.
__ADS_1
Aku ingin tahu bagaimana kondisi anak Putri, agar aku paham dan tidak salah paham pada Kak Rimba.
Aku adalah wanita trauma akan masa lalu, jujur aku sedikit posesif. Walau belum mencintai kekasihku ini. Aku hanya ingin menjaga apa yang sudah menjadi milikku.
"Iya, sudah. Ayo."
Kak Rimba menggandeng tanganku. Kenapa tak kurasakan sentuhan hangat sedikitpun? Aku malah merasa hambar dan kosong.
Kami masuk ke dalam mobil. Tidak seperti dulu, biasanya Kak Rimba membuka pintu mobil agar aku masuk. Ternyata benar kata perempuan ahli cinta, lelaki akan memperlakukan wanita seperti ratu di saat dia ingin mendapatkan hati wanita tersebut. Namun, setelah wanita itu jatuh ke dalam pelukannya dia seperti tak peduli.
"Anak Putri sakit parah banget ya, Kak?" tanyaku.
"Iya, Ra."
Kulihat Kak Rimba duduk dengan gelisah dan sesekali dia menekan klakson mobil agar kendaraan yang di depannya berjalan cepat. Maklum malam Minggu banyak anak muda yang menghabiskan malam dengan pasangan sehingga memenuhi jalan dan menciptakan kemacetan.
Aku terdiam dan tersenyum kecut. Kupegang dadaku merasakan sakit yang menjalar. Aku tak tahu kenapa aku bisa cemburu ketika Kak Rimba sangat memperhatikan Putri.
"Kamu kenapa diam?" tanyanya melirikku.
"Tidak apa-apa, Kak," kilahku yang tak mau ketahuan bahwa aku sedang kecewa.
Kami sampai di rumah sakit. Ini adalah rumah sakit milik mantan suamiku, yaitu Mas Bintang.
Kami keluar dari mobil dan Kak Rimba berjalan dengan tergesa-gesa tanpa menyadari aku yang tertinggal jauh.
Aku menghela nafas panjang. Lalu mengekor Kak Rimba dengan langkah gontai.
Kak rimba berjalan sangat cepat bahkan langkah kakiku tak mampu mengimbanginya. Aku berjalan menyusuri koridor rumah sakit dan masuk ke dalam lift.
"Kakak panik banget?"
"Ra, tolong jangan ajak Kakak bicara dulu. Kakak sedang serius."
__ADS_1
Deg
Bersambung....